Berpuasa di Tengah Wabah

Dr. Muhammad AR. M. Ed

Oleh: Dr. Muhammad AR. M. Ed

Bulan Ramadhan (1441 H) tahun ini berada di tengah-tengah wabah yang sangat ditakuti oleh hampir semua kalangan manusia baik penduduk desa maupun penduduk-penduduk kota di belahan bumi ini.

Betapa tidak, sejak wabah corona ini merebak akhir tahun 2019 lalu, yang berpusat di Wuhan-Cina, maka sejak itulah manusia di dunia ini terus diliputi kecemasan dan kegundahan karena dianggap wabah ini mematikan, padahal mati adalah ajal. Sebelum ajal pantang mati. Mati karena ajal, bukan karena virus korona.

Namun ada yang ajalnya tiba disebabkan terjangkit virus korona. Itu hanya sebab saja, dan banyak sebab yang lain tapi tidak begitu ditakutkan. Padahal bagi orang beriman, apapun kondisi dan situasi yang terjadi, walaupun hari tibanya kiamat sekalipun, maka tempat kembali kita adalah Allah swt.

Lihat firman Allah swt dalam al-Qur’an, Surat al-Qiyamah ayat 10-11-12. Pada hari itu manusia berkata, “Kemana tempat lari?” Tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.

Demikian sibuknya manusia pada hari kiamat sehingga tidak tahu kemana harus melarikan diri. Demikian pula kondisi sekarang bumi Allah satu, dan tidak perlu berlebih-lebihan, ikut arahan para ahli dan kemudian bertawakkal kepada Allah swt.

Dia-lah yang menentukan dan mengetahui bagaimana kita mati, di bumi mana kita mati, dan kapan kita mengakhiri hidup ini. Dan ilmu ini serta bebrapa ilmu lainnya yang tidak akan pernah diberikan Allah swt kepada kita sesuai dengan firman-Nya di akhir surat Lukman.

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya hanya disisi Allah-lah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam Rahim.

Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya untuk hari esok.

Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Lukman:34).

Kalau demikian tidak usah gundah berlebihan, sebagai manusia yang jelas akan mati (meninggal dunia) lewat berbagai sebab, maka sejak dini persiapan-persiapan yang menuju ke arah itu sama-sama kita persiapkan karena mati hanya sekali.

Kalau sudah membuat persiapan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, artinya kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada yang jelas mati itu akan mendatangi kita, maka kita bertwakkal kepada Allah azzawajalla agar akhir hidup kita yang terbaik menurut ilmu-Nya.

Pada suatu hari Rasulullah saw melihat seorang Arab Badui meninggalkan untanya tanpa mengikatnya (dalam keadaan terlepas).

Kemudian Rasulullah bertanya kepada Arab Badui tersebut, “Mengapa anda tidak mengikat atau menambat untamu?” Orang Arab Badui itu menjawab, “Saya menyerahkannya kepada Allah (saya tawakkal kepada Allah).”Selanjutnya Rasulullah saw bersabda, “ikatlah untamu lebih dahulu, kemudian bertawakkallah kepada Allah swt.” Berusaha, berikhtiar atau berbuat sesuai arahan dan himbauan adalah langkah pertama yang harus dilakukan oleh makhluk ini demi kemaslahatan umat banyak, sedangkan hasil usaha atau ikhtiar adalah kembali kepada Allah. Dia-lah yang Maha Tahu kesudahannya, di tangan-Nyalah semua keputusan, dan dalam genggaman-nyalah langit dan bumi ini ia berada.

Dalam hal penanganan Covic 19 memang sudah sesuai dengan anjuran Rasulullah saw tentang bagaimana mengantisipasi menyebarnya wabah (tha’un) itu.

Misalnya good hygiene dan quarantining, social distancing, locking down, dan cleanliness dan washing hands, do not enter an outbreak of plague in a land, and do not leave that place when you are in the plague out break.

(Untuk tetap stabil dan jauh dari penyakit yang menular, maka jaga kesehatan atau ikuti arahan tentang pola menjaga kesehatan, karantina, menjaga jarak, tetap berada di rumah masing-masing, menjaga kebersihan, membasuh tangan, jangan memasuki daerah yang sedang dilanda wabah, dan jangan pula keluar dari daerah yang sedang mewabah yang dikala itu anda sedang berada di dalamnya).

