Teuku Muhammad Ichsan/ istimewa.

Tampil Baik pada Debutnya Bersama Timnas Senior

BANDA ACEH (RA) – Aceh nyaris tak pernah kekurangan stok pemain untuk bermain di tim nasional (timnas) Indonesia. Di era galatama misalnya, gelandang kreatif kelahiran Lhokseumawe, Fakhri Husaini menjadi tulang punggung garuda dari 1986 hingga 1997.

Sebelas tahun di timnas, prestasi terbaiknya adalah meraih mendali perak di SEA Games 1997 di Jakarta, Indonesia.

Di era sepakbola kontemporer, talenta Aceh juga masih memperkuat timnas. Seperti Ismed Sofyan memulai debutnya di timnas U-17 tahun 1996 dan berlanjut ke jenjang senior sampai tahun 2007.

Setelah itu, pemain Aceh banyak mendapatkan panggilan seleksi timnas (khususnya) di kelompok umur. Ada yang gugur, pun ada yang terpilih. Sebut saja beberapa nama populer, Zulfiandi, Sandi, Miftahul, Fauzan, Almanar dan masih banyak lainnya.

Terakhir hanya Zulfiandi yang terbilang menjadi langganan di timnas (senior). Ia bahkan disebut-sebut merupakan anak kesayangan eks pelatih timnas Indonesia asal asal Spanyol, Luis Mila.

Saat timnas diasuh pelatih baru, Simon Mcmenemy, pelatih yang akrab disapa ‘Cole’ itu juga mendapatkan panggilan. Sayang, posisinya tak se-inti dulu. Tampaknya ia bukan type pemain yang disukai Simon.

Dalam sengkarut kepelatihan Simon hingga ia dipecat, Indonesia melakukan persiapan untuk laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia, menghadapi musuh bebuyutan, Malaysia.

Timnas dipegang ‘carateker’ Yeyen Tumena. Nama Zulfiandi tak dipanggil ke timnas. Publik Aceh sontak agak terkejut. Namun, ada anak Aceh lain yang dipanggil timnas, ia adalah gelandang Bhayangkara FC, TM Ichsan.

Hasilnya sebagaimana sudah diketahui bersama, ‘Garuda’ takluk 2-0 dari ‘Harimau Malaya’. Di luar kalah-menang, ada tiga nama yang mencuat dan viral dibahas oleh publik (netizen). Mereka adalah Yanto Basna, Osas Saha dan TM Ichsan. Dua nama awal, dibahas karena blunder serta kegagalan mengeksekusi pinalti. Sedangkan Ichsan, dibincangkan karena tampil menawan.

Apresiasi terhadap dirinya oleh pecinta timnas yang heboh di jagat media sosial, amat disyukuri TM Ichsan. Baginya hal tersebut menjadi dorongan untuk terus tampil lebih baik.

Sepanjang pertandingan, terutama di babak pertama, gelandang berpostur mungil ini tampil militan dan enjoy. Membalikkan sangkaan publik yang mulanya agak menganggap remeh.

Trupas akurat, passing sederhana, pergerakan, dan ‘fighting’ dalam perebutan bola di lini tengah, merupakan hal yang Ichsan suguhkan. Atas debut perdananya di timnas melawan Malaysia, ia begitu bahagia.

Kepada jurnalis Harian Rakyat Aceh Ichsan Maulana, dalam edisi spesial tanya jawab (T&J), ia bercerita banyak hal, Selasa (20/11).

1. Bagaimana perasaannya setelah melakukan debut perdana bersama timnas senior?
*Pastinya bersyukur atas debut saya dan pembuktian saya yang dicoret di timnas U-23. Itu sangat membuat saya termotivasi.

2. Berapa kali sudah mendapatkan panggilan timnas?
*Timnas U-19 yang di-baned, seleski timnas U-23, timnas U-22. Timnas senior, yang terpilih U-19 dan senior/

3. Apakah ada kisah menarik tentang mimpi Ichsan ke Timnas?
*Kisah menariknya ya saya dicoret di timnas U-23, hal ini membuat saya sangat termotivasi di setiap pertandingan untuk mendapatkan panggilan timnas senior dan alhamdulillah saya mendapatkannya.

