Pengalaman Kocak Santri Nginap di Hotel Berbintang

PENGALAMAN unik dan kocak dirasakan para santri dayah tatkala untuk pertama kalinya menginap di salah satu hotel berbintang di Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi Aceh.

Ceritanya berawal ketika kami,  para santri dayah ini datang ke Banda Aceh untuk mengikuti pelatihan jurnalistik dan magang di sejumlah media di Banda Aceh, termasuk di Harian Rakyat Aceh.

Pelatihan bagi santri dayah ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh (DPDA), pada  5 – 9 Maret 2020.

Dalam kegiatan itu, santri difasilitasi dengan sangat baik. Bagaimana tidak? Kami yang berjumlah 52 santri dari seluruh dayah di kab/kota se-Aceh dikarantina di  hotel bintang lima di Banda Aceh. Dengan alasan tertentu, nama hotelnya tidak perlu kami sebutkan.

‌Uniknya, hampir seluruh peserta belum pernah menginap di hotel bintang lima sama sekali. Bisa dibayangkan komparasi antara bilik-bilik asrama dayah dengan kamar mewah hotel. Banyak sekali hal-hal lucu yang tentu saja tidak akan terlupakan oleh peserta.

‌Najimuddin, salah seorang peserta pelatihan mengalami kesan yang menarik sejak awal masuk hotel. Ia bersama temannya, Muhammad Abrar sedang cek in ke resepsionis di lobi. Ketika diberikan kunci dalam bentuk hard card dan hendak ke kamar, peserta asal Aceh Utara ini spontan bertanya ke resepsionis, “Kuncinya mana, Kak?” Resepsionis menjawab, “Itu kan kuncinya di tangan.” Muka peserta satu ini pun merah padam menahan malu.

Kejadian ini pun menjadi bahan cerita menarik sesampai di kamar masing-masing.

Humor lain pun terbuka dari peserta asal Lhokseumawe, Sofyannur dan asal Pidie Jaya, Zulfahmi. Setibanya di hotel, keduanya memilih untuk ngopi di kafe hotel. Dengan gaya gagah keduanya langsung memesan kopi espresso dan sanger tanpa bertanya harga. Mereka pun duduk santai menyeruput nikmatnya kopi. Angin sepoi-sepoi semakin memanja keduanya.

‌Di sela-sela waktu, Fahmi bertanya pada temannya, Sofyan. “Kira-kira mahal mana kopi di sini dengan kopi di bandara?” Dengan lagak sok tahu, Sofyan pun menjawab, “Mahalan di bandara dong. Di sini paling segelas hanya sepuluh ribuan.”
Tak lama kemudian, suara merdu sayup-sayup terdengar dari masjid. Pertanda waktu salat Ashar telah masuk.

Petugas kafe saat itu mendatangi meja dua sekawan itu. Rupanya ia ingin salat dahulu dan menagih pesanan semua pelanggan. Sofyan meminta tagihan pesanan. Saat pelayan menunjukkan struk pembayaran, Sofyan dan Fahmi menatap harga agak lama. Lalu keduanya saling tatap.

‌Sofyan mengernyit dahi sambil berkata dalam hati, “Peu na meuh di dalam?” (Apa ada emas di dalam?) Dengan berat hati, uang pun pas-pasan, peserta ini menyerahkan selembaran lima puluh ribu dan sepuluh ribu dari dompet. Kemudian pelayan memberikan dua ribu uang kembalian.

‌Sofyan mengungkapkan pada rekannya, “Besok, jangan pesan lagi. Kita ajak peserta lain ngopi, tapi kita jangan pesan.” Zulfahmi pun tertawa mengingat kejadian tersebut.

Hal lucu lain juga dialami oleh Deif, salah seorang peserta asal Pidie. Deif tidak tahu menahu perihal kran air panas dan dingin.
‌Ketika sampai di hotel, ia berencana langsung mandi. Saat shower dinyalakan, ia serta merta melompat-lompat terkejut. Air yang keluar sangat panas. Ia tak tau cara setel air dingin. Hari itu, Deif memutuskan tak jadi mandi.

Baru kemudian di malam hari, teman sekamarnya menjelaskan pengaturan suhu air. Peserta lain dibuat tertawa saat Deif menceritakan hal itu saat makan di resto.
Tak kalah lucunya kejadian yang dialami oleh M. Abrar. Kunci kamar hotel agak sedikit berbeda. Bukan hanya berfungsi untuk membuka pintu, tapi juga untuk menyalakan sumber daya listrik di ruangan. Abrar kebetulan kehabisan baterai handphone saat acara akan berlangsung. Ia pun memutuskan untuk mengisi hp-nya di kamar dengan harapan setelah selesai acara baterainya sudah penuh.

Acara malam itu pun selesai. Dengan wajah berseri-seri, peserta asal Aceh Besar ini pun pulang ke kamar bersama rekannya. Rencannya, sampai di kamar ia ingin langsung berselancar di dunia maya.
Setiba di kamar, ternyata harapan berbuah pahit. Baterai hp masih saja 3%. Rekan sekamar pun mengatakan bahwa kalau kuncinya dibawa, listrik kamar mati.

Dengan nada sedikit kesal, Abrar pun menjawab “Oh iya ya.” Tawa pun mewarnai kamar 325 itu.

Masih banyak hal lucu lainnya yang dialami peserta selama di hotel. Mulai dengan tidak tau cara naik lift, cara menghidupkan lampu kamar, sampai berurusan dengan kloset.

‌Pengalaman pelatihan di hotel bintang lima ini bagi peserta sangat menggirangkan. Ini juga pertama kalinya DPDA membuat acara Pelatihan Jurnalistik di hotel semewah ini.

Barangkali, kelucuan di atas juga telah atau akan dialami oleh pembaca saat pertama kali menginap di hotel. Jika benar, kami sarankan lihat tutorial dulu di Youtube atau Blog tentang bagaimana tips menginap di hotel. (Tim Magang di Rakyat Aceh)