BANDA ACEH (RA) – Publikasi Aceh sebagai salah satu daerah termiskin di Indonesia menyentak banyak stakeholder, tokoh dan para akademisi di bumi serambi mekkah.

Kekayaan alam dan sumber daya manusia yang semakin banyak di berbagai bidang dinilai sudah tak pantas lagi daerah paling barat Indonesia ini berada di peringkat bawah peta kemiskinan sebagaimana dilansir oleh badan pusat statisktik (BPS) Aceh.

Karenanya Yayasan Sukma – Media Group dan Forbes DRP dan DPD RI perwakilan Aceh menggagas Seminar Keacehan, bertema Kearifan Masa Lalu Kejayaan Masa Depan, diharapkan dapat memberikan masukan sebagai tonggak kejaaan masyarakat Aceh.

Wakil Rektor 1 Unsyiah Prof Dr Marwan, yang membuka seminar menyebutkan satu cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan menggali kembali keunggulan-keunggulan budaya dan kearifan local rakyat Aceh untuk ditumbuhkembangkan dalam kontek kekinian.

“Aceh penuh dengan kekayaan alam, sumber manusia ditambah dengan kemenuju kejayaan Aceha dan kearifan local yang dapat dijadikan tonggak kejayaan peradaban Aceh,” ujar Marwan dalam sambutannya di Ruang Aula FKIP Unsyiah, Sabtu (15/2).

Sementara itu Mawardi Umar, MA, ahli sejarah Aceh yang menjadi salah satu pemateri menyampaikan, kejayaan masa lalu dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi membangun Aceh.

Suatu ironi Aceh dinyatakan termiskin di Sumatera. Padahal Denys Lombard seorang pakar ketimuran asal Prancis pernah menuliskan,  ‘pada abad ke-17, Sultan Aceh adalah raja Pulau Sumatera yang tak ada tandingnya,” ungkap Mawardi.

Dia juga menyayangkan orang Aceh, sekarang ini kurang menghargai hasil karya budaya bangsanya, bukti kecil adalah banyaknya terbengkalai situs-situs yang dibangun untuk menghargai perjuangan orang-orang dahulu.

Mawardi juga mengungkapkan, secara geografis Aceh sanga strategis di mata dunia namun ironinya terpencil di peta nasional. “Beberapa pelabuhan Aceh dulunya persinggahan kapal-kapal mancanegara di bidang perdagangan. Namun kini karena jauhnya, terpencil di ujung barat Indonesia, Aceh menjadi seperti terpencil,” tukasnya.

Hal senada juga disampaikan Dr. Qismullah Yusuf akademisi dan pengamat kebudayaan Aceh. “Masyarakat Aceh terutama dari kalangan muda banyak yang telah lupa dengan kearifan lokal tanah leluhurnya,” ujar Qismullah.

Pemateri lainnya, Dr. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng menyebutkan, dari dulu hasil bumi Aceh banyak menjadi incaran mancanegara. Salah satunya adalah nilam. Namun ironinya petani nilam Aceh tak juga sejahtera.

“Karena itu kita melalui penelitian nilam secara berkelanjutan kini dapat telah dapat meningkatkan taraf hidup para petani Nilam.

Seminar Keacehan yang merupakan Pre-Event acara Kenduri Kebangsaan 2020 yang diinisiasi oleh Yayasan Sukma – Media Group dan Forbes DRP dan DPD RI perwakilan Aceh ini merupakan kegiatan yang sangat penting untuk memperoleh ide-ide dan masukan-masukan yang dapat direkomendasikan kepada Pemerintah untuk membangun Aceh di masa depan. (ra)