Pelatih Persiraja, Hendri Susilo.

Harianrakyataceh.com – Hendri Susilo punya andil besar bagi Persiraja. Ia membawa tim kebanggaan masyarakat Aceh itu promosi dari Liga 2 ke Liga 1. Pencapaian tersebut diperoleh tidak semudah membalikkan telapak tangan, melewati jalan panjang penuh liku. Namun berkat kebersamaan semua pihak, kemauan manajemen, kerja keras pemain, dukungan suporter dan doa masyarakat Aceh, Laskar Rencong ditakdirkan kembali ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia tahun 2020.

Tahun lalu, beberapa hari menginjakkan kaki di Banda Aceh, Harian Rakyat Aceh meliput khusus tentang pandangannya terhadap persaingan Liga 2. Edisi tersebut tayang Selasa 21 Mei 2019. Hendri sempat kaget kala melihat segala persiapan dan fasilitas yang ala kadar milik Persiraja. Tapi, ia yang notabene lahir dari ayah seorang TNI, pantang menyerah. Menyiasati keadaan dan memupuk optimisme, tidak hanya bagi pemain, terutama untuk dirinya sendiri terlebih dahulu.

Sebagai mantan striker timnas Indonesia, dulu ia dikenal dengan sebutan ‘striker pemalas’, tapi kelebihannya adalah penyelesaian akhir yang nyaris sempurna. Ada peluang, gol! Secara umum, Hendri memiliki karakter yang kuat. Berbicara yang penting, dan bercanda kepada mereka yang ia kenal. Dua hal yang identik dari pelatih kelahiran Bukittinggi itu, tenang dan jeli memanfaatkan pendekatan psikologi.

Ia percaya pada dasarnya sepakbola itu simpel, menyerang, bertahan juga transisi. Katanya, banyak referensi sepakbola di dunia ini seperti yang diberikan pada modul kepelatihan dari D hingga A. Ada yang style Belanda, Spanyol, Inggris, dan sebagainya. Itu semua penting, sebagai referensi. Tapi Hendri lebih suka penggabungan. Selain itu, meski saat ini sepakbola sudah memasuki era modern, ia lebih suka pendekatan tradisional.

Sejak mengarsiteki Persiraja, hal utama yang ia benahi adalah aspek mentalitas pemain. Selain itu, Hendri turut menganalisa karakteristik daerah. Baginya Aceh terkenal keras, dan jiwa militansi tak pernah luntur. Kepada para pemain, khususnya Aceh, ia menyampaikan bahwa, kalian sudah melewati masa konflik, perang, kuat! Sudah pernah digoyang dan dihempas gempa dan tsunami, sudah teruji. Jadi, mainlah sekuat tenaga, buat Aceh bangga. Sepakbola tidak memuat kalian mati.

Hal-hal seperti itu pada akhirnya meletupkan semangat berlipat-lipat para pemain Persiraja. Mulanya tak ada yang menyangka laju Persiraja akan jauh, tapi berkat doa dan militansi, Laskar Rencong finish sebagai pemuncak klasemen. Ujung kisah, menjadi juara III dan berhak promosi ke Liga 1. Di musim 2020 ia bertekad mengulangi kesuksesan yang sama, kepada jurnalis Harian Rakyat Aceh, Ichsan Maulana dalam edisi Tanya Jawab (T&J), Hendri berbicara tentang proses panjang Liga 2, serta pandangannya mengenai persaingan Liga 1. Tekadnya bulat, minimal mampu membawa Persiraja bertahan di Liga 1.

Apa kekuatan Persiraja sehingga promosi ke Liga 1?

Sebetulnya kekuatannya ada pada pemain. Jadi kekompakan, semangat juang dan pantang menyerah ini adalah semangat-semangat luar biasa. Pemain sepakat untuk ayo sama-sama tembus ke Liga 1.

Saya sebagai pelatih waktu itu hanya mengakomodasi, memberikan semangat juga psikologis, mentalitasnya. Saya sebetulnya banyak main di situ. Saya kumpulkan anak-anak, saya kasih pencerahan; ayo kapan lagi!? Kapan lagi kita buat sejarah untuk Aceh ini. Semacam itu.

