Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, saat dimandikan oleh pemangku adat majelis Gayo di Desa Kelitu, Kecamatan Bintang. Bupati terlihat kedinginan saat guyuran air membasahi seluruh badan. Prosesi ini untuk membuang sial dan bangkit untuk pembangunan Aceh Tengah.JURNALISA/RAKYAT ACEH

Shabela Katakan Enjoy

TAKENGON (RA) – Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, dimandikan oleh Majelis Adat Gayo (MAG) di Kampung Kelitu Kecamatan Bintang, Kabupaten penghasil kopi arabika terbesar di Indonesia, dalam proses Munirin Reje (Memandikan Raja-red) tanpa kehadiran Wakil Bupati Firdaus.

Bupati Shabela dimandikan oleh pemangku adat sekitar pukul 06.00 wib pagi hari disaksikan oleh masyarakat, Sarak Opat dan Kepala Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) Aceh Tengah.

Bupati Shabela mengatakan, ketidak hadiran Wakil Bupati Aceh Tengah dalam prosesi sakral yang digelar perdana di pemerintahan Shabela-Firdaus itu dinilai, telah melanggar adat.

“Memenuhi tuntutan adat terkait prosesi Munirin Reje (memandikan Raja-red) kami tidak berani menolak, karena tujuannya baik, yaitu untuk membersihkan diri atau buang sial, jika Wakil Bupati tidak hadir selanjutnya terserah sama Majelis Adat, bukan kepada pemerintah,” kata Shabela kepada wartawan, usai Apel bersama hari jadi Kota Takengon ke-443 di lapangan Setdakab setempat, Senin (17/2).

Menurutnya, ketidak hadiran Wakil Bupati Aceh Tengah dalam prosesi adat itu tidak jadi masalah, Bupati bertanggung jawab penuh atas tugas pemangku adat (Ulu Rintah-red Gayo).

“Saya bertanggung jawab disini, tidak ada pendamping saat dimandikan tidak ada masalah, malah lebih enjoy, jika tidak dimandikan sudah menyalahi adat bukan menyalahi masalah pemerintahan,” terang Shabela.

Selanjutnya kata Bupati Aceh Tengah, pihaknya akan membuat regulasi (Perbup/Qanun) menyangkut program munirin reje yang akan digelar selama setahun sekali. “Akan kita Perbup-kan, pelan-pelan akan kita benahi yang belum lengkap, supaya masalah adat kita kembalikan ke adat terdahulu,” urai Shabela Abubakar. (jur/bai)