Ketua Tim Jejaring Juanda, menegur salah seorang penjual etnis Cina yang menjual produk tanpa lebel "ijin kesehatan" dan menjual telur tanpa tempurung kepada masyarakat Aceh Tengah. JURNALISA/RAKYAT ACEH

TAKENGON (RA) – Bencana ini kita harapkan cepat berlalu dan tidak berpengaruh terhadap kebutuhan pokok masyarakat umumnya Indonesia khususnya Aceh Tengah.

Untuk pencegahan kenaikkan harga dan memastikan ketersediaan kebutuhan pokok. Tim jejaring turun memastikan.

Tim jejaring, yang turun bersama Ketua Tim Kadis Pangan, Juanda, berhasil membawa beberapa semple dan barang yang kadaluarsa serta makanan tanpa ada ijin “kesehatan”.

Di dua lokasi yang berbeda, tim mendapatkan telur yang dijual dalam plastik (tidak steril-red). Serta makanan lain juga kerupuk tanpa lebel yang dipasok dari Medan.

“Tidak bisa makanan dijual tanpa ada lebel kesehatan. Begitu juga telur dijual dalam kantong plastik dalam jumlah banyak tanpa tempurung. Itu sudah tidak higenis dan tak layak dikonsumsim oleh masyarakat kita,” jelas Juanda, didampingi Kabag Perekonomian Mawardi Munthe, Kamis (19/3).

Satu toko milik etnis Cina di Desa Pendere beberapa produk diatas tadi dijual ke masyarakat Aceh Tengah dengan harga murah. “Barang itu sudah tidak higenis,” kata Buk Ati dari Dinas Kesehatan yang turun bersama tim.

“Kita akan sita makanan telur dan kerupuk yang dijual tanpa ada ijin dinas kesehatan. Apalagi kerupuk itu masuknya ke Takengon dalam bentuk karung. Kita akan beri peringatan dulu tapi menyita barang yang dimaksud,” kata Buk Ati datar.

Bukan hanya di Toko Mekar Jaya Pendere, tim juga menjumpai makanan kadaluarsa di Petro jalan Lintang Takengon. Di swalayan itu tim menyita kue produksi home industri dan beberapa makanan lainnya karena tidak mempunyai ijin untuk diperjual belikan.

Swalayan milik warga Cina itu juga mendapatkan teguran dari tim. “Kalau itu terulang lagi kita akan ambil tindakan tegas. Selain menyita barang kita akan lakukan tindakan tegas,” sebut Amran, anggota Polres Aceh Tengah.

Juanda menyatakan, harga gula memang ada kenaikan sedikit tapi tidak signifikan dan persediaan masih terjaga, bahkan komoditas bawang putih sempat naik. “Sekarang sudah normal kembali. Dimana sebelumnya Rp65 ribu kini sudah Rp35-Rp40 ribu perkilogram.

Untuk kebutuhan masker di Takengon, sudah dalam dua pekan ini kosong di apotik besar seperti Putro Bungsu. “Kami telah kehabisan masker sejak satu bulan lalu. Masker dibeli oleh masyarakat karena kekhawatiran akan corona,” kata Mira penjaga apotik, begitu juga Sanitizer. (jur/bai)