Rusmadi - Redaktur Harian Rakyat Aceh

Oleh: Rusmadi

Rakyat tentu mendambakan seorang pemimpin berbudi pekerti baik, berakhalqul karimah, dekat dan selalu memperhatikan kebutuhan rakyatnya. Seorang pemimpin di negeri ini, baik sebagai Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, bahkan hingga paling rendah memimpin desa dengan sebutan pak Keuchik. Pemilihan ini dilakukan secara demokrasi, di mana rakyat langsung terlibat di dalam memberikan hak suaranya dengan datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Setiap calon pemimpin yang diusung dan diusul oleh partai politik maupun polling yang dilakukan masyarakat sesuai dengan hati nurani rakyat. Kita bisa melihat dengan munculnya beberapa calon kepala negara atau kepala daerah sudah melewati berbagai tahapan seleksi. Baik seleksi tes kesehatan maupun tes administrasi. Di Aceh sesuai dengan daerah keistimewaan maka bagi calon kepala daerah di tes mengaji alquran.

Negara Indonesia dengan sistem demokrasi menganut partai politik yang melibatkan rakyat langsung, bisa dikatakan segala kerja dan aktifitas pemerintah dipantau oleh rakyat. Setiap pemimpin tidak ada yang salah, hanya saja terkadang pemimpin yang tidak memikirkan rakyatnya menyalahkan kekuasaan dan kebijakan dengan lebih mementingkan pribadi maupun kelompoknya.

Sebagai rakyat tentu menerima dengan senang hati siapa pun pemimpinnya terlepas dia seorang muslim atau non muslim. Bila seorang pemimpin non muslim dan yang dipimpinnya itu mayoritas Islam maka ada beberapa kriteria yang perlu penjelasan dari ulama kharismatik maupun dari imam mazhab.

Artinya, bagaimana pandangan pemimpin non muslim menurut Almawardi dalam kitab Al Ahkam Al Shultaniyah (hukum hukum kekuasaan). Imam Ibnu Taimiyah dalam Al Siyasah Al Syar’iyah yang menetapkan dua syarat umum bagi seorang pemimpin muslim yaitu al quwwah waal amanah (kekuatan dan amanah).

Almawardi menyebutkan bahwa kepemimpinan politik dalam Islam bertujuan untuk meneruskan misi kenabian dalam menegakan agama dan mengatur urusan dunia. Sebagai seorang pemimpin, sudah pasti ada yang pro dan kontra, ada yang senang ada pula yang tidak senang. Bagi yang merasa dekat dengan seseorang tentu menganggap itu segala keputusan dan kebijakan yang diambil sudah tepat.
Seorang pemimpin yang baik tetap berjalan di atas koridornya, menjaga amanah dan tidak berkhianat kepada rakyatnya.

Selain itu, seorang pemimpin dapat menyatukan umat dan mengajak kepada jalan kebaikan serta segala keputusan berpihak kepada rakyat dan mengesampingkan dulu sebagai ketua atau pun pengurus partai.

Inilah apa yang disampaikan, Ketum PP Muhammadiyah, KH. Prof Haedar Nashir, ketika para elite suatu negeri memiliki perangai Ruwaibidhah, maka sejak itulah kekisruhan berbangsa datang silih berganti. Betapa penting isi hati dan kepala para pemimpin yang berlongga luas dan kaya.
Kita paham, tidak semua pemimpin itu bisa memberikan rasa puas dan sepuas puasnya kepada rakyatnya, dengan apa yang diinginkan dari jumlah penduduk dalam negeri tersebut.

Seorang pemimpin yang baik, dengan program membantu anak yatim, membantu keluarga miskin, meningkatkan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya tentu sebuah harapan yang ingin dirasakan bagi rakyat. Dengan program yang menyentuh langsung itu tentu pemimpin akan mendapatkan nilai kebajikan. Namun perlu diingat bila pemimpin berbuat curang maka rakyat akan mengenangnya sebagai pemimpin yang jauh memperhatikan apa yang dipimpinnya itu.

