Menjadi Tameng Negara, Seratus Pemuda Pilih Gabung PETA

Dandim 0105 Aceh Barat, Letkol Kav. Nurul Diyanto, usai seminar wawasan kebangsaan PETA Aceh. Di Gedung Gelangan Olahraga dan Seni (Gos) Meulaboh, Senin (9/10).

Meulaboh (RA) – Ratusan muda-mudi Aceh mengikuti seminar wawasan kebangsaan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ideologi ini ditanamkan dalam benak generasi muda.

Hasilnya, dalam seminar wawasan kebangsaan itu, seratusan pemuda dengan resmi menyatakan diri siap untuk bergabung menjadi anggota Front Pembela Tanah Air (PETA), di Gedung Gelangan Olahraga dan Seni (Gos) Meulaboh, Aceh Barat, Senin (9/10).

Ketua Front PETA Aceh Barat, yang juga Sektaris Jendral PETA Aceh, Amiruddin, mengaku kehadiran Ormas tersebut bagian dari tameng di tengah rakyat melawan kelompok-kelompok radikalisme yang ada di Indonesia.

Dikatakannya, saat ini Indonesia tidak terlepas dari gangguan kelompok-kelompok radikalisme yang ingin sekali mengganggu keutuhan negara. Dilihat dari kondisi itu, telah selayaknya kehadiran PETA menjadi tameng dari ancaman kelompok-kelompok yang ingin merong-rong Negara.

“Seharusnya kita sudah diwajibkan militer, jika melihat kondisi negara. Namun negara kita tidak memberlakukan itu, namun kita hadir untuk bela negara,” ucap Amir.

Meskipun marak hadirnya kelompok radikalisme mengancam keutuhan NKRI, Amir menilai, khusus daerah Aceh tidak ada pergerakan kelompok ini, lantaran Aceh masih dalam kondisi aman dan jauh dari bau radikalisme.

Mengikuti perkembangan Aceh yang kondusif, Amir menilai strategi perang melawan berbagai bentuk pergerakan sesat demikian, paling tepat dengan cara perang ekonomi.

“Anak-anak PETA nanti akan dididik dan dibimbing dalam memperkuat ekonomi, agar mapan dalam membawa Aceh lepas dari kemiskinan. Kita juga akan didik mereka menjadi pelopor kewira usahaan, selain menjadi pelopor anti radikalisme dan anti narkoba. Pemuda cerdas dan kreatif membuka lapangan kerja merupakan solusi mengamankan daerah dan Negara,” jelasnya.

Mematangkan jiwa intrepreneurship, dikaji Amir merupakan solusi yang tepat di tengah perkembangan negara saat ini, sehingga generasi muda tidak akan mampu terpengaruh dengan upaya provokasi kelompok-kelompok yang tak ingin Indonesia nyaman. “Bukan kah membangun ekonomi juga bagian dari membela tanah air. Kalau pondasi ekonomi kuat, maka tidak akan gampang masyarakat terbawa arus provokasi,” jelasnya.

Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0105 Aceh Barat, LetKol Kav. Nurul Diyanto, menilai Organisasi PETA dapat menjadi salah satu sayap mempertahankan negara dari paham provokasi pihak tertentu.

PETA, sambung Nurul, merupakan organisasi yang telah terbentuk jauh sebelum Indonesia merdeka. Dan kehadiran mereka masa lampau tidak lepas dari semangat membela tanah air.

“Namanya sudah jelas pembela tanah air. Jadi ya mereka merupakan salah satu kelompok bela negera, dan mereka terbentuk dari pemuda-pemuda yang pernah mengikrarkan sumpahnya atau lewat sumpah pemuda pada masa perjuangan,” ucap Dandim.

Sebagai organisasi bela tanah air, ia mengaku akan terus melatih dan membina serta memberikan wawasan kebangsaan bagi Ormas ini, agar semangat membela negara semakin tinggi dan kuat.(den)