Kapolresta Banda Aceh Kombes Trisno Riyanto menujukan barang bukti uang Rp5.000 kepada wartawan di Mapolresta, Rabu (27/11/). (amar/rakyat aceh)

Diiming-imingi Rp5.000

BANDA ACEH (RA) – Seorang guru kontrak di sebuah sekolah dasar (SD) di Banda Aceh ditangkap karena diduga mencabuli siswinya. Pelaku SU (33) melakukan aksinya dengan modus menyuruh korban menghafal kitab.

Pria berusia 39 tahun itu diketahui selama dua bulan mengajar, telah mencabuli enam orang muridnya.

“Korban dilecehkan dan dicabuli di sekolah saat sang guru menyuruh mereka menghafal kitab,” kata kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Trisno Riyanto kepada wartawan di Mapolresta, Rabu (27/11/)

Selain itu, kata Trisno pelaku juga diketahui sudah beristri dan baru dua bulan bekerja sebagai guru kontrak di SD tersebut.

Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Trisno Riyanto didampingi Kasat Reskrim AKP M. Taufik mengatakan, perlakuan tidak senonoh tersebut dilakukan oleh pelaku terhadap enam siswinya berinisial IR (8) ; NJ (9) ; AQ (9) ; PN (12) ; NJ (9) ; dan SQA (10).

Bukan hanya itu, saat melancarkan aksi bejatnya, kata Trisno, pelaku mengatakan kepada korban untuk tidak memberitahukan kepada orang tuanya.

“Korban diberikan uang Rp5.000. Kepada korban yang lain juga pelaku menggunakan modus yang sama di tempat yang sama namun pada hari yang berbeda,” jelasnya.

Kasus ini terungkap, lanjut Trisno, setelah seorang korban melapor kepada orang tuannya telah dicabuli.

“Tidak terima dengan hal tersebut orang tua korban pun langsung melaporkan pelaku,” kata Trisno.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya pelaku diherat pasal 82 ayat (2) dan (3) UU RI No 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 35 tahun 2014 dan UU RI Nomor 17 tahun 2016.

“Minimal ancaman penjara 5 tahun dan maksimal 15 tahun, karena pelaku merupakan seorang guru maka hukumannya akan ditambah 1/3 dari hukuman pokok” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh Jailani Yusti mengatakan perisriwa tersebut sangat membuat trauma dunia pendidikan dan ia menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak kepolisian.

“kita sangat mengutuk kejadian itu dan kita beri kewenangan kepada penegak hukum. kalau memang terbukti, maka sanksinya pecat dan siapa agar tidak bermain-main dengan yang melanggar hukum, “tuturnya.

Jailani juga berujar pemulihan mental anak harus menjadi perhatian bersama, bagaimana nantinya anak menjadi terlindungi “Saya pikir perlu kecerdasan lain terutama para guru di sekolah untuk melihat perilaku dan faktor pencegahan sangat penting kedepan, ” ujarnya. (mag-82/min)