Ilustrasi (Ist)

 

Banda Aceh (RA) Aceh menjadi pintu masuk narkoba dari luar negeri. Dari data di BNNP Aceh tahun 2019 ada puluhan pelabuhan kecil (sungai atau muara) sebagai jalur masuk melalui laut.

Karena itulah dengan berbagai operasi yang dilakukan aparat BNN dan BNNP justru beberapa kasus besar berhasil diungkap baik barang bukti beserta pelakunya.

Inilah kondisi akhir tahun 2019 terkait kinerja dan masih perlunya keberadaan lembaga anti narkoba di tanah air.

Sebagaimana disampaikan
Saifullah Kabid Pemuda Dispora Aceh, ia mengatakan di Aceh sangat dibutuhkan BNNP. Dan, tidak ada alasan BNN dibubarkan kalau dilihat dengan maraknya narkoba sudah yang sudah sangat parah.

Sedangkan BNN mereka tugas dan fungsinya menangkap pengedar dan pemakai narkoba dan langsung bertanggung jawab kepada presiden. Lebih tegas lagi bagi pengedar jika kedapatan dan melawan langsung ditembak.

Ia menilai salah satu terus dibuat acara oleh Pemerintah Aceh terkait bahaya narkoba dengan program ‘Aceh Teuga’. Karena memang dinilai sudah sangat darurat dan semua golongan masyarakat ada yang tertangkap.

Maka tugas kita semua untuk memback up lembaga BNN dan instansi Polri yang sama-sama menindak dan menangkap pelaku kemudian diserahkan ke jaksa untuk penuntutan lalu merekapun dibina di lembaga pemasyarakatan.

Menurutnya dibentuknya lembaga BNN justru dapat membantu tugas kepolisian dalam memberantas narkoba di tanah air. ‘Jadi lembaga ini perlu dipertahankan’, ungkap Saiful.

Selama satu dekade, BNNP Aceh telah melakukan upaya pembinaan terhadap pemakai dan merawat mereka yang sakit.

Selain itu, empat daerah di Aceh telah dibuka yakni Aceh Besar, Bireuen, Bener Meriah dan Gayo Lues dengan tanaman alternatif sebagai pengganti tanaman ganja masing-masing luas sekitar 30 hektar.

Ini sudah berjalan dan mendapat sambutan baik dari Bupati dan masyarakat setempat, kata mantan Kepala BNNP Aceh Faisal Abdul Naser beberapa waktu lalu. (imj)