4. Sebelum dipanggil ke Timnas, akhir-akhir ini Ichsan kerap menjadi starter di Bhayangkara FC, apa resepnya? Boleh tahu, kenapa dulu sempat jarang bermain, karena cedera kah?
*Setelah Simon melatih timnas, pertengahan musim 2018 saya cidera, harus operasi. Awal 2019 saya belum sembuh 100 persen, dengan pelatih Alfredo Vera. Pertengahan musim ini saya telah fit dan pelatih diganti dengan Paul Muster, alhamdulillah saya mengambil kesempatan dari dia.

5. Komentarnya tentang Coach Yeyen Tumewu di mata Ichsan?
*Coach Yeyen yang menemukan saya dari kecil, yang membawa Ichsan ke timnas junior dan tim Bhayangkara FC. Coach Yeyen sudah sangat mengenal karakter Ichsan. Dia adalah pelatih yang sangat jeli dan sangat transparan. Seharusnya kita mempunyai pelatih-pelatih seperti Coach Yeyen yang selalu jujur.

6. TM Ichsan bisa menjadi pengganti orang Aceh, Zulfiandi di lini tengah. Apa tanggapannya, adakah beban tersendiri?
*Kalau untuk masalah beban sih tidak, saya ganti peran Zulfiandi cuma sebuah kebetulan, karena ke depan mungkin bisa saja kami akan duet di tengah dengannya, gak ada yang tahu ke depannya. Saya teman baik dengan Zulfiandi.

7. Selain orang tua, siapa orang yang paling berjasa dalam perjalanan sepakbola Ichsan? Adakah pelatih lokal kita di Bireuen atau siapa lainnya.
*Ada, namanya (panggilan) Cek Kuma, pelatih SSB Brata, Reulet (Bireuen). Dan pastinya kalau dukungan orang tua, keluarga saya 1000’persen bg, ini semua dari mareka.

9. Juara Liga 1 sudah, mendapatkan kesempatan bermain reguler di Bhayangkara FC juga sudah, timnas juga sudah, apa target berikutnya?
*Target terus bisa konsisten begini terus bg itu target utama tetap konsisten di team agar peluang di teamnaa tetap terjaga untuk pribadi saya.

Penampilan menawan TM Ichsan pada debutnya, setidaknya telah sedikit banyak menyembuhkan duka orang Aceh atas hilangnya Zulfiandi dari lini tengah timnas. Untuk diketahui, kedua pemain tersebut berasal dari kabupaten yang sama, Bireuen.

Meski Zulfiandi mengidolakan Busquets, tapi cara ia bermain, oleh orang-orang mengingatkannya pada lagenda sepakbola Argentina, Redondo. Sebaliknya, entah mengapa cara Ichsan berlari, sedikit banyak seolah-olah mirip dengan tipikal gelandang Spanyol dan Bayern Muenchen, Alcantara.

Bersama Bhayangkara FC, TM Ichsan sudah meraih juara Liga 1 tahun 2017. Saat itu tim berjuluk The Guardian meraih total 68 poin dari 34 pertandingan. Di luar itu, Cek Kuma adalah salah seorang yang mendedikasikan hidupnya untuk sepakbola, khususnya Bireuen. Selain sebagai pelatih, ia juga tak sungkan menjadi donatur kepada para pemain.

Tangan dinginnya telah melahirkan banyak pemain dari Bireuen yang mampu mengharumkan nama kabupaten, di ajang PORA, Porwil, dsb. Hingga para bermain bertumbuh berdiaspora ke banyak klub baik kasta tertinggi seperti Zulfiandi dan Ichsan, maupun pada kompetisi turunannya, Liga 2 maupun Liga 3. (icm/bai)

Profil Pemain
Nama: Teuku Muhammad Ichsan
Tempat tanggal lahir: Bireuen, 27 November 1997
Klub: Bhayangkara FC
Posisi: Gelandang
Prestasi: Juara Liga 1 (2017)