Apakah Jenazah Covid-19 Bisa Menularkan pada Orang Lain?

Ilustrasi

Oleh: Teuku Muhammad Furqan
Virus Covid-19 telah menginfeksi ribuan orang di dunia. Jumlah kasus Covid-19 semakin hari terus bertambah hingga menelan banyak korban jiwa. Data terbaru dari juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di Graha BNPB pada Kamis (7 Mei 2020) Pukul 16.00 WIB, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia bertambah menjadi 12.776 orang. Diantaranya pasien di rawat berjumlah 9.465, meninggal 930, dan pasien sembuh sebanyak 2.381 orang.

Ironisnya, dari sekian jumlah korban meninggal akibat Covid-19, tidak sedikit proses pemakamannya ditolak oleh sejumlah oknum warga. Fenomena penolakan pemakaman jenazah pasien positif corona terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Salah satu aksi penolakan jenazah Covid-19 dialami oleh salah satu tenaga medis Rumah Sakit Kariadi Semarang, Jawa Tengah, yaitu perawat yang berinisial NK, beliau meninggal pada Kamis (9 April 2020). Namun, Ketua RT dan warga sekitar menolak permintaan keluarga untuk memakamkan korban di TPU Sewakul.

Penolakan tersebut kabarnya terjadi karena warga sekitar tempat pemakaman takut tertular infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut. Padahal, penanganan jenazah korban Covid-19 sudah melalui proses yang ketat dan sesuai dengan standar yang diatur dalam Protokol Penanganan Jenazah Pasien Covid-19 oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), belum ada bukti bahwa mayat dari orang yang terinfeksi virus corona dapat menularkan kepada orang lain. WHO membuktikan bahwa mayat tidak bisa menularkan penyakit. Penularan bisa terjadi jika ada proses otopsi paru-paru pasien yang tidak ditangani dengan benar. Jadi, orang yang meninggal karena Covid-19 masih bisa disemayamkan sesuai budaya dan keyakinannya. Risiko infeksi bisa saja terjadi jika terkena cairan tubuh atau sekresi yang keluar dari tubuh mayat.

Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan khusus ketika menangani mayat pasien Covid-19 serta orang yang menyentuh dan menangani jenazah penderita Covid-19 perlu menggunakan alat pelindung diri dengan benar. Hingga kini pun tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus corona melalui jenazah.

Selain itu, dilansir dari Liputan Berita Universitas Gajah Mada, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D, Sp.MK., menjelaskan ketika jenazah telah dibungkuskan dan dikubur maka virus akan ikut mati. Saat orang meninggal, selnya mati sehingga virus di dalamnya tidak akan berkembang.

Sifat virus dalam jenazah sama dengan virus yang terdapat di tanah, lantai, maupun barang yang akan mati dalam jangka waktu tertentu. Beliau menyebutkan risiko penularan jenazah positif Covid-19 ke manusia akan minimal apabila seluruh langkah pemulasaran dilakukan sesuai pedoman penanganan yang dikeluarkan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Sehingga, masyarakat tidak ada alasan untuk menolak pemakaman jenazah pengidap Covid-19 karena rumah sakit telah menangani jenazah sesuai panduan medis yang memastikan keamanannya, salah satunya jenazah dibungkus plastik atau kantong jenazah yang tidak mudah tembus.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta pemerintah di tingkat wilayah pun telah mengeluarkan panduan-panduan resmi mengenai pemulasaran jenazah penderita Covid-19. Selain itu tata caranya telah disesuaikan dengan protokol resmi WHO.

