Gampong Matang Rayeuk SMK Butuh Irigasi

Kekeringan : Area Persawahan Desa Matang Rayeuk alami kekeringan faktor tidak memiliki irigasi permanen, Rabu (8/1). Maulana / Rakyat Aceh

IDI (RA) – Petani asal Gampong Matang Rayeuk kecamatan Idi Timur kabupaten Aceh Timur mengeluh karena belum memiliki irigasi permanen oleh sebab itu masyarakat berharap pemerintah melakukan perbaikan saluran irigasi ke areal persawahan padi yang mereka kelola.

“Selama ini areal persawahan kami tidak produktif faktor aliran air yang tidak normal. Jika musim huja kami mengalami gagal panen, jika musim kemarau juga mengalami hal yang sama,” kata salah satu Keuchik asal Gampong Matang Rayeuk SMK Muheri kepada Rakyat Aceh, Rabu 8/1.

Muheri menambahkan, irigasi yang dibutuhkan untuk perbaikan disana sepanjang lebih kurang 10 kilometer yang melintasi 9 desa terdiri dari Gampong Matang Rayeuk PP, Matang Bungong, Seneubok Barat, Matang Rayeu SMK, Seneubok Timur , Alue Itam, Seneubok Tengoh dan Kuala.

“Masing –masing desa terdapat 20 hingga 30 hektare area persawahan yang mebutuhkan air. Jika saluran irigasi bagus maka sawah- sawah disini akan lebih produktif lagi,” ujar Muheri.

Disinggung mengenai hasil produksi tahun ini, Muheri mengaku petani yang ada di desanya mengalami gagal panen akibat genangan air yang meluap dari saluran ada.

“Puluhan hektare disini sudah tidak bisa panen. Setelah dilanda banjir pada Desember 2019 kemarin ditambah lagi dengan kekeringan yang melanda saat ini,” imbuh Muheri seraya berharap pemerintah Aceh Timur melalui Dinas terkait segera membantu mencari solusi terhadap persoalan yang sedang dialami petani disana.

Hal senada disampaikan ketua Kelompok Tani Segupai Zulfadli berharap pemerintah segera merencanakan pembangunan irigasi yang permanen di kecamatan Idi Tunong.

Hal ini dianggap penting demi bertembuh kembangnya perputaran roda ekonomi petani disana.

“Mayoritas masyarakat disini menggatungkan hidupnya dari hasil pertanian dan sektor kelautan. Maka kami petani sangat butuh infrastruktur memadai seperti irigasi yang permanen,” kata Fadli.

Untuk desa Matang Rayeuk SMK kata Fadli, jika air mencukupi maka petani bisa membajak sawah dalam setahun sekali.Rata-rata petani bisa mendapatkan hasil petani 4 ton dalam satu hektare.

Jika harga per kilogram 5000 rupiah, maka petani mendapat Rp. 20.O00.000. Potong modal dan zakat 10 juta, maka petani akan mendapatkan hasil panen bersih Rp. 10.000.000. Kemudian jika dibagi dalam perbulan petani memperoleh uang sebanyak 3,3 juta rupiah.

“Maka jika pengairan tidak baik maka pendapatan petani tidak seperti yang diharapkan,” ungkap Zulfadli seraya mengharapkan pemerintah lebih serius lagi memperhatikan kendala yang dialami petani selama ini. (mol/msi)