Sejumlah anggota DPRK Bener Meriah di dampingi oleh Kepala Kampung Delung Asli mengunjungi petani tomat yang sedang panen, Rabu (1/4). MASHURI/RAKYAT ACEH

REDELONG (RA) – Dampak covid-19 mengakibatkan harga palawija jenis tomat di Gayo anjlok seharga Rp1000 per kg dan sedikitnya permintaan mengakibatkan hasil panen tidak laku terjual sehingga banyaknya tomat yang terbuang sia-sia.

Hal tersebut diketahui ketika sejumlah anggota DPRK Bener Meriah melakukan sidak lapangan ke lahan petani tomat di Kampung Delung Tue, Kecamatan Bukit serta kesejumlah pedagang di Pusat Pasar Sayur Sentral, Rabu (1/4).

Ketua Komisi A DPRK Bener Meriah, Abubakar menyampaikan setelah mendapatkan keluhan dari masyarakat terkait rendahnya harga jual palawija pihaknya melaksanakan sidak dan melakukan wawancara langsung dengan petani dan pedagang.

Dari hasil sidak tersebut, pihaknya mengetahui bahwa banyaknya tomat yang terbuang akibat tidak laku dan harga beli yang saat ini sangat murah berkisar Rp1000 per kg, sementara harga jual di pasar tumpah di daerah lain masih sangat tinggi.

“Untuk harga jual tomat di pasar tumpah Lhoksukon Aceh Utara misalnya tadi pagi di jual dengan harga Rp6000 per kg sementara di Kabupaten Bireuen seharga Rp5000 per kg kok harga beli dari petani di Bener Meriah hanya Rp1000,” katanya saat didampingi Julham, Yuzmuha.

Menurutnya, setelah melakukan ivestigasi kelapangan semua pedagang menyampaikan hal yang sama bahwa barang hasil palawija tersebut tidak dapat dibawa ke pasar akibat ada beberapa pasar yang sudah tutup seperti halnya pasar Peunayong, Banda Aceh.

Ia menambahkan banyak tomat yang harus di buang akibat tidak tersedianya pasar dan kurangnya permintaan. ”Seharusnya jika permintaan berkurang harga jual juga sudah pasti turun, namun saat ini harga jual di daerah lain masih mahal,” kata Bakar.

Sementara itu, anggota DPRK lainnya, Julham mengaku miris melihat kondisi harga jual palawija petani yang tidak stabil sehingga pihaknya bersama beberapa anggota DPRK lainya langsung turun ke lapangan untuk bertemu langsung dengan petani dan pedagang.

Seorang petani tomat, Sabri, warga Delung Tue menyampaikan, selain harga yang turun, tomat juga sulit untuk di jual sehingga banyak tomat yang terbuang sia-sia. ”Tidak hanya rugi, kami juga berhutang akibat modal yang dikeluarkan cukup tinggi,“ sebutnya. (uri/bai).