Saat pertama menginjakkan kaki di Aceh, di edisi wawancara sebelumnya, Hendri sempat kaget. Nah, seiring berjalannya waktu, adakah momen yang menjadi titik balik?

Jujur ya, sebelum saya kemari yang saya dengar sepakbola di Banda Aceh itu maju. Tapi pas saya tiba kok seperti itu ya. Sarana dan prasarananya sangat tidak menunjang sebetulnya waktu itu. Saya juga sempat terkejut.

Dalam proses perjalanan ke depannya, saya jujur, kalau begini apa bisa? Waktu itu saya berpikir, oh ini harus banyak saya rubah. Setelah beberapa minggu, saya bertanya ke Pak Rahmat (Sekum Persiraja), ternyata yang sangat mendasar waktu itu, finansial juga tidak mendukung.

Melihat kondisi tersebut, makanya tim ini saya rancang lah, sesuaikan dengan finansial. Makanya kenapa saya banyak rekrut anak-anak Aceh? Karena saya simpel aja, kalau dia bela ‘negara’ pasti semangat dan mudah diakomodir.

Kebetulan juga yang membantu saya seperti Feri Komul. Saya udah kenal, lama di Persija. Ada Defri Rizky juga. Ada beberapa anak eks Pekanbaru; PSPS (Andhika, Zamrony, Andre, dll). Saya sudah paham karakter, jadi mereka ini yang menjembatani ke teman-temannya.

Boleh disebut momen paling sulit dan membahagiakan di Liga 2?

Tersulit di awal-awal persiapan, saya juga sempat frustasi. Sama seperti di awal-awal persiapan Liga 1 tahun ini. Saat itu, apa-apa gak ada, dari dapur sampai ke latihan -maaf ya- tim tarkam aja tidak seperti ini. Tapi kan saya orangnya gak banyak ngeluh, gak neko-neko, saya paham. Nawaitu saya ke Aceh karena Allah, kerja untuk Persiraja.

Itu momen tersulit di awal-awal. Mau bikin ini sulit, mau bikin itu susah, sampai-sampai saya untuk bikin plan latihan itu pakai botol air mineral.

Nah, momen saya tambah motivasi, tambah semangat itu saat saya baru kenalan dengan Dek Bit (Ketua Panpel Pertandingan, Abang kandung dari Presiden Persiraja) itulah momen kilas baliknya.

Jadi waktu kenal, saya cerita-cerita. Dek Bit bilang gini; Bang, kalau abang ada apa-apa, ada kebutuhan apa, sama saya. Abang saya support di sini. Dek Bit selalu bilang gini; Mati abang, mati saya. Mati saya, mati abang.

Maka sejak saya ketemu Dek Bit, saya bilang, dia tahu sepakbola Indonesia yang sebenarnya seperti apa, jadi saya konek. Sejak itu saya mulai ngomong-ngomong; Dek Bit, tim ini mau kemana, saya tanya. Itu saya ingat, sekitar tengah musim lah. Kita lagi stabil, masih papan atas. Dek Bit bilang; Bisa itu, bawa aja ke atas. Terus saya tanya; Maaf, kita ada modal gak? Dek Bit jawab; Oh kalau itu bisa kita carikan.

Terus saat mau finish ke babak 8 besar, kita juga lagi bagus terus. Saya tanya lagi, mau kemana tim kita. Dek Bit bilang; Udah bang, lantak laju aja! Kalau ada momen kita ambil aja ke Liga 1. Saya ulangi lagi; Dek Bit, kalau saya lihat kita sarana dan prasarana tidak mendukung, sebenarnya Stadion H Dhimurthala kita untuk Liga 2 gak layak, lapangannya, pagar dekat penonton, keamanan, ruang ganti, dll. Saya bilang seperti itu. Kalau ada uang, rehab.

Terus Dek Bit bilang; Udah lah bang, kita maju aja. Nanti mana tau ada Dek Gam atau apa bisa seperti ini seperti ini. Saya tanyak lagi itu; (Untuk Liga 1) 30 M ada gak? Modalnya segitu. Tapi Dek Bit kasih support saya; Ayolah bang kita sama-sama.

