Anggota DPD RI HM Fadhil Rahmi saat menuju Simpang Jernih

ACEH TIMUR (RA) – Anggota DPD RI asal Aceh, HM Fadhil Rahmi, Lc, mengunjungi Desa Tampur Paloh, Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur.

Kedatangan mantan Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh ini ke daerah terpencil tersebut selama dua hari adalah untuk bersilaturahmi dengan masyarakat setempat, sekaligus mengadakan kegiatan pengobatan gratis. “Kami ke Tampur Paloh untuk silaturahmi dan pengobatan gratis selama dua hari,” kata Fadhil Rahmi, kepada Rakyat Aceh, Senin (16/12).

Perjalanan menuju kawasan pedalama Aceh Timur tersebut ditempuh lewat jalur darat dan sungai yang kondisi debit air saat itu sedang tinggi.

Dalam perjalannya Fadhil Rahmi juga melihat dan merasakan langsung beratnya medan yang harus ditempuh oleh masyarakat setempat. Seperti kondisi jalan yang masih berlumpur di perbatasan Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Tamiang, tepatnya di Baleng Karang, Desa Batu Bedulang, Kecamatan Simpang Jernih dengan Desa Baling Karang, Kecamatan Bandar Pusaka, bahkan kendaraan empat yang melintas harus ditarik dengan alat berat.

“Dua kecamatan di dua kabupaten ini masih sangat butuh perhatian, kehidupan mereka di sini saling membutuhkan,” katanya.

Perjalanan menuju Tampur Paloh, memakan waktu berjam – jam, akses kesana dari Kuala simpang ke Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, 1,5 jam. Kemudian naik boat mengarusi sungai dari Babo ke Tampur Paloh, memakan waktu 3 jam lamanya.

Lebih lanjut, dirinya berharap kepada pemerintah untuk memberikan perhatian lebih kepada kawasan terpencil tersebut, sehingga bisa bebas dari keterisoliran dari dua luar.

“Kita berharap kepada Plt Gubernur Aceh dan SKPA terkait dengan rekan – rekan di DPRA untuk memperhatian infrastruktur dasar, seperti jalan. Karena sebenarnya kalau ada kepedulian dari provinsi, fokus dan serius, Insya Allah, keterisoliran Simpang Jernih dari dunia luar bisa selesai, tidak perlu gunakan boat karena sebenarnya jalur darat itu menyambung, tapi bertahun – tahun dan puluhan tahun mungkin, setelah Indonesia Merdeka akses jalan darat sampai sekarang masih hancur – hancuran,” terangnya. (ra)