Puasa Melatih Kejujuran

Oleh: Nazarullah, S.Ag, M.Pd

Hendaklah kamu selalu jujur, karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa ke dalam Syurga.(HR. Bukhari dan Muslim).

Pelaksanaan ibadah puasa tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun yang lalu, nilai ibadah puasa dengan nilai syi’ar ramadhan berjalan seiring, sehingga gegap gempita memasuki bulan ramadhan sangat terasa dan segenap umat islam berusaha mempersiapkan diri sedini mungkin untuk menyambut tamu agung yang namanya ramadhan.

Berbeda dengan ramadhan kali ini, ramadhan 1441 H/2020 M, kehadirannya berbarengan dengan kehadiran wabah corona sebagai pandemi yang menakutkan bagi seluruh manusia di berbagai belahan dunia.

Munculnya wabah corona telah membuat syi’ar ramadhan tahun ini sedikit berkurang. Dulu, setiap ramadhan datang, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang melakukan shalat lima waktu, shalat tarawih serta buka puasa bersama.

Namun, untuk ramadhan kali ini, pelaksanaan ibadah di masjid-masdjid dalam bulan ramadhan, umat islam harus mengikuti aturan pemerintah dan juga arahan tim kesehatan agar tidak terpapar covid-19. Sehingga, pro dan kontra bermunculan dalam kalangan masyarakat di Indonesia dan juga di berbagai belahan negara lainnya.

Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, puasa adalah ibadah yang sangat rahasia (sirriyah). Dikatakan sirriyah karena yang mengetahui seseorang melakukan ibada puasa atau tidak adalah orang yang bersangkutan dan Allah SWT. Dengan demikian, ibadah puasa adalah salah satu media yang melatih seseorang untuk berlaku jujur.

Dalam kondisi apapun, kita tidak akan makan dan minum walaupun orang-orang tidak melihat kita makan dan minum karena kita yakin dan percaya bahwa Allah pasti akan melihatnya.

Orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa sedang dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Segalah aktifitas pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT. Bila keyakinan ini terus menerus dijaga dengan baik, bukan tidak mungkin “madrasah ramadhan” akan membentuknya menjadi manusia yang jujur.

Jika nilai kejujuran ini sudah terbentuk dalam jiwa manusia, besar kemungkinan penyimpangan moral seperti, suap, korupsi dan pungli akan tidak terjadi lagi.

Diakui atau tidak, sosok manusia yang jujur saat ini sudah sangat langka di sekitar kita. Mencari orang pintar sangat mudah, tapi mencari orang yang jujur sangatlah susah.

Sehingga ada ungkapan yang muncuk dalam masayarakat: “Kalau jujur akan terbujur, kalau terlalu lurus akan Kurus, dan bila bekerja dengan ikhlas akan tergilas”. Hal ini muncul dikarenakan nilai kejujuran telah dicampakkan dari tata pergaulan sosial, politik dan ekonomi. Perilaku hipokrit telah berlangsung sedemikian rupa dan benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan.

Contoh kecil ketidakjujuran yang kita temukan saat ini adalah berkaitan dengan banyaknya dokter atau tenaga medis yang terpapar virus corona.

Bukankah tenaga medis ini sudah mengikuti aturan kesehatan dengan baik, tapi kenapa juga mereka bisa terpapar virus corona? Jawabannyanya adalah karena adanya pasien yang berobat dengan menyepelekan kejujuran. Mereka (pasien) tidak jujur kepada dokter atau tim medis bahwa dia baru pulang dari daerah yang terjangkiti wabah Covid-19.

Sehingga dokter dan tim medis menangani pasien ini dengan cara-cara biasa terhadap pasien yang sakit tanpa memakai APD yang telah dipersiapkan.

Muslim Minyak Wangi

Banyak orang melakukan ibadah puasa setiap tahunnya, namun perilakunya tidak pernah berubah. Begitu ramadhan berlalu, maka kebiasaan jelek, atau jahat kambuh lagi.

