Prostitusi Online di Kota Langsa Dua IRT Nyambi Muncikari Demi Fee Rp150 Ribu

Kasat Reskrim memberikan keterangan pers praktik prostitusi online di Langsa, Selasa (2/5). (bahtiar husin/rakyat aceh)

LANGSA (RA) – Tuntutan ekonomi selalu menjadi alasan pembenaran melanggar hukum dan norma demi mendapatkan uang. Ini dilakoni oleh dua ibu rumah tangga, YU (47) warga Langsa Kota dan HE (35) warga Langsa Baroe.

Dua ibu rumah tangga (IRT) ini nekat nyambi menjadi muncikari prostitusi online di Kota Langsa. Bermodalkan perawakan lugu dan jaringan sosial luas dengan sejumlah lelaki pemburu nikmat, dua perempuan masih bersuami ini memberikan pelayanan pesanan pramunikmat sesuai selera.

Ada CLW (32), CJW (23), DAR (23), FNR (22) dan IF (24) dalam daftar list pramunikmat kedua mucikari tersebut yang siap untuk memuaskan birahi para lelaki hidung belang sesuai kesepakatan.

Ironisnya, dari lima list nama-nama pramunikmat tersebut, seorang berstatus gadis yaitu FNR, sementara 4 lainnya merupakan perempuan masih bersuami.

Menurut pengakuan YU, layanan pesanan pramunikmat ini dilakukan via media sosial Whats App (WA), yang selanjutnya dilayani dengan mengirimkan “tutorial” pramunikmat berupa nama, usia dan foto untuk dipilih sesuai selera masing-masing.

Kesepakatan itu, akhirnya diwujudkan dengan pertemuan darat antara pramunikmat dan lelaki pemesan di lokasi yang aman.

Selanjutnya proses eksekusi “arus bawah” antara kedua budak birahi tersebut menjadi persoalan mereka berdua terkait tempat dan durasi. Sementara muncikari yang telah mempertemukan dua nafsu tersebut kembali melenggang pulang ke rumahnya sambil membawa fee order sebesar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu setiap transaksinya.

“Sebenarnya saya tidak mau kerja seperti ini, tapi karena tuntutan ekonomi, maka saya terpaksa kerja sambilan menghubungkan laki-laki yang pencari perempuan melayani libido mereka dengan perempuan yang juga rela menjadi pemuas nafsu dengan alasan butuh uang,” sebut YU lirih.

Kini, bisnis online layanan birahi kedua IRT yang dirintis sejak 2018 lalu, telah berakhir saat terciduk Satreskrim Polres Langsa di depan Hotel Harmoni jalan Jendral A. Yani Kota Langsa pada Sabtu (9/5) sekira pukul 16:00 WIB.

Lima pramunikmat dalam list kedua muncikari tersebut juga harus mengakhiri petualangan birahi mereka untuk mengumpulkan pundi-pundi uang di Mapolres Langsa.

Kasat Reskrim Polres Langsa, Iptu Arief Sukmo Wibowo SIK mengatakan, kedua muncikari yang telah ditetapkan sebagai tersangka ini, telah memulai bisnis prostitusi onlinenya sejak tahun 2018.

Bermodalkan sarana HP android dan media sosial Whats App, kedua mucikari tersebut menghubungkan dan mempertemukan para pramunikmat dengan lelaki pemesannya.
“Tarif yang dikenakan untuk layanan short time (jangka pendek-red) kepada para lelaki pemesan antara Rp. 200 ribu sampai Rp250 ribu di luar fee mucikari.

Sementara eksekusi hubungan dilakukan di beberapa tempat dalam Kota Langsa dan luar Kota Langsa,” sebut Arief.

Kepada kedua tersangka muncikari kata Arief, akan dikenakan hukum qanun jinayat terkait perbuatannya dengan ancaman 100 kali cambuk, dan UU ITE terkait proses transaksi pemesanan secara online.

Sampai saat ini, kedua muncikari bersama lima pramunikmat yang masih berstatus saksi, diamankan sementara di Mapolres Langsa untuk menjalani proses penyidikan lanjut. (dai/min)