Bento dan Iskandar setelah Pulang ke Hutan Mulai Belajar Memanjat dan Mencari Makan

SUASANATENANG: Petugas berinteraksi dengan orang utan Iskandar di Pusat Suaka Orangutan Arsari Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

Sebagai orang utan, yang mereka butuhkan adalah hutan. Belasan tahun hidup dalam kandang layaknya tahanan, Bento dan Iskandar belajar memanjat hingga mencari makan saat dilepaskan.

FERLYNDA PUTRI, Penajam Paser Utara, Jawa Pos

NAMANYA Bento. Tak butuh rumah realestat. Tak perlu mobil banyak apalagi harta berlimpah. Begitu pula Iskandar dan ribuan orang utan lain. Yang mereka butuhkan adalah hutan dengan limpahan buah-buahan.

Sejak bayi, keduanya dipisahkan dari keluarga mereka di hutan. Mereka dibawa ke Sulawesi Utara hingga berusia 17 dan 19 tahun. Belasan tahun dipelihara secara ilegal. Bahkan, hingga kini Iskandar masih trauma kepada manusia karena melihat orang tuanya dibunuh pemburu liar yang ingin mengambilnya.

Kini keduanya berada di Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Sudah dua bulan mereka di situ. Sebelumnya, mereka berada di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki di Minahasa Utara.

Jawa Pos menemui mereka pada Senin (2/12). Sebelumnya, Manajer Operasional PSO Arsari Odom memberi tahu agar tidak ribut. Waktunya pun dibatasi. Lebih baik tidak pakai parfum juga. Agar mereka tidak stres. Kalau stres, mereka bisa berantem atau melukai diri sendiri. ’’Kalau lihat perempuan, mereka gelisah. Maklum, belum pernah kawin,’’ tutur pria asli Dayak itu.

Saat wartawan datang, Bento memandangi dengan saksama dari pojok kandang besi setinggi 7 meter. Sementara Iskandar langsung menjauh. Orang utan pipi lebar itu mencermati orang-orang yang datang. Lambat laun, kulit pipinya berkerut. Mereka mulai gelisah. Wah, tanda-tanda stres. Wartawan diminta mundur.

Odom melanjutkan ceritanya di kantor. ’’Sejak di sini, mereka lebih baik. Mau manjat untuk cari makan,’’ ucapnya. Itu terjadi karena ranger selalu memberikan makan di atas kandang. Tempatnya pun berbeda-beda. Untuk naik, mereka memanjat tali.

Mereka cukup pemilih soal makanan. Harus yang matang. Kalau masih mentah, pasti dibuang. Ranger juga memberikan serangga serta daun-daun muda. ’’Kalau serangga, mereka sudah mencari-cari dengan dahan,’’ ujar Odom. Yang dilakukan Iskandar dan Bento seperti yang dilakukan di alam.

Secara fisik, kondisi Bento dan Iskandar membaik. Bulu-bulunya mulai lebat. Badannya yang semula 170 kg mulai diatur. Supaya tidak obesitas.

Dokter hewan PSO Arsari drh Satria Anugrah Dewantara mengungkapkan, kedua orang utan berkondisi sehat setelah dua bulan tinggal di pusat suaka tersebut. Meski demikian, kondisi psikis mereka belum stabil. Jika bertemu dengan orang yang jarang memberi makan, mereka bisa stres. Dampaknya, bisa melukai diri sendiri.

’’Iskandar kalau malam mau melakukan longcall, tandanya memanggil betina dan menandai wilayah,’’ ungkapnya.

Meski keduanya jantan dan biasanya berebut wilayah kekuasaan, ada kelakuan unik dari mereka. Pada suatu waktu, Satria duduk mengamati dua orang utan itu.

Saat diberi jeruk, Bento membelah buah tersebut. Separo diberikan kepada Iskandar. ’’Sayangnya tidak sempat didokumentasikan,’’ katanya.

Lalu, kapan Iskandar dan Bento mulai dilepas? Setidaknya ketika naluri liar mereka sudah muncul. Selain itu, PSO Arsari akan menyiapkan pulau khusus untuk suaka orang utan.

Suaka itu diperuntukkan khusus bagi orang utan yang lama dikurung karena perdagangan ilegal atau yang lama di kebun binatang. Suaka tersebut khusus untuk orang utan jantan.

Chief Science Officer Arsari Enviro Industri Willie Smits menyatakan, ada 100 orang utan di Eropa yang hendak dilimpahkan ke PSO Arsari. Orang utan-orang utan itu sudah pensiun dari kebun binatang. Biasanya, mereka yang sudah pensiun hanya dikurung di kandang hingga mati.

PSO Arsari memang ditujukan untuk memperbaiki kualitas hidup orang utan tua. ’’Mereka berhak bahagia sampai mati,’’ tegasnya. (jpg/min)