Harga Kopi Semakin AnjlokPemerintah dan Perwakilan Rakyat Diminta Bertindak

Zainuddin, beserta sejumlah petani kopi usai melakukan pemangkasan di kawasan perkebunan masyarakat Gunung Teritit, Kamis (16/4). MASHURI/RAKYAT ACEH

REDELONG (RA) – Meski harga kopi dunia masih menguat, namun harga beli kopi Gayo di tingkat lokal terus mengalami penurunan, sehingga masyarakat berharap pemerintah segera mengambil tindakan dan mencari solusi atas anjloknya harga emas merah Gayo tersebut.

Harga beli di berapa pengepul kopi saat ini untuk gelondongan Rp7.000-Rp8.000, sementara untuk gabah Rp18.000 sampai 23.000 dan untuk harga labu kopi yang sebelumnya masih Rp50.000-Rp55.000 saat ini hanya di beli Rp40.000 sampai 42.000.
Zainunddin, tokoh masyarakat dan kader Partai Gerindra mempertanyakan, sikap pemerintah baik pusat, provinsi dan daerah yang ia nilai tidak membuat langkah kongkrit untuk memperjuangkan nasif petani kopi di Gayo.

Sebutnya, komunditi kopi Gayo tersebut merupakan sumber kehidupan yang menjadi andalan perekonomian masyarakat Gayo pada umumnya. ”Namun sangat disayangkan, di tengah wabah covid-19 ini harga terus mengalami penurunan mencapai Rp7.000 per bambu,” ujarnya.

Padahal katanya, berdasarkan pemberitaan di media kopi Gayo mampu menyumbang devisa sebesar 13,3 triliun dan selain itu data dari Dinas Perdagangan Aceh juga menyampaikan sejumlah koperasi masih melakukan pengiriman ekspor ke sejumlah negara luar dengan harga yang cukup tinggi mencapai 5 Dolar per kg.

Zai juga menduga, adanya permainan kotor terkait harga beli dari petani, jika sejumlah eksportir masih melakukan pengiriman hingga bulan April 2020. “Aneh jika mereka sudah melakukan kontrak dan tetap melakukan pengiriman seharusnya tidak ada alasan harga beli kopi dari petani rendah,” ungkapnya.

Seharusnya tidak ada masalah dengan harga beli kopi dari petani dengan menguatnya nilai tukar dolar saar ini yang mencapai 16.000 lebih, namun faktanya sejumlah pengempul beralasan tidak bisa menjual kopi yang sudah dibeli dari masyarkat kecuali dengan harga yang murah.

Baca Juga...  Oloan Tua Partampuan Resmi jadi Kuasa Hukum UGP

Tidak hanya itu, ia juga mengaku geram dengan sejumlah koperasi yang hanya mencari keuntungan besar dari petani pasalnya selama ini koperasi hanya mengklaim memiliki anggota dengan jumlah ribuan dan memasang pamplet di kebun petani kopi, namun sangat disayangkan mereka tidak membeli kopi dari anggotanya tersebut.

Ia menamabahkan, pedagang menengah dan kecil di lapangan saat ini juga terancam merugi sebab, sebelumnya membeli dengan harga tinggi dan harus menjual dengan rendah padahal sebahagian besar pengepul tersebut hanya bermodalkan ambilan kredit bank.

Zai juga mendesak agar anggota DPRK Bener Meriah serta perwakilan masyarakat Gayo yang saat ini duduk di DPRA tidak menjadi penonton. “Perekonomian masyarakat petani kopi saat ini sudah di ujung tanduk dan sudah saat nya mereka turun kelapangan dan memperjuangkan nasif petani,” kata Zainuddin.

Menurutnya, upaya Pemkab Bener Meriah untuk memfungsikan resi gudang bukan solusi utama untuk mengatasi permasalahan anjloknya harga kopi saat ini sebab, resi gudang yang saat ini sudah berfungsi di Kabupaten Aceh Tengah juga tidak menunjukan perubahan harga sedikit pun.

“Inilah saat nya bupati dan perwakilan masyarakat berbuat, kalau bukan sekarang kapan lagi,” kata Zainuddin. (uri/bai)