Muaythay Aceh Layangkan Protes ke PB MI dan Menpora

Keabsahan Atlet Jatim di Bengkulu

Banda Aceh (RA) Pengprov Muaythay Aceh terus melayangkan protes ke PB Muaythay Indonesia dan Menpora soal keabsahan atlet Jatim di Porwil X Bengkulu 1 – 8 Nopember 2019.

‘Protes sudah kita sampailan pada saat sebelum pertandingan terkait status mutasi atlet Jatim yang memperkuat tuan rumah Bengkulu’, ujar pelatih Muaythay Aceh Syarwan Saleh, usai tiba di Banda Aceh, Minggu (10/11).

Kata Syarwan atlet Jatim yang diduga ‘bermasalah’ itu adalah Novita dimana ia memperoleh
wild card di kelas wycry dan 43 kg. Ia bermain di dua kelas berbeda. Padahal dalam technical meeting ia dimainkan normal seperti kelas lain. Dan anehnya lagi Novita pun tidak melakukan timbang badan di kelas 43.

Sebelumnya dalam jadwal dan bagan pertandingan kelas tersebut, juga tidak ada nama Novita mengatasnamakan atlit tuan rumah Bengkulu termasuk pada saat penyerahan medali di kelas tersebut namanya tidak ada dipanggil namanya. Akhirnya yang juara I (emas) Riau, dan Perak atasnama Desi (Aceh).

‘Kita minta baik wild card agar dibatalkan karena dinilai tidak sah”, apalagi mereka tidak ada rekomendasi apapun dari KONI Jatim’, tegas Syarwan.

Syarwan menyebut satu lagi atas nama Mutaqin mantan atlet pelatnas Sea Games asal Jatim. Atlet tersebut kita layangkan protes karena juga tak tetdaftar

Dalam surat Pemprov KONI Jatim sampai saat ini belum ada izin dari mereka. Karena atlet tersebut dua orang merupakan atlet pelatnas Sea Games dan masih tercatat atas nama Jatim. Bukti lain yakni pemulangan atlet Sea Games yang tidak diberangkatkan dan mereka masih tercatat atasnama Jatim di bulan Oktober 2019.

Protes lainnya kata Syarwan adalah atlet asal Banten Zainuddin 54 kg ia atlet profesional MMA yang memperkuat Lampung. Berdasarkan THB PB MI atlet tersebut tidak dibenarkan main di Porwil.

Hasil keputusan Sekjen atlet tersebut belum ada izin bertanding oleh PB MI. Lalu secara otomatis dalam THB medali emasnya menjadi milik Aceh yang merupakan emas 5 dari Muaythay Aceh atas nama Yukai Prihatin dan perak untuk Riau.

‘Pengprov Muaythay Aceh berharap ada keputusan yang adil dan bijak dari PB MI dan Menpora karena kami tidak ingin olahraga ditanah air menjadi rusak hanya ingin mencari juara sesaat dan tentunya merugikan atlet daerah sendiri’, demikian Syarwan. (imj)