Potret Kemiskinan di Negeri Emas dan Batubara

Keluarga Mustafa di gubuk megahnya. DENI SARTIKA/RAKYAT ACEH

MEULABOH (RA) – Diusia senjanya, Mustafa (60) masih belum memiliki tempat tinggal yang layak bagi keluarganya. Ia hanya mampu membahagiakan Kartini (45) dan anaknya Santi (4) dengan menetap di gubuk reot ukuran 3X4 meter, di Desa Alue Meuganda, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat.

Kondisi kehidupan Mustafa sangat memprihatikan. Gubuk ukuran 4 kali 3 meter digunakan sebagai kamar, dapur dan ruang tamu. Sungguh sangat tidak layak untuk dihuni sebuah keluarga. “Tapi mau bilang apa lagi, pendapatan saya dari hasil kerja serabutan tidak mampu membahagiakan istri dan anak dengan bergelimang harta.

Untuk menutupi kebutuhan makan saja, kadang masih kurang,” ucapnya, dengan nada pasrah.

Pendapatan Mustafa dari pekerjaan serabutan, tentu kurang memadai, lantaran tidak rutin memperoleh panggilan orang yang membutuhkan jasa tenaganya.

“Tapi kalau ada orang yang panggil suruh bersihkan kebun, deres sawit dan karet saja, saya pasti bahagia karena mampu membeli ikan dan bawa pulang ke rumah,” ucapnya bahagia.

Meskipun demikian, Kartini dan anaknya Santi tetap tidak pernah mengeluh dengan kondisi yang dilalui. Walaupun mereka menetap di gubuk ukuran 3-4 meter dengan hanya mengandalkan penerangan lampu teplok dan juga tanpa bantuan peralatan elektronik.

Melalui kehidupan serba kekurangan demikian, Mustafa masih bisa bersyukur, lantaran masih ada orang ‘baik hati’ yang memberikan ijin baginya membangun istana gubuk ukuran 3-4 meter, berteduh dari panas matahari, hujan dan terpaan dingin angin malam.
“Sudah tiga tahun saya tinggal di Desa Meuganda ini, Alhamdulillah nyaman, meskipun jauh dari keramaian orang,” sebutnya.

Letak kediaman gubuk megah Mustafa, dari pusat Desa Meuganda berjarak sekitar 3 kilometer. Untuk tiba di sana harus melalui lorong samping SMPN 3 Woyla Timur, dengan kondisi jalan masih bebatuan dan menanjak.

Setiap pekan, pada hari Jum’at, Mustafa selalu menyempatkan diri untuk turun ke pusat desa. Tujuannya untuk menjual beberapa tandan buah pisang segar yang dipetik di kebun agar bisa membeli beras dan bahan makanan.

“Seminggu sekali turun ke bawah untuk beli beras dan persediaan bahan makanan di rumah, sebelum membeli saya jual pisang dulu dan jualan apa yang bisa dipetik di kebun biar bisa beli bahan makanan untuk anak dan istri,” ungkap Mustafa.

Dahulu, Mustafa menetap di sebuah pengunungan, rumah bekas kantor transmigrasi yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempatnya sekarang menetap. “Rumah dulu sudah lapuk termakan usia, makanya saya terpaksa pindah ke tempat ini,” ungkapnya.

Ketua KNPI Aceh Barat, Muhammadi, tiba-tiba Rabu (6/11) berkunjung di kediaman Mustafa dengan membawa paket bantuan sembako. Usai memberikan bantuan, ia memberikan semangat bagi Mustafa untuk terus berjuang menafkahi istri dan anaknya.

Sepulang dari kediaman Mustafa, Muhammadi akan datang ke kantor desa untuk menanyakan apakah Mustafa terdaftar sebagai penerima PKH, Ranstra dan juga akan memperjuangkannya terdaftar sebagai penerima bantuan rumah Duafa. “Ini PR bagi saya yang akan saya kerjakan. Bang Mustafa sangat layak memperoleh seluruh bantuan dari program pemerintah,” tuturnya. (den)