Tradisi Meugang ‘Tabrak’ Protokol Kesehatan

Warga Pidie Jaya menyemut dan berdesakan di lokasi penjualan daging meugang di Pasar Lueng Putu, Kamis (23/4), ini telah melanggar protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah. (ikhsan/rakyat aceh)

REDELONG (RA) – Protokol kesehatan dikeluarkan pemerintah berupa instruksi selalu menjaga jarak tak berlaku bagi warga yang sejumlah pasar mencari daging di hari meugang, Kamis (23/4).

Pantauan Rakyat Aceh di Pasar Simpang Tiga, Bener Meriah, warga dari berbagai pelosok desa di wilayah Kecamatan Bukit terus berdatangan untuk memburu daging meu di setiap lapak.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bener Meriah, Miharbi S Sos menyebutkan, pihaknya telah menurunkan tim gabungan ke setiap pasar untuk agar warga menerapkan physical distancing atau menjaga jarak serta tetap menggunakan masker.

Dijelaskanya, masing-masing petugas sudah mengingatkan kepada para penjual dan pembeli untuk tetap menerapkan jaga jarak serta tetap memakai masker untuk pencegahan COVID 19.

Miharbi juga mengaku, sudah menyadari hari ini merupakan puncak hari meugang untuk penyambutan bulan suci Ramadan 1441 Hijriah yang sudah pasti ramai di kunjugi oleh masyarakat untuk berburu daging.

“Ini merupakan tradisi kita namun kita juga berharap, masyarakat dapat mematuhi aturan dengan tetap menjaga jarak dan mengunakan masker agar terhindar dari penyebaran Covid-19” ungkapnya.

Kondisi sama juga terjadi di Pidie Jaya. Saat berbelanja kebutuhan tradisi meugang, warga tak mempedulikan protokol kesehatan. Faktanya, di beberapa lokasi penjualan daging meugang, warga berdesak-desakan.

Bukan hanyan berdesak-desak saat berbelanja kebutuhan dapur saat tradisi masyarakat Aceh menjelang puasa Ramadhan tiba. Tapi, di tengah kondisi kedaruratan pendemi saat ini, anjuran untuk memakai masaker, masih cukup banyak warga yang abai.

Pun begitu dengan pembatas antara pembeli dengan penjual juga tak ada jarak serta pembatas sebagaimana yang dianjurkan. Dari pantauan Rakyat Aceh, Kamis (23/4) dibeberapa titik lokasi penjualan daging meugang seperti Pasar Lueng Putu, pemisahan jarak hanya dilakukan antara satu lapak dengan lapak penjual daging lainnya.

Baca Juga...  Mencoba Kabur dari Penampungan Enam Imigran Rohingya Diamankan Petugas Patroli

Demikian juga halnya di beberapa titik lainnya seperti pasar Meureudu dan pasar Ulee Gle. Kerumunan warga yang berdesak-desakkan serta lalu lalang, cukup mengkhawtirkan penyebaran corona virus sulit untuk di bendung. Apalagi kasus positif Covid-19 di Aceh kembali bertambah setelah sempat nol.

“Ya kalau dibilang, ini sangat mengkhawatirkan. Potensi penyebaran virus dengan kerumunan dan desak-desakan warga ini, sangat cepat. Kita tidak tahu mana warga yang positif ada dikerumunan itu,” ujar Azhar warga Bandar Baru kepada Rakyat Aceh kemarin.

Kendatipun ditengah pandemi Covid-19 yang Presiden Jokowi telah menetapkan sebagai bencana nasional. Dan akibat dari pandemi inu, pendapatan atau ekonomi masyarakat sangat jatuh.

Hal sama juga terjadi di Pasar Meugang Peunayong, Banda Aceh. Pasar terlihat padat tanpa adanya terlihat warga menjaga jarak. Malah terlihat beberapa pembeli dan penjual tak memakai masker yang sangat dianjurkan oleh pemerintah.

Namun, harga daging yang dijual saat meugang di ketiga pasar relatif sama dengan harga pada tahun lalu yakni antara Rp160 ribu hingga Rp 170 ribu-180 ribu. (uri/san/min)