Tak Terbukti Secara Akademik Barus Titik Nol Islam Hanya Pernyataan Politis Jokowi

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA

Quote; Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA
“Barus titik nol Islam itu adalah pernyataan politis, bukan pernyataan akademik atau berdasakan kajian akademis,”

BANDA ACEH (RA) – Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA mengatakan, penetapan Barus, Sumatera Utara, sebagai titil nol masuknya Islam oleh Presiden Jokowi hanyalah suatu pernyataan politis.

“Barus titik nol Islam itu adalah pernyataan politis, bukan pernyataan akademik atau berdasakan kajian akademis,” ditandaskan Azyumardi Azra usai seminar Seminar Nasional, Aceh Pusat Peradaban Islam Terawal di Asia Tenggara yang dilaksanakan di Gedung Pascasarjana UIN ArRaniry, Banda Aceh, Senin (17/2).

Selain Azyumardi Azra, pemateri lainnya yang mengisi seminar yakni Edmund Edwards McKinnon, Ph.D (Arkeolog Independen, Peneliti Situs-Situs Sejarah di Sumatera) dan Prof. Dr. Misri A. Muchsin, M.Ag Guru Besar Sejarah Pemikiran Modern Dalam Islam FAH UIN ArRaniry.

Disampai Azyumardi Azra, sejarah dikemukan atau ditulis, diteliti tujuannya adalah untuk beberapa kepentingan, salah satunya untuk kepentingan politik, tapi ada juga demi kepentingan akademis.

“Nah secara akademis, pernyataan Barus sebagai titik nol belum bisa dibuktikan. Sementara Aceh, sebagai pusat peradaban jelas ada buktinya, terlampau banyak malah buktinya,” tukasnya.

Dikatakannya, di Barus tidak ada bukti-bukti otentik tentang peradaban Islam selain kuburan kuno yang terdapat di Papan Tinggi, Barus. Berbeda dengan Aceh yang memang merupakan pusat intelektual Islam yang pertama di Asia Tenggara.

Diungkapkannya juga kitab fiqih pertama yang dituliskan kedalam bahasa melayu, dengan tulisan arab melayu, di Asia Tenggara ini adalah Kitab Sirath Al-Mustaqim karyanya Ulama Aceh, Ar-Raniry. Hingga sampai pada akhir abad XIX, Ulama-ulama Aceh beserta kitab-kitabnya menjadi rujukan bagi Ummat Islam di Asia Tenggara.

Sementara itu Edmund Edwards McKinnon dalam materinya menyampaikan, dia telah banyak mengumpulkan atau menelaah manuskrip-manuskrip yang menyatakan peradaban Islam di Aceh.

Diungkapkanya, berlatar belakang Seismologi dan Geologi sebagai Kota Tua Islam pertama di Asia Tenggara, Fansur Kota Tua Islam diduga kuat berada di Aceh.

Hal ini merupakan hasil penelitian ilmuan sejak tahun 2004, Earth Observatory of Singapore kerjasama dengan Univesitas Siahkwala. Beberapa situs yang sejak puluhan tahun lalu ditelitinya juga membuktikan danya peradaban Islam di Aceh.

“Hasil penelitian kami telah menganjurkan bahwa lokasi Fansur adalah di Lhok Pancu / Lhok Lambaroneujid sekitar beberapa kilometer sebelah barat dari kota Banda Aceh sekarang. Lokasi ini sesuai dengan tulisan Arab dari abad ke-9 di mana mereka sebutkan bahwa Fansur dan Lamri adalah berdekatan,” ungkapnya.

Sementara Prof. Dr. Misri A. Muchsin, M.Ag mengatakan, banyak ahli berpendapat menyebutkan daerah yang mula – mula menerima Islam di Nusantara adalah Peureulak atau Perlak.

Begitu juga kerajaan Islam tertua adalah kerajaan Islam Peureulak dan Samadra Pase yang juga di Aceh.

Samudra adalah negeri yang pernah disebutkan oleh Rasulullah SAW dan diharapkan mubaligh ada yang menuju kesana, dan atas dasar itu pula di kemudian hari ada satu rombongan dalam satu kapal yang dinakodai oleh Syeikh Ismail mencari dan berlayar ke Samudera dengan berlabuh di Peureulak. (min)