Rumah Anwar warga Desa Badegong, Kecamatan Teupah Selatan yang rusak parah akibat gempa, Selasa (7/1). (ahmadi/rakyat aceh)

SIMEULUE (RA) – Puluhan ribu warga Kabupaten Simeulue, panik dan menghindar dari dalam bangunan, saat terjadi gempa bumi 6,1 SR (semula disebutkan 6,4 SR) yang terjadi sekitar pukul 13:15 WIB, Selasa (7/1).

Selain membuat panik, juga merusak satu uni rumah permanen milik Anwar (42) di Desa Badegong, Kecamatan Teupah Selatan serta meretakkan gedung pers setempat, kantor KIP dan kantor Satpol PP termasuk jendela kaca kantor MPU yang jatuh dan pecah.

“Alhamdulillah, pasca gempa, kondisi saat ini telah kembali normal dan aktivitas warga serta pemerintahan kembali seperti biasa, namun kita imbau warga tetap siaga apabila terjadi gempa bumi susulan. Dan ada kerusakan rumah warga telah kita intruksi BPBD untuk menanganinya,” kata Bupati Erly Hasim, kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (7/1).

Sementara pihak BPBD Simeulue, dampak dari gempa bumi itu, masih melakukan pendataan di Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Simeulue Barat, Simeulue Cut, Teupah Tengah, Teupah Barat, Teupah Selatan, Salang, Alafan dan Kecamatan Teluk Dalam.

“Saat ini kita masih melakukan pendataan di 10 Kecamatan. Ada rumah warga rusak serta perkantoran mengalami keretakan. tidak ada korban jiwa maupun luka-luka serta tidak ada yang mengungsi”, kata Ali Hasmi, Kepala Pelaksana BPBD Simeulue, kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (7/1).

Kepanikan juga terjadi keluarga pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). “Panik pak. Sempat ada pasien yang dibawa keluarganya keluar dari ruang rawat inap, dan Alhamdulillah setelah gempa bumi reda, kondisi kembali normal”, kata drg Farhan, Dirut RSUD Simeulue, kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (1/2).

Rumah Rubuh Tinggal di Tenda Darurat
Sedangkan Anwar, pemilik rumah yang dirusak gempa bumi itu, mengaku saat terjadi gempa bumi sedang berada di sawah. Tiba-tiba mendapat telepon dari anaknya, disuruh segera pulang, disebabkan rumah permanen dibangun BRR tahun 2008 lalu itu, rusak dan nyaris rubuh.

“Saat gempa bumi, saya sedang berada di sawah jauhnya sekitar 20 kilometer, tiba-tiba saya ditelepon anak saya, meminta segera pulang karena rumah sudah roboh”, kata Anwar yang ditemui Harian Rakyat Aceh, Selasa (7/1).

?Dia menyebutkan, rumahnya itu telah rusak dan mengalami keretakan, sehingga tidak dapat ditempatinya. Dia kemudian memilih mendirikan tenda atau gubuk darurat, karena tidak berani lagi untuk tidur dan tinggal dalam rumahnya, yang sewaktu-waktu akan roboh total.

“Saya sedang membuat gubuk darurat, untuk tempat tinggal sementara dan saya sekeluarga tidak berani tinggal dan tidur didalam rumah, sebab saya perkirakan sekitar 80 persen rumah saya itu rusak, hanya sekali guncangan lagi rumah saya akan rubuh total”, imbuhnya.

Guncangan gempa bumi ?sangat dirasakan warga Simeulue. Sehingga menimbulkan suara gemuruh dan gesekan sesama pohon dari arah hutan. Sedangkan rumah kontruksi kayu sangat dirasakan ayunan gempa bumi itu, yang menimbulkan suara berderit sesama kayu dan atap seng.

“Gempanya kuat, kami semua panik dak keluar rumahbahkan ada suara gemuruh dari hutan dan rumah saya yang terbuat dari kayu juga berderit-derit”, kata Suryani, ibu rumah tangga sambil mengawasi anak bungsunya yang duduk di kelas 3 sekolah dasar di kota Sinabang, kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (7/1).

Amatan Harian Rakyat Aceh, saat terjadi gempa bumi selain warga memilih keluar dari rumah, juga terlihat warga memantau gerakan air laut di bibir pantai dan pelabuhan yang ada di Pulau Simeulue, untuk mendeteksi apabila terjadi Smong (Tsunami). (ahi/min).