Demi masa, Menghadapi Corona

Penulis Pimpinan Pendidikan Islam Al Anshar Lambaro Aceh Besar

Oleh: Tgk. Akmal Abzal

Merebaknya pandemi covid-19 hingga hari ini telah mengapai seluruh dunia, potret buram ini sekaligus membuka mata kita semua utk melihat kemahabesar Allah terhadap alam ciptaanNya, bahkan sesungguhnya manusia ini amatlah lemah dan tak berkuasa kendati sebesar zarrah atau atom.

Kita masih ingat diawal wabah corona ini terjadi pada penghujung tahun 2019 di kota wuhan tiongkok, klaim negatif pagi-pagi dilamatkan kepada mereka sebagai negara komunis, pindah ke italia dan roma tudingan sebagai nasrani membahana, corona menyentuh amerika slogan negara yahudi tak bisa dielakan, menyusul iran sbg negara syiah.

namun ketika Arab saudi sbg pusat peradaban dan kiblat umat islam terpapar pandemi mematikan ini statement negatif nyaris tak bersuara.

Apalagi hari ini, di Indonesia, di nanggroe Aceh tercinta ini wabah covid-19 kian memakan korban, yang positif mulai memperlihatkan grafik mendaki kendati saat bersamaan yang sembuhpun masih penuh harapan. Dalam kondisi seperti ini apa dan siapa pula yg mesti disalahkan. Sebuah fakta, dalam beragam status masyarakat di media sosial (medsos) klain saling menyalahkan lebih dominan daripada bersama memberi solusi.

Bukankah kondisi realitas hari ini semua strata dn profesi sedang menghadapi masa pelik bahkan extra was2.

orang kaya menjadi penakut sementara yang miskin kian menderita, pejabat dan penguasa semakian khawatir apalagi rakyat, pengusaha bangkrut sementara tenaga kerja mulai di PHK. Siapa yg mesti disalahkn dalam kondisi seperti ini. Petiklah hikmah dari Firman Allah via QS Al Ashri. 1-3:

Artinya
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Mari fahami ayat ini satu persatu. Sebagai renungan mendalam bagi kita. Yang tidak rugi dalam kondisi seperti ada 3 golongan;

1. Org beriman, yaitu orang yang yakin bhw allah tak berikan cobaan ini diluar kemampuan manusia. Selanjutnya orang beriman teguh berprinsip bahwa dibalik kegentingan, kesusahan dn penderitaan ini kelak akan ada solusi dan kemuliaan, QS inshirah 5-6 dan yang menarik orang beriman tak sudi menyalahkan orang lain disaat menghadapi suatu penomena sulit seperti saat ini, justru mukmin sejati memahami QS Arum 41. rtinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yangbenar). .

2. Beramal shaleh. Tindakan untuk menambah pundi-pundi amalan dapat dilakukan oleh para pihak, simiskin dengan kesabaran dan ikhtiarnya sehingga terhindar dari kekufuran, sikaya dn pengusaha gemarkan terus berbagi kendati berbagai keterbatasan dan usaha bisnisnya lagi stagnan, pejabat dn penguasa kendati beragam sumber pendapatn terhenti, SPPD tak jalan, kegiatan yang berorientasi financial tertutup total ditambah lagi dengan hilangnya THR sebagai tunjangan hari raya idul fitri tahun ini namun sbg mukmin yang terpuji bhakti all out ( penuh waktu), berbuat tanpa jeda terus saja dilakuak demi kepentingan bangsa, rakyat dn negara

3. Para pihak yang aktif menyebarkan narasi-narasi Kebenaran dan pesan-pesan kesabaran (belajarlah memamfaatkan HP sbg media dakwah untuk berbagi info yang benar dn nesehat-nasehat kesabaran).

Sekarang moment ideal kita intropeksi diri, disaat pandemi belum memastikan batas ending, apalagi dalam suasana Ramadhan penuh berkah dan keampunan ini, sedianya setiap kita dapat move on dari karakter negatif.

Pemilu sudah usai, para kandidat berjalan seiring membangun bangsa dan nagara, namun pemilu effect masih terasa kendati dalam sudah berganti tahun, potret tak elok ini dapat terlihat dalam diskusi di media sosial yang masih gemar saling menyudutkan dan bahkan saling mencari kambing hitam atas fenomena alam jagat raya yang sedang manghadapi covid-19.

Cukup dan sudahilah perdebatan saling menyalahkan dan hentikan narasi-narasi ujaran kebencian sesama karena kondisi terkini, kita butuh kekompakan dan kerja keras bersama malawan melebarnya wabah corona di nanggroe tercinta ini.

Sebagai kesimpulan,orang beriman akan memiliki suatu kenyakinan bahwa masa-masa sulit ini pasti akan berakhir dan Allah tak meninggalkan kita sebagai hamba ini berkekalan dlm derita, justru kita yang masih bernafas ini perbanyaklah menyebarkan pesan-pesan positif yang menggiring hamba menuju kedekatan hati dg Rabbnya, kirimkan narasi-narasi ketenangan, kesabaran dan ketaqwaan supaya kegelisahan dan ketakutan dapat berlalu dari perjalanan takdir manusia.

Ingat dibalik kegelisan, kepanikan dn kesulitan seperti ini akan muncul jatidiri manusia seutuhnya.