Anggota DPRK Bener Meriah Yuzmuha dan Zulham bersama perwakilan dinas perdaggangan dan pertanian serta sejumlah pengumpul kopi mengunjungi perkebunan petani kopi di Kampung Darpalah Belang Panas Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah Selasa (7/04). MASHURI/ RAKYAT ACEH

Quote : Anggota Komisi C DPRK Bener Meriah, Darussalam ST
“Sementara untuk kebutuhan industri distribusi, transportasi dan logistik kita memperkirakan kurang lebih mencapai Rp1 triliun,”

REDELONG (RA) – Sejumlah Anggota DPRK Bener Meriah meminta Pemerintah Aceh, memperjuangkan nasib petani kopi gayo yang terkena dampak akibat Covid-19 dengan merelokasikan anggaran Rp3,31 triliun.

Politisi Partai Aceh Ismuha kepada Rakyat Aceh, Selasa (7/4), mengatakan petani kopi saat ini kehilangan nilai tukar dolar as dan perdagangan adil dunia (fairtrade).

Ia menambahkan, nilai tukar Dolar Amerika terhadap rupiah terus menguat di tengah wabah virus corona. ”Saat ini menyentuh level Rp 16.412 dan seharusnya disambut baik dengan senyuman manis oleh eksportir,” terang Ismuha yang itu didampingi Ketua Banleg DPRK Zulham.

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi dan data diperoleh dari sejumlah koperasi, harga kopi kontrak saat ini senilai USD 5. ”Tentu ini menjadi peluang bagi eksportir kopi untuk menambah volume ekspornya” tukasnya.

Namun faktanya kata Ismuha petani kopi menjerit karena rendahnya nilai beli kopi merah, sebelumnya Rp12.000 per bambu saat ini hanya di beli Rp 8.000 per bamboo, ditambah serbuan Covid 19 seakan kopi tidak laku diekspor membuat petani lokal kian menderita.

Ia merincikan jumlah eksportir kopi pada Dinas Perdagangan Aceh dan perdagangan Aceh Tengah saat ini berjumlah sebanyak 14 eksportir Sementara jumlah perusahaan eksportir di Kabupaten Aceh tengah sebanyak 6 perusahaan.

“Jika dirata-ratakan kontrak harga kopi semenjak bulan Januari sampai dengan April 2020 adalah 5 USD /kilogram kopi ready ekspor untuk ninali rata-rata dolar America dari Januari sampai dengan April 2020, Rp15.000 dapat disimpulkan harga kopi Januari-April ready ekspor per kilogram adalah Rp 750.000” tegasnya.

Sementara itu Darussalam ST Anggota Bangar dan Komisi C DPRK Bener Meriah menjelaskan, berdasarkan data dari Dinas Pertaniaan Tanaman Pangan Kabupaten Bener Meriah tahun 2019, luas produksi dan produktivitas kopi arabika Tanaman Belum Menghasilkan ( TBM ) 6.591 hektar.

Ia merincikan, tanaman menghasilkan sebanyak 34, 428 ha, dan tanaman tua rusak (TTR) seluas 5252 ha. Selain itu katanya tanaman belum menghasilkan pada tahun 2018 menjadi tanaman menghasilkan pada tahun 2020 berjumlah 41.019 ha.

Sehingga pihaknya memperkirakan Total estimasi pertahun sebanyak 34.866,15 ton, 13,3 % dari jumlah kopi nasional 500.000 ton/tahun.

Sementara untuk Kabupaten Aceh Tengah data pada tahun 2016 katanya tanaman induk menghasilkan 1373 ha dengan 745 kg/ha maka jumlah produksi Kopi Kabupaten Aceh Tengah sebanyak 31,383.125 ton/tahun.

Untuk itu berdasarkan data tersebut pihaknya memperkirakan jumlah produksi kopi dari dua wilayah tersebut adalah 66,249,275 ton per tahun berarti produksi perbulannya adalah 5520,77 ton.

“Saat ini yang sudah terealisasi berdasarkan estimasi di perdagangan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah selama kurun waktu Januari sampai dengan April 2020 adalah sebanyak 22,083 ton, yang belum terealisasi terhitung dari bulan Mei sampai dengan Desember 2020 mencapai 44,160 ton”ujarnya.

Menurutnya, kemungkinan terpuruk jika tidak ada kesepakatan pembelian dari buyer luar negeri maka pemerintah harus menyiapkan dana talangan dengan estimasi sebesar Rp. 3.312.0000.000,00 (tiga triliun tiga ratus dua belas milyar ).

“Sementara untuk kebutuhan industri distribusi, transportasi dan logistik kita memperkirakan kurang lebih mencapai Rp1 triliun,” ujarnya.

Hal yang senada juga disampikan oleh Ketua Banleg DPRK Zulham menambahkan, berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 01 tahun 2020 pihknya meminta kepada Bupati Bener Meriah untuk berkoordinasi dengan Gubernur Provinsi Aceh dan di teruskan kepada kementerian yang terkait untuk merealisasikan dana tambahan APBN 2020 di sektor industry. (uri)