Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyerahkan cendera mata kepada Dubes Indonesia untuk India, Sidharto Reza Suryodipuro. (rakyat aceh/imran joni)

Laporan : Imran Joni – New Delhi

Program Pemerintah Aceh pada tahun 2020 ini membuka kerjasama dengan negara New Delhi, India. Ada beberapa program yang dilakukan sebagai tindak lanjut sebelumnya salah satunya adalah kerja sama percepatan ekonomi dan pembangunan konektivitas Aceh – Kepulauan Andaman dan Nicobar.

Dalam bidang ini menjadi salah satu poin penting untuk dapat memasukkan pendapatan bagi negara dan khususnya Aceh dan berdampak membuka lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan.

‘Kita akan action tidak lagi hanya diatas kertas tetapi ada out comenya,’ kata Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah sebagai Ketua Delegasi Pemerintah Aceh, Senin (17/2).

Pertemuan pertama pagi hari di New Delhi diterima Dubes Indonesia di New Delhi, Sidharto Reza Suryopradiro, didampingi Kementrian Luar Negeri dan pada hari pertama langsung mengadakan pertemuan dengan RITES yang merupakan BUMN India bidang perdagangan yang berhubungan dengan BPKS.

Pada siang harinya, delegasi bertemu dengan NITI Aayog (Bappenas India) rombongan diterima kepalanya R. P Gupta dan staf menyampaikan follow -up kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah India tentang shared vision on maritime cooperation.

Kata Nova kehadirannya ke India sebagai ‘jembatan’ atau pengantar perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah. Tetapi yang paling berperan di depan adalah para pengusaha Aceh yang tergabung dalam Kadin diketuai Makmur Budiman dan BPKS.
Adapun delegasi BPKS dipimpin Plt Islamuddin, T Ardiansyah dan Zulkarnaini.

“Ujung tombaknya dua lembaga ini agar mampu melakukannya dalam berbagai bidang jasa, transportasi dan teknologi maupun industri perikanan serta bidang kesehatan’, jelas Noval yang juga mengikutkan Asisten III Bukhari, Kadis Pariwisata, Jamaluddin, Karo Hukum Amrizal J Prang dan salah satu pimpinan DPRA Dalimi dan staf khusus Iqbal Farabi, pengusaha Aceh Ismail Rasyid serta media.

Untuk perdagangan tambah mantan ketua konsultan Aceh itu, saat ini di pulau Andaman dan Nikobar, sedang giatnya pembangunan maka bisa saja kita mengekspor bahan setengah jadi misalnya rangka pra cetak yang dulunya kita punya di Beurunuen, Pidie.

Sekarang kan masih belum bisa ekspor bahan mentah, seperti pasir atau batubata. Namun, kita kata Nova bisa ambil peluang di tengahnya saja artinya barang setengah jadi.

“Saya pikir peluang ini dengan kedekatan kepulauan antara keduanya yang sangat dekat hanya empat atau lima jam perjalanan laut menjadi banyak hal diperbuat’, katanya lagi.

Kita harapkan kunjungan ini dapat ditindak lanjuti dengan kerja keras sehingga dapat teruwud rencana aksi atau plan of action 2020-2024 bagi Pemerintah Aceh ke depan.
Kunjungan tiga hari ini sejak 17 – 20 Februari 2020 sebagaimana dikatakan staf kata Staf Khusus Gubernur Aceh Iskandar selain Ibukota India juga mengadakan pertemuan ke Chennai Tamil Nadu, dan Kepulauan Andaman Nicobar. (bersambung)