Ini pesan Dr.Craig Considine, seorang professor dari Rice University, yang mengutip beberapa hadis Nabi Muhammad saw dalam menghindari virus yang berbahaya. Beliau saja yang bukan sekeyakinan dengan kita umat Islam, mengambil pedoman dari Nabi Muhammad saw (Nabi umat Islam), sangatlah dhaif jika kita tidak mampu meneladani Rasulullah saw. Dengan demikian persoalan ibadah tidak menjadi kendala bagi umat Islam. Kalau mau ke masjid, silakan dan jangan lupa pakek masker dan selalu dalam kebersihan setelah shalat selesai silakan kembali ke rumah masing-masing.

Perlu dipikrkan bahwa selama libur dalam menghadapi Covic 19 ini, dunia anak-anak semakin tidak jelas karena mereka berada di dalam rumah masing-masing, bagaimana kesehatan mereka, bagaimana makanan mereka, bagaimana pembelajaran mereka, bagaimana psikis mereka, dan secara umum bagaimana dunia mereka, terganggu ataupun tidak? Mungkin bulan suci ramadhan ini setiap orang tua perlu memberikan extra perhatian kepada pendidikan anak dan kesehatan mereka walaupun kita sedang berpuasa di tahun yang penuh cobaan ini.

Ya Allah jauhkan bencana ini dari orang-orang yang selalu mengingat-Mu, yang selalu menjalankan perintah-Mu dan perintah Rasul-Mu, dan dari hamba-hamba-Mu yang sangat dhaif ini. Kuatkan kami untuk beribadah kepada-Mu di bulan yang penuh berkah ini, lindungi kami semuanya dari wabah yang menular ini, turunkanlah rasa takut kepada-Mu dan rasa syukur kepada-Mu dalam setiap relung hati kami agar kami dapat memperhambakan diri kepada-Mu ya Allah.

Tunjuki orang-orang sesat agar mereka kembali kepada ajaran-Mu ya Allah sehingga orang-orang kafir dan munafik hilang di permukaan bumi ini ya Allah.

Selain itu bagi umat Islam banyak cara untuk dapat menanggulangi kemungkinan-kemungkinan yang terburuk sekalipun. Kenapa kita harus gundah gulana berlebihan, kita haqqul yakin kepada Allah swt untuk diberikan kekuatan melaksanakan perintah-Nya di bulan suci ini.

Perbanyaklah istighfar dan salawat kepada Rasulullah saw semoga kita dijauhkan dari wabah ini. Kegunaan istighfar adalah untuk menyucikan diri dari segala dosa dan noda, jika berdoa kepada Allah dalam keadaan suci dan bersih dari segala noda dan dosa, maka setiap doa kita akan dimaqbulkan Allah.

Orang yang hatinya bersih, pikirannya bersih, jasadnya bersih, makanannya halal, secara otomatis segala permohonannya akan langsung diterima Allah tanpa ada pemeriksaan berkas, karena syarat-syaratnya sudah mencukupi.

Maka mohonlah untuk kebaikan semuanya, ampunan semuanya, dan kasih saying untuk semuanya. Selanjutnya bersalawat kepada Rasulullah saw juga salah satu cara untuk diterima doa setiap hamba. Kekuatan salawat adalah perlu diperhitungkan, jika manusia enggan bersalawat kepada Nabi Muhammad saw, maka doa yang dipinta akan dikembalikan kepada pemohon karena berkasnya tidak lengkap.

Makanya untuk melengkapi persyaratan diqabulkan doa oleh Allah Yang Maha Rahman, maka perbaiki step berdoa. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang lebih berkemungkinan diterima doa dari hamba-hamba yang penuh khusyu’ dan tawadhu. Karena itu perbanyaklah memohon ampun dan maaf kepada Allah, serta memperbanyak salawat kepada kekasih-Nya Muhammad saw.

