Ibu Kepsek dan Wakil Dicambuk

WA, Ibu Kepala SMA di Kabupaten Aceh Jaya menjalani uqubat cambuk 30 kali di Taman Sari, Kota Banda Aceh, Senin (2/3) siang. (al amin/rakyat aceh)

Melanggar Qanun Aceh tentang Hukum Jinayat

BANDA ACEH (RA) – Kejaksaan Negeri Banda Aceh mengeksekusi delapan terhukum pelanggar Qanun Aceh No 6 tentang hukum jinayat, di Taman Sari, Kota Banda Aceh, Senin (2/3) siang.

Diantara mereka terdapat Ibu Kepala SMA di Kabupaten Aceh Jaya beserta wakilnya. Kepala SMA, AW, kepergok mesum dengan wakilnya, digerebek suaminya di sebuah hotel di Banda Aceh pada Oktober 2019 lalu. Keduanya
dicambuk masing-masing 25 kali.

Mahkamah Syariah (MS) Aceh memutuskan Ibu Kepsek AW dan wakilnya HO (35) dinyatakan bersalah melanggar pasal 25 ayat 1 Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Putusan MS Aceh menjatuhkan hukuman sebanyak 30 cambuk kepada masing-masing terdakwa. Namun, mereka hanya menjalani 25 kali cambukan karena telah dikurangi masa tahanan.

AW terlebih dulu dihadirkan ke atas panggung. Dia mengenakan baju putih yang dipakai setiap terpidana. Eksekusi cambuk terhadap AW dilakukan oleh algojo perempuan.

Dia disabet sebanyak 25 kali dalam posisi duduk. Setelah AW selesai menjalani hukuman, giliran HO dihadapkan ke algojo pria.

Dia dicambuk dalam posisi berdiri. Eksekusi terhadap keduanya berjalan lancar. Keduanya tidak pernah mengangkat tangan tanda menyerah saat rotan mendarat di punggung.

Selain itu, terdapat enam orang lainnya atau yang juga dihukum cambuk. Lima diantaranya merupakan kasus Iktilath (campur baur laki-laki dan perempuan). Mereka dicambuk bervariasi, antara 21 kali sampai dengan 42 kali cambukan.

Peremas Payudara Dicambuk 42 Kali
Dari keenam terhukum tersebut, dua diantaranya merupakan kasus yang ditangani pihak kepolisian dan dilimpahkan ke mahkamah syariah Aceh. Satu diantaranya merupakan kasus pelecahan seksual berinisal WM. Dia dicambuk 42 kali.

“Ada tujuh kasus Ikhtilath yang dicambuk hari ini dan satu kasus pelecehan seksual. Mereka ini ada yang ditangkap di Panteriek, Peulanggahan, dan hotel. Kasus pelecehan dari Polresta Banda Aceh,” ujar Kepala Satpol PP dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh, M Hidayat saat ditemui awak media di lokasi, Senin (2/3).

Baca Juga...  Jumat Barokah, Persit KCK Ranting 5 POM dan Pomdam IM Bantu Warga Kurang Mampu

Diketahui, hukuman cambuk untuk kasus pelecahan seksual ini baru kali ini diterapkan. Menurut Hidayat, pelecehan seksual juga termasuk pelanggaran syariat Islam.

Pelecehan seksual dengan cara meremas payudara dengan terhukum berinisial WM (27), warga Kota Banda Aceh, menjalani eksekusi hukum sebanyak 42 kali cambuk di depan umum. WM dijerat menggunakan pasal 46 Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat.

Nama WM merupakan terdakwa terakhir yang menjalani eksekusi. Saat menuju ke atas panggung, dia dikawal oleh petugas Wilayatul Hisbah hingga proses hukuman selesai.

Hukuman cambuk terhadap pelaku pelecehan seksual tersebut merupakan perdana dilakukan di Banda Aceh. Pantauan kumparan, saat di atas panggung WM tampak meringis kesakitan.

Wajah WM terus menunduk dari saat pertama menerima cambukan algojo. Namun, proses hukuman tersebut dijalaninya hingga selesai. (min)