Aceh Besar (Ra) – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengatakan pemahaman terhadap bencana sangat penting guna meningkatkan kesiap-siagaan masyarakat dalam menghadapi setiap ancaman bencana alam. Selain itu, banyak hal terkait indikasi akan datangnya bencana juga harus terus digali agar masyarakat lebih paham.

“Ketika bencana datang, seperti ketika Tsunami, banyak masyarakat tidak tahu apa yang sedang terjadi. Orang-orang berlari, tapi ada yang malah berlari ke arah laut,” kata Nova saat memantau persiapan Launching Keluarga Tangguh Bencana (Katana) bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Doni Monardo, di Pasie Jantang, Lhoong, Aceh Besar, Sabtu (7/12), pagi.

Nova menjelaskan, saat detik-detik menjelang tsunami juga banyak muncul tanda-tanda tak lazim yang perlu digali pemahamannya lebih lanjut. Seperti binatang peliharaan yang disebut memperlihatkan perilaku aneh menjelang tsunami.

“Seperti ada kawanan burung yang terbang bersamaan dalam jumlah besar. Ada juga binatang di kandang yang terus menjerit menjelang tsunami,” ujar Nova.

Untuk itu, Nova sangat mendukung adanya program Katana yang diluncurkan BNPB.

Sementara Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo menjelaskan, Katana merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap penguatan kapasitas keluarga Indonesia dalam menghadapi ancaman bencana sekaligus mengurangi korban jiwa dari anggota keluarga pada saat terjadi bencana.

BNPB memprioritaskan penerapan pogram Katana di Aceh lantaran Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah rawan bencana. Dalam praktiknya, masyarakat akan diberikan pemahaman terhadap berbagai macam bencana dan cara penanggulangannya.

Letjen Doni Monardo, menjelaskan, ada tiga tahapan dalam Katana, yaitu sadar risiko bencana, penguatan pengetahuan, dan Katana Berdaya yaitu menyasar kemampuan menyelamatkan diri sendiri, keluarga, tetangga, dan orang lain.

“Jadi program katana ini tidak sama di semua daerah, tetapi disesuaikan dengan karakteristik daerah bencana. Ada daerah rawan gempa bumi, ada daerah rawan banjir, gunung berapi, longsor dan lain-lain,” kata Letjen Doni Monardo.

*Kunjungi Situs Tsunami Purba “Goa Ek Leuntie”*

Usai meninjau kesiapan launching Katana di Pasie Jantang, Nova Iriansyah bersama Letjen Doni Monardo juga mengunjungi Goa Ek Leuntie yang terletak di Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar.

Para peneliti menemukan bahwa Goa Ek Luntie meninggalkan jejak tsunami purba yang pernah melanda Aceh tempo dulu.Mereka menemukan tsunami besar pernah menghantam Aceh sebanyak tujuh kali: sekitar tahun 900, 1349, 1450, 1797, 1833, 1907, dan terakhir pada 26 Desember 2004.

Hal itu diketahui dari keberadaan lapisan guano di dalamnya. Hasil penelitian lapisan-lapisan tsunami di Goa Ek Leuntie menyimpulkan bahwa perulangan kejadian tsunami di Aceh terjadi dengan waktu yang tidak beraturan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Sunawardi yang turut hadir pada kunjungan itu mengatakan, pihaknya sedang melakukan pembebasan lahan warga di sekitar Gua Ek Leuntie untuk menjadikan kawasan itu sebagai geopark tsunami purba. []