Solusi Bangun Andalas Tanam Pohon di Lahan Bekas Tambang

0
Wakil Bupati Aceh Besar, Tgk H Husaini A Wahab memimpin doa sebelum melakukan penanaman bibit pohon pada area reklamasi lahan bekas tambang siltstone quarry, di Lhoknga, Selasa (17/12). FOTO ABI DANIS

LHOKNGA (RA) – PT. Solusi Bangun Andalas (SBA) melakukan penanaman bibit pohon pada area reklamasi lahan bekas tambang siltstone quarry, Selasa (17/12).

Aksi penanaman pohon dikemas dalam acara Quarry Day 2019 yang mengusung tema “Mari Hijaukan Bumi Kita”. Turut hadir Wakil Bupati Aceh Besar, Tgk H Husaini A Wahab, Kadis Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Mahdinur, Kabid  Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Aceh, Cut Nismaita.

General Manager PT SBA Durain Parmanoan dalam kesempatan tersebut menyampaikan, ada empat jenis bibit tanaman yang mereka tanam di area seluas 5000 meter, lahan bekas tambang siltstone quarry di kawasan Lhoknga, seperti pohon cemara, pohon sengon dan trembesi.

Sejak pabrik berdiri, sudah enam hektar bibit pohon ditanam di lahan bekas tambang siltstone quarry. Sementara di lahan tambang bekas limestone atau batu kapur sudah sekitar 15 hektar.

Dirinya menjelaskan, pemakaian bahan baku siltstone dalam produksi semen, sebenarnya hanya 10 – 15 persen dari kebutuhan bahan baku. Bahan baku mayoritas adalah batu kapur.

Aktifitas penanaman pohon, kata Durain, akan berjalan secara terus menerus, sehingga
apa yang ditinggalkan SBA setelah melakukan penambangan, adalah tetap hijau. Kegiatan reklamasi lahan bekas tambang yang dilakukan SBA, dilakukan untuk mengembalikan lahan agar tetap lestari.

“Kalau tidak dilakukan perawatan, maka tentunya akan memberikan kesusahan. Artinya, saat terjadi longsor dan sampai memakan korban atau truk tidak bisa melintas, maka akan menganggu operasional pabrik,” terangnya.

Selain memang diatur Undang – Undang Minerba No.4 Tahun 2009, aksi penghijauan dilakukan PT SBA adalah berangkat dari sebuah kesadaran, sekaligus untuk menepis anggapan jika kegiatan pertambangan merusak hutan.

Jadi menurutnya, pertambangan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan, karena itu salah satu sumber kemakmuran masyarakat. Kebutuhan masyarakat saat ini, tentunya tidak terlepas dari hasil tambang, bahkan nelayan sekalipun, kail pancing yang mereka gunakan juga berasal dari hasil tambang.

“Coba bayangkan kalau tidak ada hasil tambang, mungkin cara menangkap ikan saja masih secara tradisional,” terangnya. (ra)