Itu lah momen pas di 8 besar saya ketemu lagi Dek Bit. Tapi jujur, saya pas di 8 besar sudah yakin, saya lihat kekuatan orang, saya lihat tim saya, saya yakin sama anak-anak, bisa kita ini. Saya sampaikan; Kamu lolos 8 besar, selesai tugas kamu! Anak-anak bingung, 8 besar ini kuncinya saya bilang. Di situ saya kan masih jumpa Dek Bit juga, Dek Bit support saya. Bukan yang lain tidak support ya, tidak. Tapi yang lebih dekat ke saya itu dan tahu karakter, apa kemauan saya, itu ya Dek Bit.

Waktu itu kebetulan juga ada Dek Gam. Itu spesial juga, 8 bulan saya di Persiraja, momen kami bertiga; Saya, Dek Gam dan Dek Bit. Cuman itu gak lebih dari lima menit juga, intinya kita ngobrol, kita kemana? Dek Gam juga sampaikan; Ayo bang, kita direct ke Liga 1.

Terus Dek Gam pergi, tinggal saya sama Dek Bit. Saya bilang, saya yakin ini, kalau timnya seperti ini, tim kita lagi bagus. Yang penting di situ kami maintenance anak-anak fokus, anak-anak happy, itu aja. Di situ Dek Bit turun tangan, mengakomodasi, memberikan motivasi, jajan tambahan, ajak anak-anak makan, seperti itulah cara-cara.

Momen terindah juga saat di empat besar bersama anak-anak. Indahnya lagi, saat itu ada Pak Rahmat, ada Pak Dek Gam. Hari pertama lawan Persik Kediri, saya bilang; Bos, kalau tidak hari ini kita lolos, kita lolos hari Selasa. Saya bilang karena saya lihat banyak pengurus yang sudah resah. Terus kita kalah pinalti, lalu saya sampaikan; Kan sudah saya bilang, gak usah khawatir, kita lolos gak hari ini ya hari Selasa.

Persiapan di Liga 1 juga terulang sebagaimana Liga 2, komentarnya?

Ini sebetulnya, saya kasih tahu ya, waktu itu saya sudah dipanggil untuk presentasi (Liga 1), itu dua minggu setelah libur (Liga 2). Waktu itu kalau dimulai persiapan bisa dua bulan setengah. Saya sudah kasih tahu holding tim profesional, saya sebutkan bahwa semua ini budget. Baru kita staf pelatih, kualitas pemain, baru program kan. Waktu itu ini yang gak jalan, budget.

Pas rapat itu Dek Gam bilang kita butuh 21 M, saya tanyak; Uangnya ada gak? Gak ada. Nah, itu jadi sulit. Hehe. Sepakbola itu budget baru bisa kita hitung.

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang ada, Hendri melihat Liga 1 seperti apa?

Kalau saya begini, pesimis enggak. Tapi saya yang betul itu, realistis aja. Makanya kan kalau teman-teman (pers) nanyak tentang tim-tim lain, sebenarnya mereka tahu tim itu bagaimana dan Persiraja seperti apa, gitu loh. Tapi kadang-kadang, di sepakbola saya tetap berpandangan bahwa materi, kualitas, biaya besar, gak menjamin tim itu berprestasi. Tim yang sederhana, apa adanya, bukan berarti dia gak bisa berprestasi.

Jadi saya sebetulnya gak ada takutnya. Cuman ya sepakbola ya di lapangan, kalau saya seperti itu. Kualitas memang beda, tapi finishing-nya kan di lapangan. Memangnya anak-anak gak mau main? Memangnya anak-anak gak semangat? Memangnya anak-anak mau dilecehkan? Kan enggak! Kan mereka soal marwah juga. Kan dia modal nekat, semangat, orientasinya seperti itu.

*Salah satu kekuatan Persiraja musim lalu karena keangkeran Stadion H Dhimurthala, di Liga 1 kita bermain di Harapan Bangsa, apakah ada kekhawatiran atau ada harapan roh tersebut juga ada di Lhong Raya?*

Lebih kurang saya sudah satu tahun di sini, sebetulnya benar marwah atau roh Persiraja ada di Lampineung. Jadi waktu itu saya sama Dek Gam sempat bilang; Dek Gam, ini rehab. Karena saya lihat di Stadion H Dhimurthala lain auranya. Waktu itu saya atau kita sudah bicara konsep dan model, misal rumput seperti apa.

