Rasulullah SAW melalui haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari menyampaikan bahwa kita dianjurkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan suci ini.(Ilustrasi)

Malam ini, umat Islam mulai memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan 1441 H. Mereka biasanya akan lebih meningkatkan ibadahnya untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Malam yang istimewa itu memang suatu kerahasiaan Allah SWT di bulan Ramadhan.  

Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan tibanya malam yang lebih mulia ketimbang seribu bulan itu. Namun, Rasulullah SAW melalui haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari menyampaikan bahwa kita dianjurkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan suci ini.

  “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” begitu bunyi haditsnya.   Tentu butuh upaya yang ekstra untuk memperoleh hal yang tak biasa itu. Salah satunya dengan meningkatkan intensitas ibadahnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Pasalnya, tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan malam yang mulia itu betul-betul tiba. Hal demikian ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.   “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” begitu hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.  

Baca: Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar   Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. Ibnu Baththal dalam Syarhu Shahihil Bukhari menjelaskan bahwa maksud mengencangkan kain bawahnya adalah Rasulullah SAW tidak menggauli istrinya.  

Sementara itu, membangunkan keluarganya berarti menganjurkan dan mendorong keluarganya untuk melakukan  mengingatkan keluarganya untuk melakukan amaliah sunah dan kebajikan lainya yang bukan fardhu.  

Hal tersebut juga senada dengan apa yang dijelaskan oleh Sufyan Ats-Tsauri, bahwa maksud ‘mengencangkan kain atasnya’ dalam hadits di atas adalah Rasulullah SAW tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya. Sedangkan pernyataan ‘Beliau (Nabi SAW membangunkan keluarganya’ menunjukkan bahwa suami dianjurkan mendorong keluarganya untuk mengerjakan amalan sunah dan amal kebajikan lainnya selain yang wajib serta menekankan kepada mereka untuk melakukan hal tersebut.  

Adapun maksud dari menghidupkan malamnya adalah Rasulullah SAW tidak tidur tetapi disibukkan dengan ibadah pada sebagian besar malamnya.

Artinya, Nabi Muhammad SAW tidak beribadah semalaman suntuk sampai pagi. Pasalnya, Aisyah RA menyatakan bahwa ia tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW beribadah semalam penuh sampai pagi.   “Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari,” kata Aisyah dalam suatu riwayatnya sebagaimana yang termaktub dalam Faidlul Qadir yang ditulis oleh Abdurrauf al-Munawi.  

Oleh karena itu, setidaknya ada tiga amaliah yang bisa dilakukan untuk mendapatkan Lailatul Qadar mengacu penjelasan di atas. Amaliah itu dapat membuka jalan umat Islam untuk memperoleh Lailatul Qadar. Adapun tiga amaliah tersebut adalah (1) untuk sementara tidak melakukan hubungan suami-istri, (2) meningkatkan intensitas beribadah terutama pada malam hari, dan (3) mendorong atau meminta keluarga untuk melakukan amaliah sunah dan amal kebajikan selain yang fardhu.

  Poin ketiga itu juga seirama dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, bahwa melakukan ibadah pada Lailatul Qadar dengna penuh keikhlasan akan menghapus dosa. “Barangsiapa melakukan ibadah pada malam Lailatul Qadar atas dasar keimanan dan keikhlasan maka diampunilah dosanya yang telah lalu.”   Di samping itu, umat Islam juga disunahkan untuk memperbanyak untaian doa, pengampunan, permaafan, dan kesejahteraan kepada Allah SWT.

Hal ini berdasarkan pada hadits yang diceritakan dari Aisyah ra, “Aku berkata, ’Ya Rasulullah! Apa pendapatmu bila aku menjumpai Lailatul Qadar. Apa yang aku ucapkan di dalamnya? Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah doa, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Engkau menyukai pengampunan. Maka ampunilah aku.” (Riwayat lima ahli hadits).  

Pada malam yang mulia itu juga, umat Islam melakukan i’tikaf, yaitu berdiam di dalam masjid dengan niat untuk beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan cara tertentu sebagaimana telah diatur oleh syariat, guna menghidupkan malam agar mendapatkan malam Lailatul Qadar. I’tikaf merupakan kegemaran Rasulullah SAW sampai menjelang wafatnya sebagaimana yang dikisahkan oleh Aisyah RA.    Lebih lanjut, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt. pada malam Lailatul Qadar secara global dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. 

  Terakhir, Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali menyebut bahwa pada malam yang diduga kuat Lailatul Qadar turun maka disunahkan untuk bersih-bersih diri, memakai wangi-wangian, dan memakai pakaian yang bagus. Sebab, Rasulullah SAW melakukan mandi di antara waktu Maghrib dan Isya pada sepuluh hari terakhir sebagaimana disebutkan dalam hadis dhaif riwayat Ibnu Abi Ashim.   Pewarta: Syakir NF Editor: Kendi Setiawan

Sumber: https://www.nu.or.id