BERALASAN KERJA: Widodo Adi Sutaryanto menjalani sidang pertama di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (26/12). (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

Harianrakyataceh.com – Widodo Adi Sutaryanto duduk di kursi terdakwa Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Jaksa mendakwa pria tersebut karena telah melanggar undang-undang perlindungan anak. Salah satunya, mengikat anak kandungnya yang masih berumur 18 bulan, lalu meninggalkannya bekerja.

Dalam sidang tersebut, jaksa juga menghadirkan Widya Soewanti, ibu korban. Widya mengaku geram dengan suaminya itu. Sebab, dia tak menjaga anak yang dititipkan padanya dengan baik. ”Bapaknya yang ngurus gitu. Lah ternyata kok malah diikat,” ucapnya.

Dia mengaku telah berpisah dengan Widodo meski statusnya tidak bercerai. Alasannya, selama ini hubungan dengan Widodo hanya sebagai istri siri. ”Wong saya dinikahi istri siri, Pak. Saya dipelet kelihatannya. Setiap ke mana-mana kebayang wajahnya,” ujar Widya.

Dari hubungan itu, Widya mengaku mempunyai tujuh orang anak. Nah, anak yang terakhir ini yang dirawat Widodo Namun, kenyataannya, anaknya justru ditelantarkan ”Saya bekerja Pak, enam orang kakaknya ya di saya,” katanya lagi dengan tersedu-sedu.

Selain itu, ucap Widya, suaminya tersebut temperamental. Terkadang, kata dia, jika kumat, sang suami jengkel tiba-tiba memukul begitu saja.

Tak terima dengan keterangan istri, Widodo mengaku terpaksa mengikat anaknya itu karena tidak ada yang menjaga. Sebab, dia juga harus banting tulang menjadi kuli bangunan. Nah, salah satu cara untuk membuat anaknya yang masih balita itu tidak bergerak adalah mengikatnya dengan tali rafia.

Hal tersebut dilakukan saat dia bekerja. ”Gimana Pak, saya takut kenapa-kenapa. Tapi, saya ngaku salah, Pak,” ucapnya dengan nada lirih.

Di sisi lain, jaksa Kejari Surabaya Harwiadi menerangkan bahwa terdakwa memang salah. Sebab, akibat dari perbuatannya, sang anak mengalami sejumlah luka. Kini korban dititipkan sementara di Liponsos Kalijudan. ”Ibu korban berulang-ulang minta ke liponsos, tapi belum diperbolehkan. Harus ada putusan berkekuatan hukum tetap,” ucapnya.

Meski begitu, lanjut Wiwid, panggilan akrab Harwiadi, perkembangan korban sehat. Hal tersebut diketahui dari keterangan Widya yang sering menjenguk anak terakhirnya itu.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : den/c25/git