Rapat koordinasi distribusi pupuk subsidi. IST/RAKYAT ACEH

BLANGKEJEREN (RA) – Subsidi pupuk bagi Kabupaten Gayo Lues ternyata tidak disertai dengan biaya transportasi. Pengecer enggan dibebani ongkos transportasi, akibatnya pupuk tidak beredar pada awal Januari.

Padahal pupuk sudah masuk ke Gayo Lues 30 ton dari kuota 2500 ton untuk tahun ini. Dalam mengantisifasi permasalahan pupuk pada musim tanam tahun ini, Bupati Gayo Lues H Muhammad Amru berharap PT PIM dan distributor pupuk bersubsidi lainya untuk memberikan subsidi transportasi bagi distribusi pupuk ke wilayah Gayo Lues, seperti ke daerah lainya agar kelangkaan pupuk bisa di atasi.

Hal tersebut di ungkapkan Minggu (16/2) usai memimpin rapat distribusi pupuk bersubsidi.

Untuk memperlancar distribuai pupuk tahun ini Pemerintah Kabupaten Gayo Lues berencana membuat harga HET pupuk. Yang didalamnya juga sudah termasuk beban transportasi. Akan dilakukan bila tidak melanggar ketentuan dan peraturan hukum.

Sebelum HET di berlakukan sambil menunggu regulasi di buat, Bupati meminta agar pupuk yang sudah ada disalurkan terus dengan harga sementara yang sudah ditentukan dalam rapat.

Kepala Dinas Pertanian Gayo Lues, Zakaria SHut saat dikonfirmasi oleh sejumlah jurnalis mengatakan, kendala saat ini adalah pengencer atau kios-kios tidak mau menebus pupuk bersubsidi dari distributor karena diluar Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh karena itu mereka tidak bisa menjual.

“Setelah mendengar keluhan tersebut, kita mengadakan rapat kembali dengan Forkopimda untuk menyepakati harga jual seperti biasa sampai keluarnya keputusan yang dibuat oleh Bupati Gayo Lues,” kata Zakaria.

Beliau merincikan, harga jual yang harus diterapkan untuk zona 1 dan 2 yakni Blangkejeren, Blangpegayon, Dabuh Gelang, Kuta Panjang, Blangjerango harga jual harus Rp100.000, zona 3 Pantan Cuaca, Rikit Gaib dan Putri Betung harus menjual maksimal Rp105.000 dan zona 4 Terangun, Tripe Jaya serta Pining wajib menjual Rp110.000.

“Harga Ini sudah disepakati oleh Forkopimda, semoga kios-kios segera menebusnya, mengingat petani sangat membutuhkan pupuk bersubsidi tersebut,” terangnya.

Kadis menegaskan, sebenarnya tidak ada kelangkaan untuk pupuk bersubsidi ditahun 2019 lalu di Gayo Lues, karena barang yang masuk mencapai 1.700 ton. “Yang menjadi permasalahan kemarin kita didata untuk pupuk subsidi urea untuk sawah tetapi kita digunakan untuk komoditi lainnya seperti jagung,” jelasnya.

Bertambahnya pupuk bersubsidi tahun 2020 ini menjadi 2.500 ton, lanjut Zakaria, dikarenakan untuk seluruh jenis komoditi seperti padi, jagung, kopi dan untuk kebutuhan tanaman lainnya.

Lukman, distributor pupuk urea mengatakan permasalahan pendiatribution pupuk ke Gayo Luea ada diakomunikasi saja, mengingat subsidi ongkos angkut sudah tidak memadai lagi.

Ongkos yang diberlakukan sejak 2010 sampai saat ini masih dengan benar yang sama sementara ongkos sudah naik. Akibatnya untuk Gayo lues hanya sampai perbatasan saja. (yud/bai)