Oleh: M. Fathul Arif

PUASA RAMADAN  1441 H berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena wabah Covid-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Indonesia mengonfirmasi kasus pertama yang menimpa dua orang warga Depok, Jawa Barat pada 2 Maret 2020 yang diumumkan langsung Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan. Setelah itu, jumlah pasien positif terus meningkat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 18 Mei 2020, kasus positif mencapai 18.010 jiwa dan yang meninggal 1.191 jiwa. Diperkirakan jumlah ini pun terus meningkat seiring belum jelasnya kapan pandemi akan melandai.

Menjalankan ibadah puasa di saat pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi umat muslim karena banyak ritual ibadah yang mengharuskan umat berkumpul bersama, seperti salat berjamaah, sedangkan protokol kesehatan mengharuskan setiap orang menjaga jarak fisik untuk menghindari potensi penularan.

Bukan hanya masalah ritual ibadah yang menjadi polemik untuk menyesuaikan dengan wabah, dalam bidang kesehatan pun masyarakat berhadapan dengan dilema.

Di satu pihak, pandemi mengharuskan warga memiliki daya tahan atau imunitas tinggi untuk mengurangi dampak buruk dari wabah.

Setiap orang bisa tertular dari siapa saja dan dari mana saja, apalagi banyak orang yang terpapar virus Corona tidak menunjukkan gejala apa pun.

Para ahli mengingatkan setiap orang agar bersikap seolah-olah sudah terkena virus dan sangat teliti dalam menjaga kesehatan, sebuah anjuran yang terkadang membuat orang malah menjadi paranoid.

Di sisi lain, ada perubahan metabolisme tubuh dan perubahan jam biologis karena puasa Ramadan. Tidur yang cukup dan pola makan menjadi dua hal yang harus dijaga untuk meningkatkan imunitas tubuh. Tapi dua hal ini juga yang berubah selama menjalani ibadah puasa Ramadan.

Memperbaiki imunitas

Ahli gizi Universitas Gadjah Mada, R Dwi Budiningsari PhD, menyebutkan puasa bermanfaat pada sistem kekebalan tubuh atau imunitas. Sistem kekebalan tubuh atau imunitas adalah kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, meniadakan kerja toksin dan faktor virulen lainnya yang bersifat antigenik dan imunogenik.

Antigen sendiri adalah suatu bahan atau senyawa yang dapat merangsang pembentukan antibodi (sejenis protein berukuran kecil yang beredar di aliran darah, dan termasuk sebagai bagian dari sistem imunitas atau kekebalan tubuh).

Antigen dapat berupa protein, lemak, polisakarida, asam nukleat, lipopolisakarida, lipoprotein, dan lain-lain. Kekebalan tubuh yang tetap terjaga menjadi salah satu kunci untuk terhindar dari Covid-19.

Menurut Budiningsari, dengan berpuasa yang benar dapat memperbaiki jaringan-jaringan sel yang rusak. Jika tidak dilakukan dengan benar, puasa dapat melemahkan tubuh dan membahayakan kesehatan.

Ketika berpuasa, tubuh mengalami perubahan sesuai dengan lama berpuasa. Faktanya, tubuh memerlukan waktu delapan jam untuk menyerap nutrisi dari makanan terakhir.

Artinya, tubuh mampu berpuasa bila diberi asupan terlebih dahulu. Sehingga, penting untuk makan sahur yang bergizi sebelum menjalani puasa dari terbit hingga tenggelamnya matahari.

Selain itu berpuasa 30 hari bisa merangsang produksi sel-sel darah putih baru. Hal ini mendasari regenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh. Kondisi dengan sistem kekebalan yang telah diregenerasi akan semakin memperkuat tubuh dalam menangkal berbagai infeksi bakteri maupun virus dan penyakit lainnya.

Asupan nutrisi

Agar puasa bagus untuk imunitas tubuh, kita juga harus mengimbanginya dengan asupan nutrisi yang baik, karena kekebalan tubuh sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas asupan nutrisi.

