Shin Tae-Yong: Masalah Terbesar Indonesia Adalah Fisik

Pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, saat diperkenalkan secara resmi kepada awak media sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia di Stadion Pakansari Bogor, Sabtu 28/12/19. Shin mendapat kontrak 4 tahun menangani timnas. Foto: Chandra Satwika/Jawa Pos.

Melabuhkan Harapan ke  Pelatih Baru Timnas

Dia pernah membawa timnas U-23 Korea Selatan (Korsel) ke perempat final Olimpiade 2016. Dua tahun kemudian, skuad senior Korsel asuhannya menundukkan Jerman di laga terakhir fase grup Piala Dunia 2018, sekaligus membuat sang juara bertahan kandas.

FARID S. MAULANAJakarta, Jawa Pos

TAPI, mulai kemarin (28/12) hingga empat tahun ke depan, Shin Tae-yong bisa jadi akan menghadapi tantangan terberat sepanjang karir kepelatihannya.

Menjadi pelatih tim nasional (timnas) Indonesia, negeri yang kali terakhir merebut emas SEA Games nyaris tiga dekade silam; negeri yang kini terpuruk di posisi ke-173 dalam daftar ranking terbaru FIFA; negeri yang terus kalah dalam lima laga kualifikasi Piala Dunia 2022.

Bagian dari durasi 4 tahun kontraknya yang diteken kemarin di ruang VIP Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, pria 50 tahun itu dibebani menyapu bersih tiga pertandingan sisa kualifikasi Piala Dunia Grup G Zona Asia. Shin juga ditargetkan bisa membawa Merah Putih juara di Piala AFF 2020.

Belum lagi juga diminta menyiapkan timnas junior untuk persiapan Piala Dunia U-20 pada 2021 yang dituanrumahi Indonesia. ”Pemain-pemain Indonesia punya bakat luar biasa. Saya melihat harapan itu dan berjanji berusaha maksimal di sini,” kata mantan pelatih timnas U-17, U-20, U-23, dan senior Korsel itu.

Berikut petikan wawancara dengan pria yang semasa bermain berposisi sebagai gelandang serang tersebut di sela perkenalannya sebagai pelatih baru timnas Indonesia kemarin.

Apa yang Anda ketahui tentang sepak bola Indonesia sejauh ini? Karakter permainan atau pemain yang menonjol?

Saya pernah ke sini dua kali, sebagai pemain pada tahun 1994 dan sebagai pelatih bersama timnas Korea Selatan (Korsel) U-22 pada 2015. Saya masih ingat, terutama 2015 bagaimana timnas Indonesia bermain. Kami (Korsel) memang menang saat itu, tapi kualitas pertandingan sangat luar biasa.

Ketika kemudian saya dihubungi Sekjen PSSI Ratu Tisha beberapa bulan lalu mengenai tawaran untuk melatih timnas Indonesia, saya ingat lagi pertandingan itu. Saya juga langsung nonton video pertandingan timnas U-22 di SEA Games 2019 dan uji coba. Juga timnas senior di kualifikasi Piala Dunia. Saya lihat walau gagal dan kalah, ada satu harapan yang bisa dikembangkan. Pemain-pemain Indonesia punya bakat luar biasa. Saya melihat harapan itu dan berjanji berusaha maksimal di sini.

Dari yang Anda ketahui sejauh ini, apa problem terbesar yang mesti segera dibenahi di sepak bola Indonesia?

Begini, kemampuan setiap pemain berbeda-beda. Ada yang kurang satu, yang lainnya punya. Tapi, yang saya lihat masalah terbesarnya adalah soal fisik. Beberapa video yang saya tonton, pemain Indonesia selalu kehabisan tenaga di babak kedua. Tepatnya setelah 20 menit pertandingan berjalan.

Kenapa fisik yang harus dibenahi? Fisik harus kuat, maka mental akan kuat. Fisik kuat artinya bisa fokus sepanjang pertandingan. Dan, yang paling penting, kalau fisik kuat, ada semangat untuk menang. Jika itu semua dikombinasikan, timnas akan kuat.

Dari beberapa video timnas yang sudah Anda tonton, bagaimana Anda menilai kontribusi para pemain naturalisasi?

Skill dan kemampuan mereka sama dengan pemain (lokal) Indonesia. Saya juga tidak akan membeda-bedakan pemain yang main di luar negeri atau di dalam negeri.

Pemain-pemain di Indonesia sudah terbiasa dengan pemusatan latihan jangka panjang. Bagaimana cara Anda mengubah kebiasaan itu?

Saya belum tahu soal itu. Saya mau mengumpulkan pemain lebih dahulu. Punya banyak waktu untuk pemusatan latihan memang bagus, tapi sepertinya tidak akan saya lakukan.

Bagaimana kualitas liga di Indonesia? Apa yang ingin Anda sampaikan ke pengelola liga agar pemain-pemain yang dihasilkan sinkron dengan standar timnas?

Saya harus bicara dulu dengan PSSI. Tapi, PSSI sudah berjanji 100 persen membantu saya soal itu.

Apa modal terbaik sepak bola Indonesia agar bisa berkembang?

Banyak sekali, tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Yang pasti, seperti yang saya katakan, di beberapa video yang saya tonton, walau kalah, pemain Indonesia bermain bagus. Punya pemahaman sepak bola yang baik.

Sejauh apa ketertinggalan sepak bola Indonesia jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lain seperti Thailand dan Vietnam? Atau di Asia pada umumnya?

Indonesia memang berada di peringkat ke-170 FIFA. Tapi, menurut saya, itu tidak ada masalah. Bukan level yang rendah, karena nanti pada waktunya akan meraih hasil maksimal.

Untuk timnas yang disiapkan bagi Piala Dunia U-20 pada 2021 mendatang, apa tidak ada rencana membuat pemusatan latihan jangka panjang? Sebab, banyak pemain junior Indonesia yang jarang mendapat jam terbang di klub.

Sekali lagi, saya harus lihat secara langsung pemain berlatih, baru bisa berkomentar soal itu. Pemusatan jangka panjang bukan sepenuhnya solusi, tapi ada proses untuk mencapai di tingkat yang lebih baik. Saya akan bertemu dulu dengan pemain U-19 pada 13 Januari (2020) nanti.

Apa yang membuat Anda mau melatih timnas Indonesia?

Awalnya, saya berpikir untuk melatih klub. Tapi, saya tertarik untuk tahu kemampuan saya seperti apa. Seberapa jauh saya bisa meningkatkan tim yang levelnya di bawah Korea Selatan. Saya juga banyak tahu soal Asia Tenggara dari pelatih timnas Vietnam Park Hang-Seo. Banyak komunikasi, yang akhirnya membuat saya tertarik. Walaupun dalam obrolan itu tidak pernah menyebut Indonesia atau Vietnam.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c5/ttg