34 Karya Budaya Aceh Masuk Warisan Tak Benda Indonesia

Tari Guel, satu dari 34 karya budaya Provinsi Aceh yang diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Penampilan penari saat car free day di Banda Aceh, 13 Oktober 2019 lalu. (al amin/rakyat aceh)

BANDA ACEH (RA) – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Jamaluddin mengatakan hingga saat ini sudah 34 karya budaya di provinsi setempat diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

“Alhamdulillah pada tahun 2019 Aceh kembali menerima empat pengakuan warisan tak benda Indonesia yakni memek kuliner khas dari pulau Simeulue, Gutel kuliner khas Aceh Tengah dan Tari Sining dari etnis Gayo di Aceh Tengah serta Silat Pelintau dari Kabupaten Aceh Tamiang,” katanya di Banda Aceh, Sabtu (30/11) malam.

Di sela-sela pertunjukan drama kolosal dan malam Anugerah Seni Warisan Budaya Tak Benda 2019 yang berlangsung di Taman Budaya, Banda Aceh, Jamal menjelaskan pengakuan warisan budaya tak benda Indonesia merupakan kebanggaan bagi rakyat Aceh.

“Warisan budaya tak benda adalah praktik, representatif, ekspresi, pengetahuan atau ketrampilan serta instrumen, objek , artefak dan ruang budaya yang diaggap merupakan kekayaan yang patut dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya suatu daerah.

Ia mengatakan warisan budaya tak benda adalah bukti bahwa Aceh sejak zaman dahulu merupakan masyarakat yang memiliki nilai dan filosopi yang tinggi dan luhur.

“Aceh yang terdiri dari berbagai etnis merupakan salah satu kekuatan atau kelebihan yang menjadi bekal menuju Aceh Hebat,” katanya dalam kegiatan yang turut dihadiri Anggota DPR Aceh, T Irwan Djohan.

Jamaluddin mengatakan Pemerintah Aceh akan menerima masukan dan usulan serta akan terlibat secara aktif untuk memperjuangkan warisan budaya tak benda yang ada di kabupaten/kota di Aceh.

“Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat baik tua dan muda serta kaum intelektual untuk menjaga dan terus mengembangkan warinsa ini sehingga ia hidup dalam wujud masa kini, baik secara presentatif maupun representatif.

Dalam kegiatan tersebut juga menyajikan pertunjukan drama kolosal serta menyuguhkan kuliner khas Simeulue yakni Memek dan makanan Gutel yang berasal dari Kabupaten Aceh Tengah serta turut dihibur oleh Tangke Band.

Pementasan drama kolosal teatrikal bertemakan “Rekonsiliasi Hati” yang merupakan hasil kerja kreatif Komunitas Ceudah Hatee berkolaborasi dengan mustika art entertainment serta seniman lainnya menceritakan peradaban Aceh tempo dulu hingga masa sekarang. (ant/min)