Flu Spanyol, Pandemi yang sudah Teratasi

Rakyat Aceh

Oleh: Muhammad Alief Hawari

Virus corona telah menginfeksi kurang lebih 3,5 juta orang di seluruh dunia dan menyebabkan 247.326 orang meninggal dunia. Sekarang wabah tersebut telah ditetapkan sebagai Pandemi global. Di Indonesia sendiri, virus corona telah menginfeksi lebih dari 11.192 orang dengan jumlah kematian 845 orang (tercatat pada tanggal 3 Mei 2020).

Namun pada 1 abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1918, telah terjadi suatu pandemi yang menggemparkan seluruh dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini menginfeksi kurang lebih 500 juta orang di seluruh dunia. Korban yang tewas akibat penyakit ini pun tidak tanggung- tanggung, tercatat ada 50 juta kematian . Hingga pada tahun 1919 penyakit inipun akhirnya dapat diatasi. Penyakit yang pernah mengguncang dunia ini adalah flu spanyol.

Mikroorganisme penyebab dari flu spanyol ialah Virus Influenza Tipe A subtipe H1N1 yang berasal dari unggas. Pertama kali virus ini ditemukan di Amerika Serikat pada musim semi tahun 1918. Virologis Amerika menyebutkan bahwa flu spanyol merupakan “The Mother of All Pandemics”.

Seperti halnya virus corona, virus ini juga menyebabkan terhambatnya aktivitas masyarakat, seperti bekerja di area umum. Pada saat itu, pemerintah setempat juga menganjurkan kepada masyarakat untuk menggunakan masker, mencuci tangan secara rutin, dan menjaga jarak satu sama lain (physical distancing). Pemerintah juga menutup tempat-tempat umum seperti sekolah, pabrik, kantor, dan tempat-tempat lainnya.

Untuk gejalanya, flu spanyol juga mempunyai kemiripan dengan COVID-19, yakni sakit kepala, batuk kering, kelelahan, penurunan nafsu makan, hingga berkeringat secara berlebihan. Virus inipun menginfeksi saluran pernafasan hingga menyebabkan pneumonia. Apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat, penyakit ini akan menimbulkan gejala ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) atau yang disebut gangguan pernafasan akut hingga berujung kepada kematian.

Baca Juga...  Aliansi Muslimat Aceh Minta DPRA Tolak RUU TPKS

Berdasarkan laporan kasus, virus ini menyerang rentang usia 20-40 tahun serta usia 65 tahun ke atas. Karena pada usia 20-40 tahun adalah usia yang produktif, dimana orang-orang pada usia ini banyak melakukan aktivitas diluar ruangan sehingga mudah tertular virus ini. Usia 65 tahun keatas adalah usia yang menurut WHO (World Health Organization) tergolong usia lanjut, dimana pada usia ini fungsi tubuh mengalami penurunan sehingga rentan tertular berbagai macam virus, termasuk virus H1N1.

Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), terdapat 4 hal yang harus dilakukan untuk mencegah infeksi virus
1. Perlindungan terhadap diri
Hal yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari virus adalah mencuci tangan sesering mungkin, terutama setelah berpergian dari tempat umum. Mencuci tangan dengan baik dan benar akan efektif membunuh mikroorganisme jahat termasuk virus. Jika tidak tersedia sabun dan air, gunakanlah hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.

Selain menjaga kebersihan diri, menjaga kondisi tubuh tetap sehat juga merupakan hal yang penting. Sangat ditekankan untuk menjaga pola hidup sehat agar imunitas tubuh tetap terjaga, seperti mengkonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, tidak stress, dan sebagainyab sehingga mencegah kerentanan tubuh terhadap infeksi virus. Dengan kondisi pandemik seperti saat ini, sudah seharusnya kita berhenti melakukan kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol, sering bergadang, dan kebiasaan buruk lainnya.

2. Kenakan masker kain
CDC juga menyarankan penggunaan masker kain bagi siapa saja jika hendak keluar rumah. Karena tindakan ini dapat mencegah diri dari infeksi virus sekitar, serta mencegah seseorang untuk menularkan virus dari dirinya ke orang lain. Seperti yang kita ketahui bahwa sebagian besar orang yang terinfeksi virus tidak memiliki gejala, sehingga seseorang bisa saja menularkan virus ke orang lain secara tidak sadar. Karena itu, penggunaan masker kain sangatlah penting untuk mencegah penyebaran virus.

Baca Juga...  Polisi Ungkap Pembakaran Mobil, Tiga Pelaku Diamankan

Masker kain yang disarankan bukanlah masker bedah ataupun masker N-95, karena masker tersebut hanya untuk para tenaga medis yang berada di garis terdepan, sehingga mereka sangat rentan terhadap penularan virus. Khawatirnya apabila masyarakat umum menggunakan masker bedah ataupun masker N-95, akan terjadi kelangkaan dari masker tersebut sehingga mempersulit dari tenaga medis.

3. Bersihkan area rumah
Virus dapat menetap di suatu benda untuk jangka waktu yang lama tergantung dari jenis benda yang dihinggapinya, oleh karena itu sangat disarankan untuk melakukan desinfeksi terhadap barang barang yang sering disentuh di rumah seperti meja, gagang pintu, sakelar lampu, hp, keyboard, toilet, keran, wastafel, dll.
Desinfeksi dapat menggunakan larutan deterjen jika memungkinkan, ataupun cukup dengan alkohol. Diharapkan tindakan ini dapat mencegah persebaran virus di area sekitar rumah kita.

4. Menjaga jarak
Untuk kondisi seperti saat ini, menjaga jarak merupakan salah satu kunci untuk mencegah terjadinya persebaran virus. Karena virus seperti corona sangat mudah tertular jika berdekatan dengan orang yang terinfeksi. Jagalah jarak setidaknya 1 meter dengan orang lain, Jangan berkumpul dalam kelompok, Jauhi tempat-tempat ramai dan hindari pertemuan massal.
Penyebaran terjadi ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara.

Lalu tetesan dari mulut atau hidung terpercik ke udara dan menetap di mulut atau hidung orang lain, serta barang di dekatnya. Kemudian tetesan terhirup ke paru-paru. Apabila kondisi fisik sedang melemah, virus dapat langsung menginfeksi saluran napas dan menimbulkan gejala.

Untuk itu, kepada masyarakat diharapkan lebih waspada dan menjaga kesehatan karena kita tidak tahu darimana kita dapat tertular berbagai macam virus, tidak hanya COVID-19 tetapi juga berbagai penyakit lainnya.

Baca Juga...  Anggota Komisi III DPR RI, H. Nazaruddin Dek Gam Ingatkan Wartawan Jaga Kehormatan Profesinya

Semoga dengan berkembangnya teknologi serta informasi di dunia kedokteran, para peneliti dapat melakukan pencegahan serta pengobatan untuk pandemi saat ini agar tidak separah pandemi-pandemi yang telah berlalu.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh.