Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah didampingi pimpinan DPRA Dalimi menyerahkan cinderamata kepada Ketua Kadin Provinsi Chennai India Chozha Naachiar Rajasekar, Selasa (18/2). (Imran joni/rakyat aceh)

Gubernur Chennai dan Kadin Menyambut Baik

CHENNAI (RA) – Chennai merupakan salah satu provinsi di India terbanyak penduduknya yakni 10 juta jiwa setelah Mumbay di New Delhi. Negeri di pinggiran laut dan dekat Aceh itu sangat padat aktivitasnya terutama bidang industri, teknologi dan university.

Bagi Aceh, Chennai merupakan moment untuk ambil bagian dan memanfaatkan kedekatan kepulauan Andaman dan Nikobar khususnya bidang kelautan, tourism dan transportasi di Sabang.

Untuk ini, delegasi Aceh dipimpin Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah melakukan pertemuan dengan Gubernur Chennai Tamil Nadu, Banwanihal Purohit dan menyambut baik kedatangan tim Aceh ke wilayahnya yang kini sedang membangun dalam sepuluh tahun terakhir.

“Kita akan beri tugas kepada Kadin Aceh dan BPKS Sabang untuk menindaklanjuti apa yang sudah digagas pemerintah Aceh dalam kunjungan ini’, ujar Nova didampingi pimpinan DPRA Dalimi dan Asisten III di Chennai, India, Selasa (18/2).

Salah satu pengusaha Aceh, Ismail Rasyid turut memaparkan beberapa peluang investasi yang bisa dilakukan kerjasama keduanya yakni bidang industri yang ada di Lhokseumawe (Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Industri Aceh (KIA) di Ladong, Aceh Besar, Calang. Aceh Jaya dan pelabuhan perikanan Lampulo Banda Aceh.

Beberapa kawasan di Aceh ini kata Ismail cukup punya peluang bagi investor khususnya pengusaha dari Kadin Chennai dapat menjalin kerjasamanya dalam perdagangan ekspor – impor, jasa ataupun industri yang juga ada di Sabang.

“Sabang sangat layak dijadikan kawasan tourism dan jasa karena punya pelabuhan laut internasional dimana setiap tahun disinggahi kapal pesiar dari luar negeri’, kata Islamuddin Plt Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS).

Begitu juga peluang kerjasama sain tekkologi antara University Chennai dan Universitas Syiah Kuala dalam rangka pertukaran ilmu justru sangat bermanfaat dalam pengembangan teknologi.

Mewakili Kadin Aceh, Cipta Makmur juga menyampaikan paparan singkat terkait peluang bisnis yang dapat dilakukan kedua pihak kedepan. “Kita membuka kran bisnis seluasnya investasi bagi pengusaha Chennai’, katanya. Tentunya ke depan yang perlu adalah konektivitas Aceh – Chennai apalagi

Pemerintah Aceh telah memberikan kemudahan administrasi sehingga dalam hal administrasi tidak berbelit atau terlalu lama.

‘Kadin Aceh siap menerima teman-teman dari Kadin Chennai yang diketuai Chozha Naachiar Rajasekar; ujar Makmur Budiman.

‘Mudah-mudahan langkah awal ini akan terwujud dengan saling percaya dan kejujuran kita semua untuk membangun Aceh lebih baik ke depan’, demikian Nova.

Sebelumnya delegasi Aceh melakukan pertemuan dengan Menteri luar negeri India malam hari yang difasilitasi Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia di New Delhi, Sidharto R Suryopurnomo.

Di sela-sela kunjungannya, Nova Iriansyah juga mengunjungi Universitas Madras di Chennai, India dan diterima Rektor Prof P Duraisamy bersama staf. Kunjungan perdana inu guna menjajaki kerjasama dengan Universitas Syiah Kuala yang diwakili Hizir Sulaiman, Selasa (18/2)

Penandatangan letter of intens (loi) itu dilakukan keduanya sepakat tiga hal pertama pertukaran pelajar, penambahan pengalaman bagi staf rektorat dan riset.
Saya pikir rugi kalau tidak kita manfaatkan peluang kerjasama yang sudah terjalin sejak lama antara Aceh dengan India”, ujar Nova.

Dalam CBCS Handbook 160 tahun Universitas Madras pada 2018 merupakan tertua di Tamil Nadu, Chennai, India mengisahkan ilmunya yang paling tinggi sosial politik dan manajemen bisnis.

Thiarma mahasiswi asal Sumatera Utara yang sudah dua tahun belajar di Madras mengambil jurusan master fisika mengatakan biaya kuliah disini sangat murah dan banyak diminati mahasiswa lain dari Indonesia.
‘Saya mendapat beasiswa dari kedutaan India di Sumatera Utara selama dua tahun’, ujarnya saat menemani delegasi Aceh. (imj)