Pesona Objek Wisata Pulau Aceh Sangat Menjanjikan

Indahnya satu diantara objek wisata pantai di Pulau Nasi.

PULAU ACEH (RA) – Badan Pengusahaan Kawasan Peradangangan dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) dalam membangun infrastruktur di Pulau Aceh dan Pulau Nasi kini telah menjadi pembuka akses yang sangat menjanjikan.

Siapa sangka ternyata pulau tersebut memiliki sejumlah potensi yang sangat luar biasa sekali, terutama untuk sektor pariwisata dan perikanan memberi kesempatan kepada siapa saja yang ingin berinvestasi.

Khusus untuk pariwisata, pulau berpenduduk sekitar 7000 jiwa ini (Pulau Breueh sekitar 5000 jiwa dan Pulau Nasi sekitar 2000 jiwa) memiliki potensi alam yang indah dan menakjubkan.

Para travelling menyusuri indahnya pantai di Pulau Bereuh

Pulau Aceh, atau Pulo Aceh, terdiri dari gugusan dua pulau besar yaitu Pulau Breueh dan Pulau Nasi serta pulau kecil terluar.

Pulau Breueh terletak di sebelah barat laut pulau Sumatera dan di sebelah barat laut pulau Weh, Sabang. Pulau ini berada pada titik koordinat: 5°42′0″LU,95°4′0″BT.

Secara administratif pulau ini masuk dalam wilayah Kecamatan Pulau Aceh, Aceh Besar. Sedangkan ibu kota Kecamatan Pulau Aceh adalah Desa Lampuyang, Pulau Breueh.

Adapun pulau-pulau lain yang berada di sekitar pulau Breueh antara lain: Pulau Nasi, Pulau Deudap, Pulau Geupon, Pulau Batee, dan Pulau Weh.

Pulau Nasi terletak di sebelah timur laut Pulau Sumatera dan di sebelah barat laut Pulau Weh. Pulau ini terletak di tengah-tengah antara ujung barat pulau Sumatera dengan Pulau Breueh dan titik koordinat: 5°37′0″LU,95°7′0″BT.

Secara administratif pulau ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Pulau Aceh, Aceh Besar.
Pulau Nasi memiliki lima desa, yaitu Lamteng, Deudap, Rabo, Pasi Janeng, dan Alu Reuyeueng. Lamteng merupakan desa dengan penduduk terbanyak. Penduduk Pulau Nasi kesemuanya adalah pendatang dari daratan Aceh maupun dari Pulau Weh dan pulau lainnya.

Pulau-pulau lain yang berada di sekitar pulau Nasi yaitu Pulau Weh, Pulau Breueh, Pulau Batee, dan Pulau Bunta.

Untuk diketahui, paling menarik dari Pulau Aceh ini adalah keindahan pesona alamnya mampu menyihir siapapun para penikmat travelling.

Terbentang dari sejumlah sisi pulau dengan bentangan pasir yang indah dan masih sangat alami dan jarang di kunjungi oleh para pelancong. Pantai Nipah, Alue Riyeung, Pantai Pasi Janeng adalah beberapa pantai yang sangat indah untuk menghabiskan akhir pekan.

Dengan menggunakan feri, pengunjung bisa mengangkut kenderaan roda 4 dan roda 2. Dengan harga feri yang masih sangat murah.

Para pegiat travelling akan begitu terkesima ketika menjajaki kunjungan ke Pulau Aceh. Bila anda meyukai camping, maka Pulau Nasi akan mampu menyajikan pilihan terbaik untuk bercamping ria. Pantai Pasi Janeng, Alue Riyeung, dua tempat yang akan memberikan kesan yang sangat luar biasa bagi Anda penyukai pantai dan hamparan pasir yang cantik.

Indahnya satu diantara objek wisata pantai di Pulau Nasi.

Kalau ke Banda Aceh, jangan hanya melirik Sabang, akan tetapi pantas Anda mencoba berkunjung ke Pulau Aceh yang hanya berjarak 1.30 menit menggunakan feri lambat atau 60 menit dengan bot nelayan.

Sebagai pendukung infrastruktur lainnya, Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) juga berencana akan membangun jembatan penghubung sepanjang 430 meter antara Pulau Nasi dan Pulau Breueh, Pulo Aceh, Aceh Besar.

Dimana diketahui DED (detail engenering design) nya sudah selesai dan proyek ini sudah dibicarakan dengan pemerintah pusat yakni Bappenas.

Berbagai tahapan-tahapan yang sedang dilakukan BPKS telah berjalan sesuai target. “Setelah DED tuntas, kita masuk ke tahapan berikut, yaitu Amdal dan seterusnya.

Kita segera menyiapkan sekitar lima dokumen awal sebagai pendukung, yaitu dokumen feasibility study (FS), master plant, penetapan lokasi, detail engenering design (DED), dan dokumen Amdal,” kata Plt Kepala BPKS, Razuardi atau biasa disapa Easex.

Sebagai badan yang mengelola kawasan bebas dan pelabuhan bebas Sabang, BPKS sudah membangun sekitar 6 jembatan dan 30 kilometer lebih jalan lingkar di pulau terluar Aceh itu. Selain itu, BPKS juga telah membangun infrastruktur pelabuhan pengolahan ikan di Desa Lampuyang.

BPKS telah membangun infrastruktur pelabuhan pengolahan ikan di Desa Lampuyang.

Tapi, kata Razuardi, penduduk di gugusan Pulau Aceh seluas sekitar 240 km persegi itu masih dipisahkan oleh selat selebar sekitar 260 meter. Sehingga akses warga Pulau Nasi ke Pulau Breueh terpaksa dilakukan memutar lewat pelabuhan Ulee Lheue. “Jika menggunakan boat kecil agak berisiko karena ada pertemuan arus di mulut pelabuhan Pulau Breueh,” jelas Razuardi.

Objek wisata menara suar William Torrent III di Pulau Breueh. Cuma tiga di dunia: Aceh, Belanda, dan Karibia.

Menurut Razuardi, pembangunan jembatan penghubung antar dua pulau ini masuk kategori mendesak. Apalagi selama ini banyak hasil bumi dan laut dari dan ke dua pulau itu tidak terkoneksi dengan baik. “Jembatan itu akan memudahkan warga menjalin silaturrahmi dan membangun ekonominya,” kata Razuardi.

Jika jembatan Pulo Aceh yang memiliki 26 gampong itu terbangun maka pertumbuhan ekonomi warga akan meningkat. “Jika ekonomi meningkat maka secara otomatis angka kemiskinan akan menurun,” katanya.

Razuardi mengilustrasikan jika jembatan tuntas sebelum lima tahun, maka hasil-hasil perikanan dari Pulau Nasi yang luar biasa potensinya akan lebih gampang dipasarkan dan diolah di Pulau Breueh. “Karena di Pulau Breueh kita punya pelabuhan pengolahan perikanan. Biaya akan lebih rendah, pendistribusian antar pulau juga akan lebih mudah,” jelasnya.(han)