Seorang pemimpin yang baik tentu dengan memiliki sosok sosok negarawan yang cerdas dan menjunjung tinggi nilai kebaikan.

Untuk menjadi panutan apa yang telah disampaikan khalifaurrasyidin Abu Bakar Razialllahuanhu, ketika ia menjadi seorang pemimpin menggantikan Rasulullah, dengan kata kata memegang amanah itu berat, kalau saya benar dalam menjalankan tugas maka bantu saya, kalau saya salah tolong perbaiki saya. Maka, bila seorang pemimpin yang berpikir dan berjiwa besar seperti Abu Bakar, tidak ada perdebatan panjang. Sebab yang dambakan rakyat dari pemimpin selalu mendengarkan apa yang dirasakannya dan masukan masukan itu diterima pemimpin.

Selama ini, kita bisa melihat hanya sebagian kecil seorang pemimpin yang berjiwa seperti Abu Bakar. Hanya saja selama ini hampir kebanyak pemimpin memperlihatkan keberhasilan keberhasilan dari segi pembangunan maupun dari segi mempercepat menghabiskan anggaran negara, atau berlomba dalam tingginya APBD atau APBA.

Bukankah setiap pemimpin yang terpilih dilantik dan diambil sumpah bahkan bersaksi di hadapan kitab suci umat Islam yakni Alquran dan disaksikan ribuan hadirin dan undangan. Patutkah seorang pemimpin yang melenceng dan menyalahi aturan kekuasaannya untuk di protes dan di demo.
Imam Ibnu Taimiyah, melarang pemimpin di demo sebab ketika terpilih mereka sudah sudah dilantik dan bersumpah.

Untuk memberikan protes kepada pemimpin dengan cara cara yang elegan, apalagi ada lembaga legislatif yang bisa menyampaikan aspirasi masyarakat langsung kepada eksekutif. Legislatif sebagai wakil rakyat diminta supaya respon terhadap persoalan apa yang sedang dialami rakyat. Kalau pun aspirasi tidak direspon maka sebagai negara demokrasi boleh boleh saja melakukan demo. Sebab demo diatur dalam uu dan harus ada izin dari pihak yang berwenang.

Di dunia kampus, demo yang dilakukan mahasiswa untuk membangunkan dan menbangkitkan pemimpin yang sedang tidur pulas. Sehingga aksi nyata yang dilakukan mahasiswa jangan sampai tidur berkepanjangan seorang pemimpin.

Dalam demo, sebuah aksi damai dan tidak boleh anarkis. Namun terkadang kita melihat demo anarkis terjadi karena ada yang menggembar gembor dan memanas manaskan situasi. Sehingga demo sering terjadi anarkis.

Kalau kita lihat ke sejarah bagaimana khalifar Umar bin Khattab dalam memimpin rakyatnya, seorang amirul mukminin, setiap pertengahan malam beliau keluar dan membawa gandum yang ditarok di depan pintu rumah rakyatnya.

Kebajikan Umar ini terus dilakukan semasa hidupnya, tidak ada yang tahu, kecuali isteri beliau sendiri. Dengan beratnya muatan gandum yang dibawa Umar sempat berbekas di bagian bahunya.

Di mana ketahuan apa yang dilakukan Umar ini, ketika ia sakit dan sakratul maut. Ketika Umar sudah tiada, di sinilah rakyatnya tahu bahwa yang mengantar gandum setiap malam di depan pintu selama ini khalifar Umar bin Khattab.

Di Aceh dengan jumlah penduduk lebih dari 5 juta jiwa, kepada pemimpin Aceh supaya dapat mengayomi masyarakat dengan memberikan lapangan pekerjaan, mengurangi angka pengangguran, dan bisa mengurangi tingkat kemiskinan. Paling tidak tingkat kemiskinan berada pada posisi terakhir di sumatra, artinya berusaha pada tingkat 2 dari bawah bukan dari atas. Semoga. Wallahu alam bisswab.

Penulis adalah Redaktur Harian Rakyat Aceh.