Faisal Rusdi, Pelukis yang Menderita Cerebral Palsy

TAK MAU DIKASIHINI: Faisal Rusdi di antara lukisan buatannya yang dipajang di rumahnya, daerah Kiaracondong, Bandung, Jabar. Dia juga memperlihatkan caranya melukis. (Imam Husein/Jawa Pos)

Sempat Ditolak Asosiasi karena Melukis dengan Tangan

Terlahir dengan kondisi fisik tak sempurna tak mematahkan asa Faisal Rusdi. Penderita cerebral palsy sejak berusia 6 bulan itu tahu harus punya kemampuan untuk hidup mandiri. Jatuh cinta pada dunia lukis, Faisal sudah terdaftar sebagai anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) 18 kali berturut-turut.

DIMAS NUR APRIYANTO, Bandung, Jawa Pos

BEL elektrik portabel itu tergeletak di ruang tamu rumah Faisal, daerah Sukapura, Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat. Bel itu digunakan saat pria 45 tahun tersebut membutuhkan bantuan. ’’Dipencet buat memanggil pendamping saya, Kurnia Solihin,’’ kata Faisal.

Faisal tinggal di rumah itu bersama sang istri, Cucu Saidah, dan pendampingnya yang selalu siaga menemani. Saat wawancara, Cucu sedang berada di Palu, Sulawesi Tengah. Faisal mengungkapkan, Cucu memang supersibuk. Dia bekerja di bidang advokasi untuk penyandang disabilitas. ”Di Palu, Bu Cucu meninjau lokasi pascagempa dan tsunami. Apakah fasilitas publiknya untuk penyandang disabilitas sudah dibangun kembali,” terangnya.

Cucu dan Faisal sama-sama penyandang disabilitas. Namun, Cucu yang mengalami kelainan fisik bawaan sejak lahir masih bisa berjalan. Sementara Faisal yang terkena cerebral palsy lumpuh total.

Faisal menyadari, dirinya harus memiliki keterampilan yang bisa dijadikan pekerjaan. Supaya dirinya bisa mandiri secara finansial. Faisal lalu mendaftar ke sanggar lukis milik Barli Sasmitawinata, Sanggar Gempol, Bandung.

Namun Faisal keluar. Dia menilai kemampuan melukisnya tidak berkembang. ”Guru-gurunya juga tidak komunikatif,” ungkapnya.

Sebelum keluar, dia memperoleh informasi dari salah seorang guru mengenai Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Di Indonesia, ada sembilan orang yang tergabung dalam AMFPA yang merupakan asosiasi para pelukis menggunakan mulut dan kaki.

Faisal ingin bergabung. Namun, pada kedatangan pertama, dia ditolak karena masih melukis hanya dengan tangan. Namun, tekadnya tak luntur. Dia menemui salah seorang mantan guru di Sanggar Gempol. Dia mulai belajar melukis dengan kaki dan mulut.

Terus berusaha memenuhi syarat yang diminta, pada 2002 Faisal resmi diterima sebagai anggota asosiasi yang memiliki kantor pusat di Liechtenstein, Jerman, itu. Statusnya masih anggota pelajar (student member). Di atasnya ada status anggota rekanan dan status anggota penuh.

”Anggota penuh itu diisi pelukis yang telah menghasilkan karya berkualitas dan dikenal luas,” jelas pelukis aliran surealis itu.

Anggota AMFPA wajib mengirimkan enam karya setiap tahun. Lukisan itu akan direproduksi menjadi kartu ucapan, kalender, hingga mug. Per bulan, setiap anggota mendapat gaji. Besarannya beragam disesuaikan dengan status anggota. ”Saya? Bisa Rp 7 juta–Rp 8 juta,” ucap Faisal.

Pada 2016, Faisal ke Australia mengikuti istri yang mendapat beasiswa S-2 bidang kebijakan publik di Flinders University, Adelaide. Sang istri berangkat dulu, Faisal menyusul. Waktu mengurus dokumen tinggal sementara di Australia, Faisal diminta membuat proposal.

”Isinya tentang yang akan saya lakukan di Australia. Mungkin takut dianggap merepotkan negara. Karena saya tidak bisa membawa asisten,” katanya.

Selain di dunia seni lukis, Faisal aktif mengadvokasi penyandang disabilitas Bandung. Dia membentuk komunitas Bandung Independent Living. Bersama empat teman, termasuk sang istri, dia membuat aktivitas sosial Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT) pada 2012.

”JBFT mempertemukan para penyandang disabilitas dan nondisabilitas dalam sebuah kegiatan. Misalnya, menyelam bersama. Tujuannya? Supaya nondisabilitas memahami bahwa penyandang disabilitas bisa hidup berdampingan,” terangnya.

Faisal tak ingin dirinya dikasihani. Jika merasa masih sanggup melakukan sesuatu, dia akan melakukannya sendiri. (jpg/min)