Ranteni bersama anaknya Supriadi yang menderita lumpuh layu, Senin (17/2). (nauval/rakyat aceh)

KUTACANE (RA) – Tidak sediki tpun senyum terlihat di wajah Supriadi (24) warga Desa Purwodadi, Kecamatan Badar, Aceh Tenggara.

Hari- hari si sulung dari empat bersaudara, hanya dihabiskan di selember karpet kumuh, berukuran 1×2 meter yang dibentang di ruang utama rumah papan, terletak sekitar 10 meter dari Jalan Raya. Begitulah sekilas nasib remaja penderita lumpuh layu pasangan Supian (57) dan Ranteni (42).

Sementara Ranteni kepada Rakyat Aceh mengatakan, pengobatan medis dan obat kampung sudah kerap kali dicoba, terlebih lagi perawatan di rumah sakit RSU Kutacane rutin diakukan. Namun kondisi putranya tidak menunjukkan pemulihan signifikan.

“Waktu Supriadi berumur 7 tahun, kata perawat dia (Supriadi) mengalami gizi buruk dan sempat dirawat di rumah sakit umum H Sahudin Kutacane. selama tiga bulan, namun kondisinya tetap sama dan kami putuskan untuk membawanya pulang kerumah,” kata Ranteni mengenang usaha mereka.

Pendapatan orang tua, yang hanya buruh kasar, dirinya hanya pasrah dengan kondisi putra pertamanya itu.

Ketika ditanya, penanganan atau bantuan dari pemerintah untuk anaknya, Ranteni mengaku belum pernah menerima donasi ataupun bantuan dari pemerintah baik Pemerihtah daerah, Pemerintah Aceh apalagi pemerintah Pusat.

“Bantuan dari orang –orang dermawan ada sesekali tapi kalau dari pihak dinas belum ada” jelasnya.

Sementara kondisi Supriadi, hingga kini terus menurun bahkan Raut wajahnya yang kini sudah persis seperti orang lanjut usia.

Tubuh Supriadi hanya dibalut tulang dan kulit, keluarga hanya bisa pasrah kepada yang mahakuasa dan berharap ada orang dermawan yang berkenan membantu.

“Saat ini kami hanya bisa berdoa kepada yang mahakuasa agar membukakan jalan kesembuhan putra kami, karena pendapatan Bapak anak- anak hanya cukup untuk makan, dna biaya sekolah riga adiknya”kata Ranteni.

Ketimpangan ekonomi keluarga memaksakan supriadi menanggung kondisi kesehatan yang kian memperihatinkan. (val/min)