Di yaumil mahsyar nanti, diantara orang-orang yang akan mendapat syafaat Rasulullah saw adalah orang-orang yang senantiasa mengikuti sunnahnya, mengikuti ajarannya, mengikuti para sahabatnya, mengikuti ulama pewarisnya, dan yang selalu memperbanyak salawat kepadanya. Kalau dengan hiruk pikuknya hari kiamat dan dahsyatnya azab jahannam bisa terlindungi dengan salawat kepada Nabi saw, kurasa wabah corona ini kecil sekali persoalannya. Karenanya pagi dan petang mohon dilipatgandakan salawat kepada baginda Nabi saw serta memperbanyak sedekah kepada orang-orang yang membutuhkannya. Insya Allah kita akan selamat dunia dan akhirat.

Karena itu dengan memperbanyak salawat kepada Nabi, bersedekah, menyambung silaturrahmi, memakmurkan rumah-rmah Allah, serta mempernyak dan memoerlam sujud kepda Nya, insya Allah wabah korona ini akan hilang dengan izin-Nya. Kemudian dahsyatnya siksa kubur, namun sedekah dan bacaan al-Qur’an bisa teratasi semuanya, kenapa kita enggan bersedekah dan kemana kita gunakan waktu selama lock down ini kalau bukan untuk mengkhatamkan al-Qur’an hingga puluhan kali selama berada di rumah? Ini adalah obat kerisauan, kegundahan dan ketakutan. Namun jika kita tidak mau mengamalkan beberapa anjuran Rasulullah, maka kemungkinan berdomisilinya wabah korona semakin lama di tempat kita dan bersama kita. Karena para pengundang wabah korona ini adalah para pelaku maksiat, para pembunuh, para penipu, para penzina, para penjahat, para munafikim dan kekafiran yang semakin bertambah.

Bulan Ramadhan juga bulan yang penuh keutamaan serta memiliki berbagai kemulian dan kelebihan di dalamnya, oleh karena itu eloklah kita umat Muhammad saw memperbanyak ibadat di bulan ini dengan penuh harap agar segala persoalan umat Islam dimanapun di dunia ini akan Allah cabut semuanya. Kita memiliki satu senjata ampuh untuk menghadapi berbagai pertempuran dan perjuangan dalam kehidupan ini, yaitu doa. Jika enggan berdoa dan mengikuti step agar doanya diterima, artinya kita ini manusia sombong yang tidak perlu bantuan kepada yang lain. Bukti sebagai hamba yang dhaif adalah ketaatan dan ketundukan kepada Zat Yang Maha Kuasa, dan bukti berikutnya adalah menangis serta meratapi kesalahan yang mungkin disengaja ataupun tidak disengaja, dan ini lebih baik dilakukan dalam shalat tahajjud di sepertiga malam yang hening. Doa dan perhambaan ini adalah sebagai bukti ketulusan dan keterbatasan dalam berbagai bidang. Kita harus paham bahwa kita perlu bantuan Allah, namun Allah tidak berhajat kepada pertolongan kita, kita adalah miskin dan Allah itu Maha Kaya, kita dhaif dan Allah Maha Kuat, karena itu sebaik-baik perhambaan adalah menghilangkan kesombongan dan kesyirikan dalam hati kita walaupun sebesar zarrah (atom). Kesyirikan dan kseombongan inilah yang menghalangi kita untuk memasuki sorga-Nya.

Bulan suci ini mudah-mudahan dapat menjadi pelajaran penting bagi umat Islam khususnya orang-orang yang beriman walaupun kita berpuasa di tengah-tengah kondisi yang serba ketidak tenangan yaitu dalam kondisi mewabah hampir seluruh dunia. Namun kita bersyukur karena kita masih memiliki Allah azza wajalla sebagai tempat kembali dan memohon ampun dan meminta pertolongan, Tetapi masih ada saudara-saudara kita yang belum mendapat hidayah, tidak bertuhan kepada tuhan Allah, dan ada yang tidak bertuhan sama sekali seperti kaum atheis, komunis atau PKI, serta bertuhan tetapi penuh kesyirikan seperti para penyembah berhala, penyembah setan, penyembah thaghut, penyembah manusia, penyembah jabatan, penyembah harta benda, dan penyembah perempuan, dan para penyembah iblis.

Penulis adalah Staf pengajar S3 PAI Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry, dan Komisioner Pengawasan dan Perlindungan Anak Aceh (KPPAA).