Memang seperti itu, aura. Sama halnya dengan Persija dengan Gelora Bung Karno. Saat saya latih Persisam, kalau bukan di stadion apa itu namanya di Samarinda, susah. Hal-hal seperti itu saya percaya, memang ada.

Terkait pemain asing, pandangannya?

Pemain asing itu juga ada kriteria, ada grid A, B dan C. Di kita ini -maaf- grid C, sesuai budget. Kalau saya lihat, gak ada bedanya sama anak-anak lokal, dalam artian jika mereka bermain buruk, saya tidak segan-segan membangkucadangkan mereka. Karena saya melihat, menilai sehari-hari, saat latihan, uji coba, pertandingan, dan segala macam. Kalau siap dan sesuai dengan kebutuhan taktik, ya main. Saya berani aja, gak ambil pusing.

Dia kan tahu, dia pemain asing, kita beli karena lebih. Nah kalau dia duduk di bangku cadangan, ya malu sendiri. Atau ya buang aja.

*Persiraja disebut-sebut berstatus underdog di Liga 1, apakah ini merugikan atau justru sebaliknya?

Sebetulnya itu ada plus minusnya. Kalau underdog kita bisa nothing to lose, tanpa beban. Biasa kalau diunggulkan kita diwajibkan menang, jadinya beban. Jadi menurut saya, apa ya bahasanya; ya ada untungnya. Kita bisa low profil, kalau jagoan bebanya berat.

Sejauh amatan kami, sebahagian besar pemain Persiraja ibadahnya bagus. Apakah faktor religi atau rohani memiliki andil besar?

Betul. Kalau saya pribadi, ya bukan saya orang religi ya, kekuatan doa dan usaha itu melebihi segala-galanya. Kalau kita kerja kita hebat, kalau kita kerja kita kuat, tapi kalau gak ada doa saya pikir berat. Jadi doa itu saya pikir banyak artinya, bisa melapangkan, bisa membuat gak ada beban. Di kita percaya ya, Allah SWT itu di atas segalanya, janji-Nya pasti. Kalau kita minta, gak mungkin Allah gak dengar. Seperti itu kira-kira.

Banyak yang bilang, Persiraja targetnya bertahan. Dari 18 tim di Liga 1, seorang Hendri apa hanya menyasar peringkat 15 kah?

Bertahan aja cakep banget! Saya realistis. Dengan kondisi persepakbolaan Indonesia, dengan segala lawan yang ada, dimana pun posisi Persiraja, peringkat berapa pun, insyaallah tahun ini bertahan. Butuh perjuangan, kerja keras, lama kompetisi di Indonesia ini. Butuh support dari manajemen, pemain, apalagi suporter. Saya ulangi ya, dimana pun posisi Persiraja, asal tidak degradasi, ganteng!

Terakhir, untuk pembenahan, apa harapan untuk manajemen Persiraja?

Untuk pembenahan, ini kan ada awal musim, bursa paruh musim, saya berharap nantinya kalau ada perubahan itu yang jelas! Pelatih itu, saya kasih tahu, memang sebuah tim/klub butuh pelatih. Kalau di sepakbola profesional memang butuh pelatih bagus, tetapi yang lebih fundamental kualitas (materi) pemain dulu. Mumpuni di levelnya, itu maksud saya. Baru pelatih.

Kalau sudah diakomodir permintaan pelatih seperti daftar pemain pilihannya, dan dia (pelatih) gagal, itu baru salah pelatih. Jadi sepakbola modern itu, kualitas pemain dulu. Nah jika timnya tidak berkembang, itu salah pelatih.

***

Profil Pelatih
NAMA: HENDRI SUSILO
TTL: BUKITTINGGI, 11 DESEMBER 1965
LISENSI: A AFC

KARIR KEPELATIHAN:
TIMNAS U-17 (2005-2007)
PERSIJA JAKARTA; ASISTEN (2013)
SRIWIJAYA FC; ASISTEN (2014)
PERSISAM SAMARINDA (2010-2012)
PS SUMBAWA BARAT (2017)
PSPS RIAU (2018)
PERSIRAJA (2019-2020)