Aminah mengajarkan cara menanam biji durian kepada sejumlah murid SDN Duyung, Kecamatan Trawas, Mojokerto, di belakang halaman sekolah. Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

JAKARTA (RA) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya menciptakan kreativitas pada peserta didik, tenaga pendidik, serta tenaga kependidikan melalui kebijakan Merdeka Belajar.

Salah satunya mengadakan program inovasi yang sudah digulirkan sejak 2016 lalu dengan menggandeng Pemerintah Australia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemendikbud Totok Suprayitno mengungkapkan, dibutuhkan kreativitas yang bisa mendorong setiap guru untuk berkreasi.

Ia pun mengaku optimistis kualitas pendidikan di Indonesia mampu ditingkatkan melalui program Inovasi.

Menurut Totok, sekolah garapan Inovasi selalu berkreasi menemukan cara yang paling tepat. Target dari program ini adalah menjadi sekolah-sekolah yang dapat diadaptasi cara pembelajarannya oleh sekolah lainnya di seluruh Indonesia.

“Yang selalu kita anggap mustahil mengubah kultur belajar dari yang kaku, yang serba ikuti petunjuk menjadi sebuah proses belajar yang penuh dengan kreativitas,” kata Totok Suprayitno melalui keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com.

Matematika yang kerap menjadi momok menjadi siswa bisa diubah jadi materi belajar yang menyenangkan, literasi yang sulit dicapai dari berbagai tes, ternyata bisa ditingkatkan dengan cara-cara yang bisa dimunculkan guru bersangkutan.

Sementara tu, Direktur Program Inovasi Mark Heyward mengungkapkan, dirinya beserta tim sangat bangga melihat hasil-hasil yang positif dan sangat menggembirakan. Salah satu hasil yang sangat membanggakan contohnya adalah meningkatkan kemampuan literasi bagi kelompok siswa kelas rendah.

Di Nusa Tenggara Timut (NTT) misalnya, data Inovasi menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa meningkat dari 22 persen menjadi 53 persen. Pada angka hasil belajar siswa, kegiatan kemitraan juga telah berhasil memperkecil jarak antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa lainnya, yang tadinya 17 persen menjadi 4 persen.

“Hasil-hasil ini memberikan inspirasi bagi saya, dan saya kira bagi kita semua,” terang Mark.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud Iwan Syahril juga turu mengapresiasai keberhasilan program ini. Ia mengatakan bahwa Kemendikbud menginginkan adanya ekosistem yang kuat sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan.

“Arahan dari Presiden adalah kita harus kerja keras, kerja cepat, kerja produktif, tapi jangan lupa fokusnya adalah outcome. Outcome tersebut Mas Menteri terjemahkan sebagai hasil belajar murid. Kita masih perlu kerja keras yang lebih fokus lagi, dan visi Merdeka Belajar adalah visi yang fokus kepada murid,” ujar Iwan.

Sejak 2018, Inovasi bersama 21 kemitraannya yang terdiri atas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK), NGO (Organisasi Non-Pemerintah), dan institusi lainnya berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memajukan pendidikan dan meningkatkan hasil belajar siswa-siswa di Indonesia, khususnya di empat provinsi mitra, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur dan Kalimantan Utara. (ril/bai)