Kasus Mafia Bola Bikin Mendung Sepak Bola Kita

Mantan ketum PSSI Joko Driyono ketika disidang atas kasus perusakan barang bukti.

Sejak akhir 2018, terkuaknya beberapa skandal mafia bola membuat Polri membentuk Satgas Antimafia Bola. Awal tahun menjadi momen yang sibuk bagi satgas. Beberapa petinggi PSSI pun kena. Berikut beberapa momen penting sepanjang 2019.

Satgas Tetapkan 16 Tersangka

Berawal dari kasus percobaan pengaturan skor kepada manajer Madura FC Januar Herwanto kemudian skandal Persibara Banjarnegara, satgas akhirnya menentukan 16 tersangka.

Di antara sekian tersangka itu, ada nama anggota Komdis PSSI Dwi Irianto dan dua anggota Exco PSSI, yakni Hidayat dan Johar Lin Eng. Bahkan, ketum PSSI Joko Driyono juga tersangkut atas kasus perusakan barang bukti.

Joko Driyono Divonis 1,5 Tahun Penjara

Setelah para tersangka lain lebih dulu kelar kasusnya, akhirnya pada Juli, Joko Driyono diputus Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan pidana 1,5 tahun penjara, dalam perkara dugaan perusakan barang bukti pengaturan skor.

Sebetulnya, pria yang karib disapa Jokdri itu dituntut penjara dua tahun enam bulan oleh Jaksa Penuntut Umum. JPU menilai terdakwa terbukti melanggar pasal 235 jo pasal 233 Pasal 55 ayat 1 ke dua. Namun, Hakim Ketua Kartim Haeruddin menjatuhkan vonis setahun enam bulan.

Satgas Antimafia Bola Jilid II

Setelah periode pertama membuat kehebohan, satgas sempat mengendap dan tanpa banyak pergerakan. Pada Agustus, rapat perdana periode kedua berlanjut dengan Brigjen Pol Hendro Pandowo selaku kepala Satgas memimpin langsung rapat yang digelar di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/8).

Ditemui usai rapat, Hendro mengatakan kegiatan hari ini tidak lain untuk membahas strategi pencegahan aksi pengaturan skor di sepak bola tanah air. ”Hari ini kita melaksanakan rapat koordinasi untuk menentukan langkah ke depan,” ujar Hendro.

Skandal Madura United vs Persib di Liga 1

Satgas Antimafia Bola merespons laporan dugaan pengaturan skor laga Madura United versus Persib Bandung pada Sabtu (5/10). Langkah itu diambil setelah ada laporan dari masyarakat tentang adanya indikasi kecurangan dalam laga yang berlangsung di Gelora Ratu Pamelingan, Bangkalan, itu.

Tim juga mempelajari video pertandingan yang dimenangkan Madura United dengan skor 2-1 itu. Beberapa pengamat bola pun diundang dalam penyelidikan. Bukan hanya itu, polisi juga menyasar beberapa suporter kedua pihak.

Skandal Kalteng Putra vs Persela

Satgas Anti Mafia Bola Polri melakukan upaya penegakkan hukum seusai laga Kalteng Putra melawan Persela Lamongan yang digelar di stadion Tuah Pahoe Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu (27/10). Sembilan orang diamankan dalam operasi ini.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, kasus ini berawal dari laporan yang masuk melalui call center Satgas Anti Mafia Bola seusai laga tersebut. Namun, hingga akhir pemeriksaan, tidak bisa dibuktikan terjandinya pengaturan skor.

Skandal Persikasi versus Perses di Liga 3

Satgas menangkap sembilan orang yang dicurigai terlibat dalam pengaturan skor pertandingan antara Persikasi Bekasi dengan Perses Sumedang. Adapun sembilan orang tersebut adalah wasit, LO dan perangkat pertandingan lainnya. Disinyalir ada uang suap sebesar Rp 12 juta.

Salah seorang yang ditangkap adalah anggota bagian perwasitan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Barat berinisial DS. Mereka dibekuk di Bekasi pada 22 November lalu.

Bontang City FC Bongkar Upaya Atur Skor

Manajemen Bontang City FC memberikan pengakuan mengejutkan. Mereka sempat ditawari untuk mengalah dalam beberapa pertandingan Liga 3 putaran nasional Grup H.

Dalam transkrip itu, terdengar nama lama dalam dunia hitam sepak bola Indonesia, yakni David.

Juga, diungkap soal pertandingan apa saja yang berusaha diatur. Jumlah nonimal duit yang akan diberikan kepada manajemen Bontang City FC jika bersedia. Bahkan, ditengarai ada oknum aparat yang terlibat dalam upaya pengaturan skor di Liga 3 tersebut. (JPG/rif)