Patuhi Protokol Penanganan Jenazah Penderita Covid-19

Mengutip dari situs resmi www.kemenag.go.id, Kementerian Agama telah menerbitkan tata cara umum mengurus jenazah pasien virus SARS COV-2 (virus corona tipe 2), mulai dari cara memandikan hingga menguburkannya. Hal ini dilakukan demi mencegah penyebaran virus, terhadap siapapun yang nantinya mengurus, memandikan, hingga menguburkan jenazah pasien. Tata cara itu mengikuti aturan umum yang berlaku berdasarkan agama yang dianut dari jenazah pasien Covid-19.
Perlu digaris bawahi, pengurusan jenazah pasien Covid-19 harus dilakukan oleh petugas kesehatan pihak rumah sakit, sesuai agama si korban, dan telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Jadi, tidak sembarang orang boleh mengurus proses pemakamannya. Petugas wajib melindungi diri dengan mengenakan alat pelindung diri (APD) termasuk menggunakan pakaian pelindung, sarung tangan, hingga masker saat melakukan perawatan hingga menguburkan jenazah. Selama bertugas tidak diperbolehkan untuk makan, minum, merokok, ataupun menyentuh wajah selama berada di ruang penyimpanan jenazah, autopsi, dan area untuk melihat jenazah. Selain itu, petugas selalu cuci tangan dengan sabun atau sanitizer berbahan alkohol. Jika terdapat luka di tubuh petugas, harus ditutup dengan plester atau perban tahan air.

Saat proses memandikan jenazah, petugas tidak berkontak langsung dengan darah atau cairan tubuh jenazah. Kemudian jenazah yang dicurigai atau terbukti meninggal karena Covid-19 akan ditutup dengan kain kafan/bahan dari plastik (tidak dapat tembus air). Setelah itu, disemprot cairan klorin sebagai disinfektan. Dapat juga jenazah ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar dan sebelumnya sudah disinfeksi.

Jenazah beragama Islam posisinya di dalam peti dimiringkan ke kanan. Dengan demikian ketika dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat. Jika sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi, kecuali dalam keadaan mendesak seperti untuk kepentingan autopsi dan hanya dapat dilakukan oleh petugas.

Jika jenazah beragama Islam, dapat dilakuakn prosesi salat jenazah dengan beberapa ketentuan yaitu untuk pelaksanaan salat jenazah, dilakukan di rumah sakit rujukan. Jika tidak, salat jenazah bisa dilakukan di masjid yang sudah dilakukan proses pemeriksaan sanitasi secara menyeluruh dan melakukan disinfektasi setelah salat jenazah. Salat jenazah dilakukan sesegera mungkin dengan mempertimbangkan waktu yang telah ditentukan yaitu tidak lebih dari empat jam dan dapat dilaksanakan sekalipun oleh satu orang.

Setelah itu jenazah pasien positif corona telah siap dikuburkan. Adapula yang dikremasi mengikuti ketentuan agama dari jenazah dengan kesepakatan keluarga. Namun, proses penguburan jenazah pasien virus corona pun tidak boleh sembarangan. Sebab, ada beberapa protokol yang harus dilakukan, untuk mencegah penyebaran virus lewat tanah. Lokasi pemakaman diatur untuk berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman dan 30 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum, sehingga sumber air tidak akan terkontaminasi virus.

Jenazah harus dikubur dengan kedalaman 1,5 meter, lalu ditutup dengan tanah setinggi 1 meter. Penguburan beberapa jenazah di dalam satu liang kubur dibolehkan karena kondisi darurat. Bagi jenazah beragama Islam penguburannya dilakukan bersama dengan petinya. Setelah semua prosedur jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah. Tetapi tetap diatur secara ketat untuk tidak dikunjungi banyak orang.

Pihak keluarga pun tetap harus menjaga jarak dengan jenazah maupun dengan satu sama lain untun meminimalkan risiko penularan. Semua langkah-langkah perawatan hingga pemakaman jenazah penderita Covid-19 telah diatur dengan jelas dan rinci oleh pemerintah. Semua aturan ini dibuat sedemikian rupa untuk memastikan tidak adanya kemungkinan penularan dari jenazah ke orang yang masih hidup.

Jadi, masyarakat tidak perlu bereaksi berlebihan, apalagi sampai melarang jenazah Covid-19 dimakamkan. Perlu disadari, hal ini bisa menyakiti bagi anggota keluarga jenazah. Di masa-masa sulit seperti ini, alangkah baiknya kita saling membantu dan memberi dukungan, bukannya malah menambah kesedihan keluarga yang ditinggalkan.

Rasa takut dan cemas merupakan hal yang wajar selama masa pandemi saat ini. Tetapi jangan sampai kita lupa cara memanusiakan manusia dikarenakan rasa takut akan sesuatu hal yang belum kita ketahui kebenarannya.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Prodi Pendidikan Dokter Universitas Malikussaleh.
Pembimbing: Zuraida, S. Ag., MA