Pasalnya nutrisi yang buruk dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah, jika sistem kekebalan tubuh melemah, kemampuan untuk melindungi tubuh juga berkurang, sehingga patogen (mikroorganisme penyebab penyakit) termasuk virus COVID-19 yang saat ini tengah mewabah sangat mudah untuk terinfeksi.

Salah satu nutrisi yang dibutuhkan saat menjalankan ibadah puasa terutama di tengah pandemi COVID-19 ini adalah zat gizi mikro. Zat gizi mikro terdiri atas vitamin dan mineral. Walaupun vitamin dan mineral diperlukan tubuh dalam jumlah kecil, namun mempunyai peranan yang penting dalam memperkuat sistem daya tahan tubuh.

Sebagian besar vitamin dan seluruh mineral tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan terutama buah, sayur dan pangan hewani.

Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral ini maka diperlukan konsumsi makanan yang seimbang dan beragam. Dalam kenyataannya pada kondisi tertentu tidak semua vitamin dan mineral yang berasal dari makanan dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan, maka pada kondisi seperti ini dapat dipenuhi dengan konsumsi suplementasi vitamin dan mineral.

Beberapa vitamin dan mineral yang mempunyai peran meningkatkan sistem imunitas tubuh, di antaranya: Pertama Vitamin A yang mempunyai peranan penting di dalam pemeliharaan sel epitel. Sel epitel merupakan salah satu jaringan tubuh yang terlibat di dalam fungsi imunitas non-spesifik.

Imunitas non-spesifik melibatkan pertahanan fisik seperti kulit, selaput lendir, dan silia saluran nafas.

Kemudian kedua vitamin E atau a-tokoferol, merupakan antioksidan yang mampu mempertahankan integritas membran sel. Ion hidrogen dari a-tokoferol sangat efektif dan cepat bereaksi dengan beberapa radikal bebas dan menghentikan radikal bebas sebelum merusak membran sel dan komponen-komponen sel lainnya.

Ketiga, vitamin C yang dikenal sebagai antioksidan yang membantu menetralisir radikal bebas. Vitamin C meningkatkan fungsi imun dengan menstimulasi produksi interferon (protein yang melindungi sel dari serangan virus).

Vitamin C juga mempunyai peran dalam sintesa kolagen untuk menjaga kesehatan kulit. Kulit adalah salah satu jaringan tubuh yang berperan di dalam imunitas non spesifk. Kulit yang utuh dan sehat dapat menjaga masuknya unsur patogen ke dalam tubuh. Kulit merupakan barier pertama yang menjaga masuknya benda asing sehingga mencegah terjadinya infeksi.

Keempat, zat besi yang berperan dalam sintesa hemoglobin (protein yang berada dalam sel darah merah, dan yang memberi warna merah pada darah), selain itu zat besi juga berperan dalam imunitas dan pembentukan sel-sel limfosit (salah satu jenis sel darah putih).

Disamping itu dua protein pengikat besi yaitu transferin dan laktoferin dapat mencegah terjadinya infeksi dengan cara memisahkan besi dari mikroorganisme, karena besi diperlukan oleh mikroorganisme untuk berkembang biak.

Terakhir, zinc yang salah satu perannya untuk sintesa protein. Protein merupakan komponen terbesar dalam pembentukan antibodi, maka dari itu keberadaan zinc juga sangat terkait dengan sistem imun tubuh.

Tak hanya meningkatkan imunitas, berpuasa juga membantu detoksifikasi tubuh (sebuah proses dalam tubuh untuk mengeluarkan racun), misalnya zat-zat adiktif dalam makanan seperti pengawet dan pewarna makanan. Ini artinya, puasa bisa meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh.

Pertemuan wabah Covid-19 dan puasa Ramadan, menjadi momen untuk menigkatkan imunitas tubuh sekaligus menghindari tertularnya virus, selain tetap memperhatikan protokol kesehatan lainnya seperti menjaga jarak fisik, mencuci tangan dengan sabun, dan menggunakan masker.

Kombinasi antara ibadah dan protokol kesehatan menjadi kunci agar tubuh tetap fit dalam menjalankan aktivitas. Salam sehat!.

  • Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh.
  • Dosen Pembimbing: Jufridar, SE., MSM.