KOORDINASI: Rachmat Hidayat Mustaqim (kiri) bersama tim Rumata ArtSpace berdiskusi di Maskassar tentang program rutin yang sejak 20 Maret lalu dihentikan akibat pandemi Covid-19. (RACHMAT HIDAYAT MUSTAMMIN FOR JAWA POS)

Seleksi Penulis Baru Tetap Jalan

Penyelenggara Makassar International Writer’s Festival mempertemukan penulis dan audiens secara daring. Para kurator juga sudah terbiasa bekerja terpisah di kota yang berbeda-beda.

THEODORA HAPSARI, Surabaya, Jawa Pos

LILY Yulianti Farid mestinya ada di sana. Di panggung perhelatan bergengsi London Book Fair (LBF), Inggris. Untuk menerima penghargaan atas nama festival yang dikomandoinya.

Tapi, pandemi Covid-19 membuyarkan semuanya. LBF yang semestinya dihelat pada 12 Maret lalu itu batal digelar. Pengumuman Excellence Award 2020 kategori The Literary Festival yang dimenangi Makassar International Writer’s Festival (MIWF) pun akhirnya harus dilakukan secara daring (online).

”Api” Covid-19 yang kian membesar pun merembet ke mana-mana. Dari batal ke London, Lily dan timnya di Rumata ArtSpace, penyelenggara MIWF, akhirnya juga harus membatalkan perhelatan sastra tahunan itu.

Seharusnya MIWF berlangsung pada 24–27 Juni mendatang. ”Sekelas LBF saja membatalkan perhelatan dan memilih mengumumkannya secara daring. Kami juga harus mendukung upaya pemerintah memerangi coronavirus ini dengan menerapkan stay at home (tetap di rumah),” kata Lily (5/3).

Entah akan berlangsung pada akhir tahun atau pada tahun depan. ”Kami belum bisa memastikan karena perkembangan virus ini kan cepat sekali. Kami harus menyesuaikan,” tambah Lily yang merupakan postdoctoral fellow di Monash Indigenous Studies Centre, Monash University, Australia.

Tapi, semua kegiatan terkait MIWF tak lantas tidak berjalan. Tetap ada cara-cara kreatif untuk menyiasati kondisi sulit. Sabtu (28/3) lalu, misalnya, Rumata menggelar ”Di Rumah”, interaksi jarak jauh antara penulis dan audiensnya, via live Instagram. ”Edisi perdana ini berlangsung satu jam. Pada sesi pertama ada Rara Sekar dan Ben Laksana,” kata Rachmat Hidayat Mustamin, direktur program dan kemitraan Rumata.

Selanjutnya, pada 30 menit kedua ada Sapardi Djoko Damono. Audiens menyampaikan pertanyaan melalui kolom komentar atau direct message pada akun Instagram Rumata atau MIWF. ”Kami juga akan berupaya menyuguhkan performance secara digital,” kata Rachmat, magister seni ISI Surakarta tersebut.

Nanti Rumata menjadikan media sosial dan kanal YouTube sebagai panggung. Siapa saja yang berminat tinggal mengakses akun Rumata dan MIWF untuk menikmati berbagai sajian.

Dua agenda utama MIWF juga tetap berjalan: seleksi emerging writers (penulis baru) dan penyusunan buku Dari Timur. Rencananya, pengumuman emerging writers tahun ini tetap sesuai jadwal. Hanya, dilakukan secara daring.

”Sejak tahun pertama MIWF, lebih dari 90 persen diskusi/meeting/laporan perkembangan memang sudah kami lakukan via daring,” kata Aan Mansyur, kurator MIWF, tentang proses seleksi emerging writers di tengah pandemi seperti sekarang saat dikontak Jumat (27/3) lalu.

Para kurator, jelas Aan, penyair yang bermukim di Makassar itu, terbiasa bekerja dengan memanfaatkan teknologi. Apalagi, mereka bekerja dari tempat yang berbeda-beda. (jpg/min)