Serba Salah Menjual Masker dan Hand Sanitizer Kami Hanya Orang Jualan

Fauzannur saat melayani pembeli masker di Idola Mart, Lampaseh, Banda Aceh, Kamis (19/3). (ichsan maulana/rakyat aceh)

Laporan : Ichsan Maulana, BANDA ACEH

Pademic virus corona (Covid-19) memberikan dampak yang luas terhadap tatanan kehidupan manusia, tanpa terkecuali dunia usaha.

Para pengusaha ritel, mengeluhkan daya beli yang kurang. Selain itu, beberapa kebutuhan terkait kesehatan juga langka. Masker dan hand sanitizer adalah dua hal yang paling dicari masyarakat, guna proteksi diri sejak dini terhadap kemungkinan terpapar corona.

Salah seorang pemilik usaha ritel di Lampaseh, Banda Aceh, Fauzannur prihatin terhadap suasana ini. Di tengah kondisi kewaspadaan dan kecemasan yang tak berkesudahan, ia merasa serba salah menyediakan permintaan masyarakat untuk masker dan hand sanitizer.

Perasaan tak enak hati kerap menghampiri batinnya. Satu sisi, ia harus menyediakan kebutuhan tersebut. Di sisi lain, stok terbatas dan harus dijual dengan harga tinggi, sebab modal yang dikeluarkan juga tak sedikit.

“Awalnya saat corona mulai marak di Indonesia, dengan segala pemberitaan, sempat tidak saya carikan stok masker maupun hand sanitizer. Sebenarnya kalau saya mau, ada stoknya. Tapi saya tidak tega saat menjual dengan harga tinggi.

Cuman karena sudah terlalu ramai yang minta, ya udah saya sediakan. Kasian juga masyarakat,” tuturnya.

Sebelum persoalan corona merebak, kata pemilik usaha ritel Idola Mart ini, satu kotak masker dengan merek paling biasa, ia hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp 25.000 hingga Rp 35.000. Satu kotak, berjumlah 50 piece (potong) masker.

Namun, beberapa hari terakhir, harganya tembus RP 150.000. Sedangkan untuk merek yang standar, dengan inisial S, sekarang mencapai Rp 323.000 hingga Rp 350.000 per kotak.

Harga jual per potong masker juga berubah, jika dulunya masyarakat hanya perlu membayar Rp 1000 untuk masker biasa. Sekarang sudah Rp 4000.

Baca Juga...  Rumah Bandar Narkoba di Pidie Jaya Dikepung

Hanya saja, Fauzan mencoba mensiasati kondisi ini. Ia hanya menjual maksimal per individu sebanyak 5 lembar masker. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada yang serakah dan semua orang bisa memperoleh masker. Meski sudah begitu, bukan berarti tanpa tantangan. Ada pembeli yang justru menuduhnya memberatkan orang lain.

“Ada pembeli yang mempertanyakan kenapa mahal. Jangan aniaya orang. Sampai ada yang ngata-ngatain; kalau raZia, kamu ditangkap. Saya jawab; andai bisa ya ditangkap. Kami hanya orang jualan, mahal saat ambil barang, terpaksa mahal saya jual. Hingga akhirnya, pembeli tersebut jadi paham dan respek balik,” ceritanya kepada Harian Rakyat, Kamis (19/3).

Fauzan tidak mau menyalahkan pembeli, dan menilai pernyataan semacam itu biasa. Sebab, katanya, tidak semua masyarakat tahu kondisi sebenarnya dari hulu hingga hilir. Karenanya, saat dirinya tidak ada di toko, kepada para pekerja di ritelnya ia berpesan, agar mereka sabar dan mau menjelaskan bagaimana keadaan sesungguhnya.

Bagi Fauzan, menyediakan masker dan hand sanitizer merupakan keniscayaan, tidak semata-mata karena dagang, tetapi upaya mencegah bersama.

Untuk hand sanitizer, ia masih ingat, suatu ketika tepatnya tanggal 22 Februari lalu, ada yang menawarkan per botol ukuran kecil seharga Rp 38.000. Fauzan kaget, karena sebelumnya hand sanitizer dengan merek awalan D, ukuran botol kecil hanya berkisar belasan ribu rupiah.

Pernah juga, ceritanya, di awal-awal isu corona, tiba-tiba ritelnya kehabisan stok. Hal ini, tidak pernah terjadi sebelum corona.

“Kandang-kandang dua lusin, sebulan belum tentu habis. Selama ini, berapa pun ada stok pasti diborong. Begitulah kira-kira keadaan sekarang ini,” jelas Fauzan. **