PLANET MERAH: Venzha mengambil sampel tanah dalam simulasi di permukaan Planet Mars Desert Research Station (MDRS), Utah, AS. (MARS SOCIETY)

 Hentikan Misi supaya Tak Kehabisan Oksigen

Venzha Christ mendapatkan kesempatan langka mengikuti simulasi perjuangan hidup di tempat yang didesain serupa permukaan Planet Mars. Kecermatan perhitungan waktu menjadi sangat penting jika mau pulang dengan ”selamat”.

TAUFIQURRAHMAN, Jogjakarta, Jawa Pos

MESKI memiliki atmosfer dan daya gravitasi yang hampir sama dengan Bumi, hidup di Mars adalah soal waktu dan kecermatan. Sebab, kerapatan oksigen hanya tersedia 30 persen jika dibandingkan dengan Bumi. Kesalahan perhitungan bisa berakibat fatal.

Mars Desert Research Station (MDRS) memang tidak benar-benar berada di Mars. Tempat itu ada di gurun gersang Hanksville, Utah, Amerika Serikat.

Dalam satu kali sesi simulasi, MDRS mampu menampung hingga 7 kru. Venzha Christ adalah satu-satunya orang Indonesia yang tergabung dalam kru nomor 191 yang khusus untuk tim Asia. Rekan lainnya berasal dari Jepang. Mereka mendapatkan giliran untuk melakukan riset saintifik simulasi dengan kondisi di Mars pada Mei 2018. Saat itu kru dibantu dua robot rover penjelajah Mars.

Mereka yang mengikuti simulasi tinggal selama sebulan di Hab. Pada hari ke-24, Venzha keluar dari Hab bersama tiga kru, termasuk Yusuka Murakami, crew commander.

Tabung oksigen hanya bisa bertahan dua jam. Sebagaimana protokol, setiap kru yang akan melakukan operasi saintifik di luar Hab harus mengenakan pakaian astronot alias extravehicular (EVA) suit. ”Melepas dan memakai EVA suit itu ada protokolnya.

Dan itu juga harus dilakukan satu per satu. Berurutan,” cerita Venzha kepada Jawa Pos di rumahnya, daerah Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron, Jogjakarta.

Simulasi di Mars sangat menuntut kecermatan dan kebijaksanaan kru dalam mengambil keputusan saat berhadapan dengan tekanan situasi hidup dan mati. Misalnya, pada hari ke-17, kru menemukan tiba-tiba suplai air yang masuk ke Hab berbau agak aneh. Setelah dicek, air tersebut mengalami kontaminasi. Tidak bisa diminum.

Komandan kru pun mengadakan voting. Semua skenario memiliki risiko kematian. Pilihan pertama: melanjutkan misi dengan mencoba mendekontaminasi tangki air. Kalau gagal dan cadangan air keburu habis, semua kru akan mati. Pilihan kedua: membatalkan misi, mempersiapkan shuttle dan menghidupkan roket untuk pulang, berharap bisa evakuasi sebelum cadangan air habis. Kalau tidak, sama saja semua kru akan mati kehausan.

Kru 191 terpecah. Tiga orang mendukung misi dibatalkan, sisanya mendukung misi dilanjutkan. Venzha yang menjadi suara penentu mendukung opsi misi dilanjutkan. ”Alasan saya sederhana saja waktu itu. Kalau dibatalkan, sia-sia saja dong. Apalagi menghidupkan roket, nyambungin kabel-kabelnya kan butuh beberapa hari,” jelasnya.

Dengan suara 4 lawan 3, kru 191 memutuskan untuk mencoba operasi dekontaminasi air. Tantangan luar biasa yang harus dilakukan adalah memindahkan tangki air berdiameter 2 meter tersebut menuju ke ruang RAMM.

Jaraknya benar hanya 30 meter. Namun, harus dilakukan dengan EVA suit, menghemat oksigen, suhu minus hingga 5 derajat Celsius, dan kondisi kekurangan cairan.

Setelah empat hari bekerja keras keluar masuk ruang reparasi, ahli hidro kru 191 berhasil mendekontaminasi air di dalam tangki dan misi bisa dilanjutkan hingga hari penjemputan. (jpg/min)