Suntik Vaksin. ILUSTRASI. FOTO: Laman Health

EPIDEMI virus corona 2019-nCoV yang pertama kali ditemukan di Wuhan telah menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia. Alhasil, semua ilmuan di berbagai dunia berbondong-bondong mencari vaksin untuk menghentikan penyebaran virus ini.

Virus corona sendiri bukan hal yang baru. Pada awal tahun 2002 dan 2003, dunia juga dikejutkan dengan epidemi severe acute respiratory syndrome (SARS) dan middle east respiratory syndrome (MERS) yang juga disebabkan oleh virus corona. Gejalanya hampir sama, yaitu demam, batuk, pilek, dan sulit bernafas yang diperkirakan disebabkan dari hewan.

Pada saat itu, sekelompok ilmuan Amerika Serikat membutuhkan waktu selama 20 bulan untuk menemukan vaksin. Sementara saat ini, para ilmuan dari berbagai penjuru dunia mulai mengembangkan vaksin untuk wabah Wuhan. Seperti halnya yang dilakukan oleh para ilmuan di National Institutes of Health (NIH) AS. Melakukan pertemuan pekan lalu, kelompok riset tersebut memperkiran akan membutuhkan waktu selama 3 bulan untuk mendapatkan vaksin wabah Wuhan. Langkah pertama adalah dengan menguji pengembangan vaksin SARS.

Sementara para ilmuan di China juga mengklaim telah mengidentifikasi urutan genetik dari virus 2019-nCoV. Dengan kode genetik tersebut, mereka menyebut dapat mulai mengembangkan vaksin tanpa sampel virus. Di Universitas Queensland, Australia, para ilmuan yang didukung oleh kelompok kesehatan global, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) mengatakan tengah mengerjakan apa yang mereka gambarkan sebagai pendekatan vaksin “penjepit molekuler”.

Teknologi penjepit molekuler ini akan menambahkan gen pada protein virus untuk menstabilkan mereka, mengelabui tubuh agar berpikir virus itu hidup dan membuat antibodi terhadapnya. Menurut seorang ahli kimia, Keith Chappell, teknologi ini dirancang sebagai pendekatan untuk menghasilkan vaksin terhadap berbagai virus dari manusia dan hewan. Teknologi ini juga telah berhasil dalam menangani SARS dan MERS. Di pihak swasta, ada Fauci Agency yang bekerja sama dengan perusahaan biotech asal AS, Moderna Inc. Moderna selama ini telah mengembangkan vaksin berbasis asam ribonukleat (RNA). Dengan pengembangan vaksin ini, mereka berharap dapat segera menemukan vaksin untuk virus 2019-nCoV.

Perusahaan vaksin berbasis di Swedia, Novavax juga mengaku saat ini tengah mengembangkan vaksin MERS untuk mendapatkan vaksin virus 2019-nCoV.

Menurut Kepala Staf Ilmiah Vir Biotechnology, Herbert Virgin, perusahaannya juga mengembangkan antibodi monoklonal atau mAb yang digunakan untuk melawan virus corona SARS dan MERS. Virgin menjelaskan, antibodi ini terbukti menetralkan virus corona yang kemungkinan dapat bekerja untuk virus corona baru yang mewabah saat ini. (rmol/ra/jpg)