Kualitas puasanya ini bisa dikatakan masih sebatas menahan lapar dan dahaga. Bahasa kasarnya, ramadhan hanya dijadikan topeng untuk sementara waktu menjadi manusia baik, alim dan ahli ibadah.

Setelah ramadhan berlalu, dia kembali terjun ke dalam mark up proyek, korupsi, serta masih mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan dan jabatan. Orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang melakukan ibadah puasa bukan berdasarkan iman tapi hanya sekedar mengikuti tradisi.

Selama bulan ramadhan, orang-orang yang semacam ini mendadak menjadi manusia yang ahli ibadah. Dia tidak hanya rajin puasa, tapi juga rajin taraweh dan juga rajin membaca Al-Quran. Namun, apa yang dilakukan ini hanya palsu (topeng) belaka.

Ibadah puasanya tidak pernah mengantarkannya menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah. Bacaan Al-Quran yang dilantunkannya selama bulan puasa tidak pernah membekas dan tidak pernah dipahaminya untuk merobahnya kepada hal yang lebih baik. Ironis bukan

Padahal baginda Muhammad SAW pernah bersabda: “Orang mukmin yang membaca Al-Quran ibarat jeruk manis, baunya harum dan rasanya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al-Quran ibarat kurma, rasanya enak tapi tidak ada baunya.

Orang munafik yang membaca Al-Quran, ibarat minyak wangi, baunya harum tapi rasanya pahit. Sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran ibarat buah kamarogan (Handhalah), tidak ada baunya dan rasanya pahit”. (H. R. Bukhari dan Muslim)

Menurut Prof. Dr. Ali Mustafa (mantan imam besar masjid Istiqlal), yang dimaksud dengan muslim jeruk manis adalah “Orang Islam yang membaca dan juga hafal Al-Quran , memahami isi kandungannya serta juga mengaplikasi perintah Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Muslim kurma adalah orang Islam yang mengamalkan ajaran Al-Quran kendati dia tidak hafal Al-Quran. Muslim minyak wangi (parfum) adalah orang Islam yang bisa baca Al-Quran, menghafalnya tapi tidak mau mengamalkan ajaran Al-Quran.

Sedangkan muslim buah kamarogan adalah muslim yang tidak pernah membaca Al-Quran dan tidak pula mengamalkan isinya”.

Dari empat tipologi muslim itu, penulis mencoba menyampaikan kepada para pembaca, bahwa muslim muslim minyak wangi-lah yang paling banyak kita dapatkan di Indonesia. Minyak wangi itu baunya enak dicium tapi pahit di lidah.

Artinya, ummat Islam yang ada di Indonesia, di luar sana dikenal santun, pandai baca Al-Quran dan juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tapi ketika dilihat langsung, yang didengar berbeda dengan apa yang dilihat.

Indonesia dikenal dengan masyarakat yang mayoritas rakyatnya adalah muslim, dan tahu baca Al-Quran, tapi di berbagai instansi pemerintah ada saja temuan penggelapan uang negara.

Lihat saja, hampir semua kantor pemerintah di Indonesia juga termasuk di Aceh, dinakhodai oleh seorang muslim yang bisa membaca Al-Quran dan ahli puasa, namun program yang dimunculkan hanya sekedar dapat mencairkan dana untuk “Peumawah” antara atasan dan bawahan. Sehingga, Ujung-ujung akan muncul dalam pertanggungjawaban keuangan yang terkesan tidak jujur.

Harga pengadaan barang yang dibeli dengan murah, tapi dipertanggungjawabkan dengan harga yang mahal, sehingga terjadilah praktik korupsi dan manipulasi keuangan negara.

Lagi-lagi, orang-orang yang semacam ini bukan tidak berpuasa dan juga tidak membaca Al-Quran, tapi manusia seperti ini adalah manusia yang puasanya itu hanya sekedar rutinitas atau tradisi belaka.

Semestinya, puasa di bulan ramadhan bisa menjadi wadah untuk menghadirkan individual yang religius dan menumbuhkan kesadaran bersama untuk meningkatkan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis adalah Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Aceh dan Mahasiswa Program Doktor di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.