Tim BKSDA Aceh memeriksa kesehatan gajah yang terjerat ranjau baja diperkebunan masyarakat Pantan Lah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Senin (24/2).SAHRUL RIZAL/TIM CRU

REDELONG (RA) – Seekor anak gajah yang sedang sakit akibat terjerat seling baja di Kampung Pantan Lah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, harus mendapatkan perawatan intensif dan di evakuasi ke Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Sare Aceh Besar.

Gajah dalam kondisi sakit dan terluka parah pada bagian kaki tersebut sebelumnya ditemukan oleh warga dikawasan perkebunan masyarakat Kampung Pantan Lah, Jumat (21/2) lalu.

Manajer CRU Das Peusangan, Syahroel Rizal ketika dikonfirmasi Rakyat Aceh, Selasa (25/2) menyampaikan, setelah mendapat laporan dari warga pihaknya langsung turun kelapangan dan melihat langsung kondisi gajah yang tidak dapat bergerak lagi.

“Warga sebelumnya tidak tahu bahwa anak gajah itu terjerat seling baja, yang mereka tahu anak gajah itu sakit dan tidak bergerak lagi dan setelah kita lihat kaki kiri anak gajah tersebut terjerat seling baja dan mengalami luka yang sangat dalam,” ungkap Syahroel Rizal.

Menurutnya, anak gajah itu sudah terjerat lebih dari satu minggu sementara pihaknya baru menerima laporan dari warga tiga hari yang lalau. “Kami langsung melapor ke BKSDA Aceh dan selanjutnya pihak balai mengirimkan dua orang dokter hewan dari PKSL Unsyiah dan dokter dari balai BKSDA,” ujarnya.

Ia menamabahkan, kedua dokter tersebut langsung melakukan pemeriksaan membuka jerat seling baja yang berukuran 10 mm. ”Akibat lukanya yang dalam dan tidak bisa di obati dilokasi dokter memutuskan anak gajah itu harus dirawat di PLG Sare,” jelasnya.

Rijal menyebutkan, langsung melakukan evakusi terhadap anak gajah yang terluka dengan membawa satu ekor gajah jinak dari lokasi perkebunan masyarakat ke pinggir jalan sehingga dapat di angkut mengunakan mobil truk milik BKSDA menuju ke Kampung Negeri Antara.

Setelah tiba di negeri antara, kedua dokter tersebut kembali melakukan perawatan sambil menunggu konfirmasi dari pihak Dirjen Konservasi Sumberdaya alam dan ekosistem Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KSDAE KLHK) apakah harus dilepas kembali atau dibawa dan diobati secara intensif di Sare.

”Untuk menangkap dan mengevakuasi gajah liar harus ada izin dari Kementrian,” tegasnya.

Usai melakukan peninjauan lapangan bersama Bupati Bener Meriah Tgk H Sarkawi, Dirjen KSDAE KLHK Wiratno langsung menuju Kampung Negeri Antara untuk melihat langsung kondisi gajah yang sedang dirawat dan memerintahkan untuk mengevakuasi dan mengobati anak gajah secara intensif di PLG Sare, Aceh.

Sebelumnya sejumlah masyarakat setempat sempat melarang untuk membawa anak gajah tersebut ke PLG, akibat khawatir induk gajah liar tersebut akan mencari dan mengamuk ke perkampungan.

Namun, setelah perdebatan Dirjen tetap memutuskan agar anak gajah tersebut di rawat secara intensif di PLG Sare dan menurut tim CRU anak gajah tersebut sudah berpisah dengan kelompoknya sehingga tidak memungkinkan gajah liar yang lain melakukan pencarian.

Sementara itu, sebelumnya saat berkunjung ke lokasi CRU DAS Peusangan Dirjen KSDAE KLHK Wiratno mengajak semua elemen untuk membersihkan seling baja di daerah yang sering dilintasi oleh gajah liar sebab selain membahayakan gajah juga dapat berbahaya bagi manusia.

“Saya yakin jerat tersebut di buat oleh manusia untuk menjaga kebun atau ladangnya dari ganguan gajah liar namun jerat tersebut sangat berbahaya bagi gajah dan manusia, sebab sudah ada korban manusia di Sumatra akibat jerat yang dipasang,” ungkapnya.

Ia juga berharap, kedepannya tidak ada lagi gajah liar yang terjerat oleh seling baja. “Hari ini kita melihat langsung kondisi lapangan agar dapat mengambil langkah-langah yang dilakukan sehingga konflik gajah dan masyarakat dapat teratasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya mengaku akan menggali bareil alami dan membuat baril buatan dengan melakukan penanaman tanaman yang tidak disukai oleh gajah seperti haknya lemon dan nilam. (uri/bai)