Pasutri Miskin, 6 Tahun Serumah Penderita Gangguan Jiwa

Rajumat

SIMEULUE (RA) – Keluarga miskin Pasangan Suami Isteri (Pasutri), Mak Jasa (85) dan Farida (75), warga Desa Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, hidup serumah dan merawat Rajumat (35), yang mengalami gangguan jiwa.

Anak bungsu dari delapan bersaudara itu sudah enam tahun menderita sakit gangguan jiwa itu dan sekitar 10 kali dilarikan untuk dirawat ke rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD) Kabupaten Simeulue, serta ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh, namun tidak kunjung sembuh.

Pasutri ini berprofesi jualan keliling sapu lidi berpenghasilan tidak menentu, terkadang hanya laku terjual, dalam satu hari sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000 per hari untuk biaya hidup dan merawat anak bungsunya dari 8 ?bersaudara.

“Anak bungsu saya ini, entah apa awal penyebabnya sakit seperti ini, padahal sebelumnya kondisi anak saya sehat, dan pandai mencari rezeki.

Dia sakit sejak ia pulang merantau dari Sumatra Utara, entah apa yang terkena dia dari sana, dan anak saya ada 8 orang, kakak dan abangnya sudah menikah semua, tinggal kami bertiga dalam rumah ini,” kata Mak Jasa dan Farida kepada Harian Rakyat Aceh, Rabu (6/11).

Masih menurut orang tua Rajumat, meskipun telah berulang kali dirawat di rumah sakit, termasuk upaya pengobatan secara tradisional, namun tidak kunjung sembuh bahkan semakin tidak terkendali dan prilakunya semakin buruk, sehingga kerap mengganggu dan pemukul orang termasuk kepada kedua orang tuanya.

Sehingga supaya tidak mengganggu dan melakukan kekerasan terhadap orang lain, anak bungsunya itu tidak dipasung, namun di isolasi dengan memamfaatkan kamar rumahnya dengan ukuran sekitar 3×3 meter berdinding beton, pada pintu dan jendela dipasang jeruji dari kayu ukuran 5×5 cm dan ditutupi dengan seng bekas.

Baca Juga...  GAP Umuslim Bireuen Serahkan Bibir Pohon Kepada Korban Banjir

“Supaya tidak mengganggu dan memukul orang lain, terpaksa anak saya ini, kami tempatkan dikamar dan pintu maupun jendelanya kami pasang kayu dan seng, padahal rumah yang kami tempati ini, merupakan dari hasil kerja dia pada masa masih sehat dan belum sakit.

Kami berharap ada perhatian dari siapapun untuk kesembuhan anak saya, sebab kami memang miskin dan biaya hidup kami dari jualan sapu lidi keliling” imbuh Farida ibu kandung Rajumat, seraya menghapus air matanya.

?Amatan Harian Rakyat, kondisi kamar Rajumat sangat memperihatinkan. Selain atapnya bocor karena dilempar orang lain dengan batu, lantai semen beralaskan tikar plastik, terlihat jorok, bau, juga sangat sempit. Semua kegiatannya dilakukan didalam kamar isolasi itu, dari kegiatan tidur, makan, juga buang air besar dan kecil dilakukan ditempat yang sama, sehingga dibutuhkan perhatian dari semua pihak.

dr Farhan, Dirut RSUD Simeulue ?yang dihubungi Harian Rakyat Aceh, Rabu (6/11), menyebutkan setiap pasien gangguan jiwa yang dirawat secara medis itu, hanya sebatas rawatan hingga kembali ke prilaku normal atau prilaku tidak melakukan kekerasan, dan apabila penyakitnya kembali kambuh setelah dikembalikan ke lingkungannya, maka pengawasannya wewenang Dinas kesehatan dan Pukesmas setempat.

“Secara medis, RSUD Simeulue hanya merawat hingga prilakunya kembali normal atau tidak melakukan kekerasan fisik di lingkungannya, dan apabila setelah dirawa dan dikembalikan kelingkungannya itu, penyakit gangguan jiwanya kambuh lagi?, itu wewenangnya petugas kesehatan dan petugas pukesmas setempat, sebab rumah sakit kita hanya menerima rujukan,” tegas Farhan. (ahi/min).