Estafet Tukang Pangkas dari Milenial

Armia dan Salman saat sedang melayani langganan yang pangkas rambut. (Ichsan Maulana/rakyat aceh)

ICHSAN MAULANA, Aceh Besar

Profesi tukang pangkas ternyata juga diminati anak muda milenial. Salman, pria kelahiran 1999, salah satu dari itu. Sejak masih mengenyam pendidikan sekolah menengah atas, dirinya sudah mulai belajar menjadi tukang pangkas.

Tak ada motivasi aneh-aneh yang mendorong Salman bergelut di dunia gunting rambut tersebut. Faktor paling utama, katanya, karena di desanya, Gampong Bagok, Aceh Timur, banyak warga berprofesi sebagai tukang pangkas. Dari yang menjajakan jasanya di ‘nanggroe’ hingga ke luar negeri, Malaysia.

“Karena itu ya tertarik saja. Pas lihat orang lagi pangkas rambut, kayak merasa indah saja, ada seninya,” tutur Salman kepada Harian Rakyat Aceh, Rabu (6/5).

Biasanya, proses awal belajar pangkas di kampungnya dimulai di bawah ‘meunasah’, melihat senior dan mulai mempraktikkan. Setelah itu, sembari sekolah dirinya mulai naik level dengan keluar ke tempat pangkas di kota kecamatan.

Jam terbang yang mulai ada, nyatanya tidak membuat pria ke 4 dari 5 bersaudara ini cepat puas. Ia kursus pangkas ke Medan.

“Ikut pelatihan pangkas di Medan. Tempat saudara juga sebenarnya. Setelah itu, saya jadi tukang pangkas rambut di sana, kurang lebih 8 bulan,” k\enangnya.

Saat ini Salman tidak lagi bekerja di Medan, tetapi sudah kembali di Aceh. Bangunan kecil ukuran 5 meter kali 3 meter di Tanjung Selamat, Aceh Besar, tampak selalu ramai.

Bedanya, selama Covid-19 tidak ada lagi yang mengantri membludak di tempat pangkas yang mereka namai “Bless Barber”.

Bersama Armia yang juga sekampung sekaligus pemilik usaha itu, keduanya menjadi juru tata rambut. Sudah dua tahun mereka melayani rambut warga di sana, yang berasal dari ragam tempat.

Pangsa pasar utamanya adalah mahasiswa. Sebab tempat pangkasnya, masih dalam ruang lingkup kampus Universitas Syiah Kuala.

Baca Juga...  Telkomsel Bentuk PT Telkomsel Ekosistem Digital, Anak Perusahaan untuk Perkuat Ekonomi Digital Indonesia

Sudah memasuki 15 ramadhan, tapi tingkat keramaian orang datang pangkas rambut ke tempat mereka tidak seperti tahun lalu.

Sebabnya, mahasiswa diliburkan karena Covid-19 dan diganti belajar online. Tahun sebelum itu, ramai lantaran mahasiswa relatif banyak yang bertahan di Banda Aceh. Minimal mereka yang mengambil semester pendek.

“Dibilang sepi sekali sih enggak. Cuman secara penampakan tidak membludak. Biasanya kan ada yang antri 4 sampai 5 orang. Karena corona berpengaruh. Tapi ini sudah kayak seperti biasa. Mungkin puasa 20 baru ramai,” Urai Salman.

Mereka sempat tutup kurang lebih dua minggu, saat di Banda Aceh diberlakukannya jam malam. Keduanya memilih pulang kampung waktu itu.

Sekarang ini, jalan tahun kedua usaha pangkas mereka, sudah sangat banyak langganan, terutama anak muda. Sering, Salman dan Armia ditelepon pelanggan untuk bertanya daftar antri.

Treet.. Dreet.. Treet.. Dreer.. Bunyi alat cukur rambut terus berbunyi di ruangan mungil tersebut. Tangan Salman telaten menyibak bagian rambut mana yang harus dirapikan. Pantulan bayangan tubuhnya tampak jelas dari cermin. Meski sangat menikmati profesi sebagai tukang pangkas, katanya, kelak dia akan berhenti.

“Gak mungkin jadi tukang pangkas terus. Ada saatnya gak sanggup lagi, mungkin saat tua. Kalau ditanya kapan berhenti, dan berapa tahun targetnya, gak tahu bilang juga. Sekarang selama sanggup kerja terus, sambil persiapan modal, jika pensiun sebagai tukang pangkas, mau beralih kemana,” Ucapnya.

Hawa dingin cukup terasa di ruangan kerjanya. Beberapa foto selebriti dunia dengan ragam model rambut diletakkan pada sudut atas cermin berukuran besar.

Salah satunya, penyanyi Justin Bieber. Di tengah hawa sejuk, Salman terus menikmati profesinya sebagai tukang pangkas milenial. Panggilan sekaligus pilihan hidup. **

Baca Juga...  Epson Meningkatkan Pengalaman Bioskop Rumah dengan Proyektor Home Theatre Laser Resolusi 4K Terbaru